Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Antusiasme Anak Muda Blitar Lestarikan Budaya Tiban, Begini Kata Mereka

Rahma Nur Anisa • Rabu, 29 Oktober 2025 | 22:20 WIB
JAILAK: Peserta tiban mengucap kata “Jailak” sambil melecutkan sabetan. Tanda sabetannya mengenai lawan.
JAILAK: Peserta tiban mengucap kata “Jailak” sambil melecutkan sabetan. Tanda sabetannya mengenai lawan.

BLITAR KAWENTAR - Generasi muda berbondong-bondong ikut paguyuban tiban, menggeser dominasi generasi tua yang selama ini menjadi pemain utama. Saat ini tercatat 20 paguyuban aktif di Blitar dengan jangkauan hingga Tulungagung dan Trenggalek. Mengubah wajah tiban dari ritual musiman menjadi ajang silaturahmi lintas wilayah yang didukung masyarakat.

Meski menuntut fisik prima dan mental baja karena harus menahan sakit pecutan, antusiasme masyarakat tetap tinggi. Terutama para pemuda yang mencerminkan semangat Sumpah Pemuda dalam melestarikan budaya lokal di tengah arus globalisasi.

Ketua Paguyuban Tiban Sawentar, Fachkurrohman, sekaligus Wakil Ketua Paguyuban Blitar Raya, mengaku terkejut dengan antusiasme anak muda.

"Yang masuk paguyuban dulunya kebanyakan orang tua. Sekarang banyak anak muda turut tampil, ikut unjuk gigi memamerkan kemampuan bela diri," katanya.

Pria yang akrab disapa Rohman ini mewarisi kecintaan pada tiban dari nenek moyangnya. Hampir segenap keluarganya memiliki bekas sabetan di bagian tubuh. Keluarga Rohman sendiri memiliki tradisi panjang dalam tiban.

Tak dapat dipungkiri, kebudayaan ini telah mandarah daging dalam keluarga Pak Rohman. Saudara-saudaranya juga aktif bermain, melanjutkan tradisi yang mengalir dari generasi ke generasi.

Dia mencatat, sejak 2018, paguyubannya rutin tampil di karnaval hingga acara hajatan warga. Pemerintah desa setempat juga memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan pelestarian budaya ini.

“Itu yang rutin terstuktur, sebelumnya juga banyak penampilan tiban,” ungkapnya.

Data dari Paguyuban Blitar Raya menunjukkan di Blitar terdapat sekitar 20 paguyuban tiban yang aktif. Jangkauan kegiatan mereka meluas hingga Kabupaten Tulungagung dan Trenggalek, menciptakan jejaring komunitas pecinta tiban se-Jawa Timur.

Setiap pergelaran mempertemukan jago tiban dari berbagai kota. Meski bertanding dengan pukulan rotan yang keras, persahabatan tetap terjaga di luar arena. Paguyuban tiban membuka pintu bagi siapa saja yang berminat.

Namun untuk anak di bawah umur tidak disarankan. Sebab, tiban ini selain membutuhkan fisik yang kuat juga butuh mental baja. "Tiban mengajarkan ketahanan, keberanian, dan solidaritas. Setiap luka adalah pelajaran," katanya.

Baca Juga: Terindikasi Akses Judol hingga Pinjol, Puluhan Warga Kabupaten Blitar Terancam Dicoret dari KPM Bansos

"Di atas panggung adalah lawan, di bawah tetap kawan. Tiban benar-benar mengangkat persaudaraan di kesenian," ujar Rohman, menjelaskan filosofi yang dipegang. Meskipun saling serang, itu bukan berarti kebencian dan dendam tumbuh dalam diri pemain.

"Kalau sakit, iya, tapi kalau sudah senang ya sakit itu tidak lagi terasa," ungkap Rohman sembari memperlihatkan luka di lengannya. Baginya, tiban merupakan ajang mengetes mental, pertanda kedewasaan, dan keberanian seseorang.

Meski menyakitkan, tiban tetap diminati karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Setiap pertandingan menjadi kesempatan membangun mental tangguh dan mempererat persaudaraan. Tiban bukan sekadar aksi kekerasan.

Setiap cambukan dan darah yang menetes adalah bentuk dari kesungguhan, pengorbanan, dan rasa ikhlas yang menjadi wujud dari harapan. Nilai-nilai kemanusiaan pun tetap terjaga dengan saling berjabat tangan usai tradisi diselenggarakan tanpa adanya dendam pribadi.

Apalagi di momen Sumpah Pemuda ini, para pemuda turut andil dalam melestarikan tradisi lokal. Rohman optimistis masa depan tiban cerah.

"Ke depannya pasti tetap ada tiban, bakal tambah banyak peminatnya karena hubungan antarpaguyuban bagus. Ada penerusnya, pengganti yang muda-muda," katanya.

Di Sawentar, jago-jago baru terus bermunculan. Regenerasi berjalan baik, memastikan tradisi tidak mati di tangan generasi tua. Rohman menegaskan, tujuan paguyuban sangat jelas melestarikan budaya dan memperkuat silaturahmi.

Lebih dari itu, tiban menjadi sarana pendidikan karakter bagi generasi muda.

Fenomena kebangkitan tiban di Blitar menunjukkan bahwa tradisi tidak selalu kalah dengan modernisasi. Dengan dukungan generasi muda, warisan budaya lokal justru menemukan momentum baru untuk terus hidup dan berkembang. (*/c1/ady)

Editor : M. Subchan Abdullah
#generasi muda #budaya #Paguyuban #anak muda #blitar #sawentar #tradisi tiban #kanigoro #nenek moyang