BLITAR KAWENTAR - Kelurahan Plosokerep dikenal dengan produk opak gambirnya. Dian Kartikawati adalah salah satu produsen opak gambir yang masih bertahan dan tetap menjaga resep secara turun-temurun.
Di tengah perubahan zaman, dia terus mengembangkan produknya agar tetap diminati.
Di sebuah rumah sederhana di Jalan Kemuning Nomor 18, Kelurahan Plosokerep, Kecamatan Sananwetan, aroma manis khas opak gambir menyeruak dari tungku pemanggang.
Dari sanalah, Dian Kartikawati memimpin usaha rumahan yang kini dikenal dengan nama Opak Gambir Wijaya Kusuma. Sebuah merek lokal yang lahir dari kegigihan, keikhlasan, dan semangat inovasi tanpa henti.
Perjalanan usaha ini dimulai pada awal 2012, di tengah kondisi yang serba “kepepet”. Kala itu, Plosokerep dikenal sebagai sentra perajin opak gambir.
Hampir setiap rumah memproduksi camilan tradisional berbahan dasar tepung beras dan santan tersebut.
“Saya awalnya hanya ikut-ikutan ibu mertua. Saat menjelang puasa, banyak perajin kewalahan memenuhi pesanan. Dari situ, saya terpikir untuk ikut mencoba,” kenang Dian.
Dengan restu sang mertua yang menjadi penjaga resep turun-temurun, Dian mulai membuat opak gambir bersama suaminya. Sang suami bertugas mencetak, sementara ia berinovasi pada rasa.
Hasilnya diuji coba ke teman dan keluarga. Tak disangka, respons pasar positif datang dari berbagai kalangan.
Dian bukan pendatang baru di dunia wirausaha. Sebelum menggeluti opak gambir, ia sempat sukses beternak bebek dan mengelola bisnis tanaman hias.
Baca Juga: BSU 2025 Cair Juni, Besarannya Lebih Kecil dari Era Jokowi: Ini Syarat dan Mekanismenya
Namun, perjalanan tak selalu mulus. Ia pernah kehilangan seluruh modal akibat ditipu rekan bisnis. “Kami sempat jatuh, tapi tidak menyerah. Dari kegagalan itu, saya belajar bahwa rezeki harus dijemput dengan sabar dan ikhlas,” tuturnya.
Kini, Opak Gambir Wijaya Kusuma tumbuh pesat. Dari hanya mempekerjakan satu karyawan di tahun pertama, kini ia memiliki 15 pekerja, terdiri atas 10 pegawai tetap dan 5 tenaga lepas.
Produksinya pun meningkat pesat: jenis premium bisa mencapai 75 kilogram per hari, sedangkan varian menengah dan Gambir Ria mencapai hingga 1 ton per hari berkat dukungan mitra perajin di sekitar Blitar Raya.
Keberhasilan ini tak lepas dari keberanian Dian berinovasi. Di tengah gempuran camilan modern, ia mengemas ulang opak gambir agar disukai generasi muda.
“Kami ubah dari rasa dan kemasan. Dulu hanya ada rasa jahe, wijen, dan cokelat. Sekarang ada varian buah seperti nangka dan tampilannya lebih kekinian. Gambir Ria ini justru jadi favorit anak muda,” terangnya.
Ke depan, Dian memiliki mimpi besar. Ia tengah merintis wisata edukasi opak gambir agar masyarakat bisa belajar langsung tentang proses pembuatan sekaligus nilai-nilai kerja keras di baliknya.
“Saya ingin usaha ini bukan hanya tempat produksi, tapi juga tempat belajar. Siapa pun boleh datang, belajar bareng, berbagi pengalaman,” kata ibu satu anak ini.
Dengan semangat menjaga resep warisan dan terus berinovasi, Dian Kartikawati membuktikan bahwa tradisi bukanlah hal yang kuno, selama dijalankan dengan hati dan disesuaikan dengan zaman.
“Saya ingin suatu saat Opak Gambir Wijaya Kusuma menjadi produsen terbesar di Jawa Timur,” harapnya. (*/c1/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah