BLITAR – Suasana khidmat menyelimuti kompleks Museum dan Makam Bung Karno, Kota Blitar, Sabtu (31/10). Ratusan kader, akademisi, serta perwakilan dari berbagai negara Asia dan Afrika berkumpul dalam peringatan 70 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA).
Acara bersejarah ini dihadiri langsung oleh Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, didampingi Anggota Komisi II DPR RI, Romy Soekarno. Momen tersebut menjadi ajang refleksi kebangsaan, mengenang gagasan besar Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, yang menggagas Konferensi Asia Afrika tahun 1955 di Bandung.
Konferensi itu menjadi tonggak sejarah perlawanan bangsa-bangsa Asia dan Afrika terhadap imperialisme. Dalam peringatan kali ini, semangat “solidaritas, kemerdekaan, dan keadilan dunia” kembali digaungkan dari tanah kelahiran perjuangan Bung Karno.
Dalam sambutannya, Megawati Soekarnoputri menegaskan bahwa Bung Karno tidak hanya dikenang sebagai pemimpin politik, tetapi juga sebagai pemerdeka pikiran bangsa. Ia menuturkan kembali masa muda Bung Karno di Blitar masa yang menjadi fondasi karakter nasionalismenya.
“Bung Karno adalah pemimpin yang tidak hanya memerdekakan bangsanya secara politik, tetapi juga memerdekakan cara berpikir rakyatnya. Di Blitar inilah semangat itu tumbuh dan mengakar,” ujar Megawati dengan suara bergetar.
Megawati juga mengajak seluruh kader dan kepala daerah PDI Perjuangan untuk meneladani nilai-nilai perjuangan Bung Karno yang berpihak pada rakyat kecil. Menurutnya, kemerdekaan sejati hanya akan berarti apabila diisi dengan kerja keras dan pengabdian bagi kesejahteraan rakyat.
Sementara itu, Romy Soekarno, cucu Bung Karno yang kini menjabat sebagai Anggota Komisi II DPR RI, menuturkan bahwa Blitar memiliki makna historis sekaligus emosional baginya dan keluarga besar Soekarno.
“Blitar adalah rumah bagi saya—rumah yang mengajarkan arti nasionalisme dan perjuangan Bung Karno. Di tanah ini, nilai-nilai kebangsaan tidak sekadar dikenang, tetapi hidup dalam keseharian masyarakatnya,” ungkap Romy.
Ia berharap semangat Bung Karno yang tumbuh di Blitar terus menyala di hati masyarakat, terutama generasi muda. Semangat itu, kata Romy, harus menjadi bahan bakar moral dalam membangun bangsa yang berdaulat dan berkeadilan.
“Saya berharap Blitar akan terus maju, terpercaya, dan sejahtera dengan semangat nasionalisme Bung Karno yang tak pernah padam,” tambahnya.
Peringatan tujuh dekade KAA di Blitar ini juga dihadiri sejumlah akademisi dari 30 negara yang ikut serta dalam seminar internasional bertema “Dekolonialisasi dan Perdamaian Dunia”. Agenda itu menjadi bentuk penghormatan terhadap peran Bung Karno dalam membangun solidaritas global berbasis kemanusiaan.
Semangat anti-penjajahan dan kemandirian bangsa yang digaungkan dalam KAA 1955 disebut tetap relevan hingga kini. Di tengah ketegangan geopolitik dunia modern, nilai-nilai yang digagas Bung Karno seperti hidup berdampingan secara damai dan menghormati kedaulatan bangsa lain dinilai semakin dibutuhkan.
Melalui peringatan ini, PDI Perjuangan menegaskan kembali komitmennya untuk melanjutkan perjuangan ideologis Bung Karno. Partai berlambang banteng moncong putih itu ingin memastikan semangat dekolonialisasi tidak berhenti pada sejarah, melainkan menjadi kekuatan hidup dalam menghadapi tantangan global saat ini.
“Peringatan 70 Tahun KAA bukan sekadar seremoni. Ini adalah pengingat bahwa Indonesia punya peran besar dalam membangun tata dunia yang adil dan beradab,” ujar Romy Soekarno menutup wawancara.
Editor : Fajar Rahmad Ali Wardana