Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Puluhan Kasus DBD Serang Kanigoro Blitar, Dinkes Kabupaten Blitar: Ini yang Tertinggi

Akhmad Nur Khoiri • Selasa, 28 Oktober 2025 | 18:00 WIB

CEPAT: Genangan air menjadi salah satu media bagi nyamuk Aedes aegypti untuk berkembang biak.
CEPAT: Genangan air menjadi salah satu media bagi nyamuk Aedes aegypti untuk berkembang biak.
 

 

BLITAR – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar mencatat sebanyak 512 kasus demam berdarah dengue (DBD) telah terjadi hingga September 2025. Data terbaru menunjukkan, persebaran kasus terbanyak berada di wilayah tengah Kabupaten Blitar, terutama di Kecamatan Kanigoro, Garum, Kademangan, Binangun, dan Wlingi.

Dari jumlah tersebut, diketahui terdapat 5 orang meninggal dunia akibat DBD. Kasus DBD di Kabupaten Blitar hingga September 2025 tercatat sebanyak 512 kasus dengan lima pasien meninggal dunia.

Berdasarkan laporan dinkes, Kecamatan Kanigoro menempati posisi tertinggi dengan 83 kasus, disusul Kecamatan Garum dengan 63 kasus dengan 1 orang  meninggal dunia, Kecamatan Kademangan dengan 60 kasus, Kecamatan Binangun dengan 60 kasus, dan Kecamatan Wlingi dengan 53 kasus dengan 1 orang meninggal dunia.

Wilayah lain yang juga mencatat angka cukup tinggi adalah Kecamatan Sutojayan dengan 26 kasus, Kecamatan Kesamben dengan 27 kasus, dan Kecamatan Panggungrejo dengan 21 kasus dengan 1 pasien meninggal dunia. Sementara itu, Kecamatan Talun mencatat 15 kasus dengan dua pasien meninggal dunia, menjadikannya wilayah dengan angka kematian tertinggi.

Sejumlah kecamatan lain seperti Ponggok (Puskesmas Bacem), Kecamatan Doko, dan Kecamatan Wonodadi hanya melaporkan tiga kasus. “Adapun Kecamatan Gandusari, wilayah Puskesmas Slumbung menjadi satu-satunya kecamatan yang nihil kasus DBD hingga September,” kata dr Christine Indrawati, kepala Dinkes Kabupaten Blitar.

Jika dilihat dari sebaran usia, kelompok 15–45 tahun menjadi yang paling banyak terdampak, yakni 43 persen, disusul kelompok anak usia 5–14 tahun sebanyak 37 persen. Sisanya, 1–4 tahun sebanyak 9 persen, usia lebih dari 44 tahun mencapai 9 persen dan bayi berusia kurang dari 1 tahun sebanyak 2 persen. Dari sisi waktu, kasus tertinggi terjadi pada Januari dengan 215 kasus, menurun drastis hingga 20 kasus pada Juni dan Juli, lalu sedikit meningkat di September dengan 26 kasus.

Christine menjelaskan, wilayah padat penduduk dengan curah hujan tinggi cenderung menjadi lokasi dengan kasus tertinggi. Pihak Dinkes Kabupaten Blitar juga mengimbau masyarakat agar rutin melakukan 3M Plus, menguras, menutup, dan mengubur tempat penampungan air, sebagai upaya pencegahan dini agar kasus DBD tidak kembali melonjak pada akhir tahun.

“Kami terus melakukan pengendalian vektor melalui Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik, penyelidikan epidemiologi di setiap kasus, serta edukasi ke masyarakat,” ujarnya. (kho/ynu) (*)

PLN NP UP Brantas meraih Penghargaan Ketaatan Pelaporan Pelaksanaan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup di Lestari Award 2025.
PLN NP UP Brantas meraih Penghargaan Ketaatan Pelaporan Pelaksanaan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup di Lestari Award 2025.
Editor : M. Subchan Abdullah
#kasus demam berdarah dengue #kasus terbanyak #Kabupaten Blitar #dinas kesehatan #meninggal dunia