Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

⁠Lebih Dekat dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam asli Blitar yang Sigap Dampingi Sejawat Terjerat Kasus Hukum Mal Praktik

Fajar Rahmad Ali Wardana • Jumat, 7 November 2025 | 20:30 WIB

Sosok dr Dedi Ismiranto, Ketua IDI yang Bukan Dokter Biasa Kini Semakin Getol Membela Sejawat Tersandung Mal Praktik
Sosok dr Dedi Ismiranto, Ketua IDI yang Bukan Dokter Biasa Kini Semakin Getol Membela Sejawat Tersandung Mal Praktik

BLITAR - dr Dedi Ismiranto menyimpan semangat yang tak biasa. Dokter spesialis penyakit dalam ini bukan hanya dikenal karena dedikasinya terhadap pasien, melainkan juga karena kiprahnya dalam memperjuangkan nasib rekan sejawat melalui jalur hukum.

Kini, dia dipercaya sebagai Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Blitar periode 2022–2025 sekaligus seorang advokat yang aktif mendampingi tenaga kesehatan di berbagai daerah di Jawa Timur.

“Awalnya saya hanya ingin membantu sejawat yang takut ketika berhadapan dengan hukum,” ujarnya mengawali kisah.

Dia masih ingat saat pertama kali seorang rekan dokter dipanggil polisi atas dugaan malpraktik. “Padahal saya tahu persis, kasusnya tidak salah. Tapi karena ketakutan duluan, akhirnya bingung sendiri menghadapi proses hukum,” kenangnya.

Pengalaman itu menjadi titik balik. Dedi merasa dokter membutuhkan pelindung yang memahami dunia medis sekaligus hukum. Dari situlah, tekadnya tumbuh. Dia menempuh studi hukum di Universitas Islam Balitar (Unisba) pada 2016, kemudian melanjutkan magister hukum di Universitas Islam Malang, dan kini tengah menempuh program doktoral di UIN Tulungagung. “Saya ingin ilmunya sampai mentok,” ujarnya tersenyum.

Lewat lembaga bantuan hukum yang dikelolanya, dr Dedi aktif mendampingi berbagai kasus hukum tenaga kesehatan mulai dari Blitar hingga Madura, Bondowoso, Sidoarjo, bahkan Surabaya. “Kasus dugaan malpraktik meningkat karena masyarakat makin melek hukum. Kadang mereka mudah menuduh tanpa memahami proses medis,” jelasnya.

Namun, dia menegaskan tidak ada dokter yang berniat mencelakai pasien. “Dokter tidak bisa menjamin kesembuhan. Tugas kami berusaha sebaik mungkin. Hasilnya tetap takdir,” ujarnya.
Bagi Dedi, kunci utama hubungan dokter-pasien adalah komunikasi. “Kalau komunikasi baik, insya Allah tidak ada masalah,” tegasnya. Dia juga menilai edukasi publik penting agar masyarakat memahami batas tanggung jawab medis dan tidak mudah menghakimi.

Sebagai Ketua IDI Kabupaten Blitar, dr Dedi juga dikenal aktif menggerakkan kegiatan sosial. Di bawah kepemimpinannya, IDI kerap melakukan bakti sosial, kolaborasi bedah rumah bersama Kodim 0808 Blitar, bantuan ke panti jompo, penanganan stunting bersama Perhutani, hingga aksi kemanusiaan saat bencana. “IDI itu bukan hanya soal profesi medis, tapi juga panggilan kemanusiaan,” ungkapnya.

Selain itu, jumlah dokter spesialis juga masih sedikit karena biaya pendidikan yang tinggi. “Satu semester bisa puluhan juta, bahkan ratusan juta di universitas swasta. Tapi pengorbanan itu sepadan dengan kebahagiaan ketika pasien sembuh,” katanya.

Menariknya, dua anak Dedi kini mengikuti jejaknya: satu menjadi dokter, satunya sarjana hukum. “Saya punya klinik, jadi biar mereka bisa melanjutkan. Ada yang di jalur medis, ada yang hukum. Semua demi keberlanjutan pelayanan untuk masyarakat,” tuturnya.

Meski menyandang dua profesi yang sama-sama berat, Dedi menolak disebut sibuk luar biasa.

“Kalau dijalani dengan ikhlas dan senang, semuanya terasa ringan,” ucapnya.
Dia bahkan menyebut profesi dokter sebagai ladang pahala. “Kalau pasien sembuh dan berterima kasih, itu nilai yang tak bisa diukur dengan uang,” akunya. (*/c1/ady) (*)

Photo
Photo
Editor : M. Subchan Abdullah
#blitar #lebih dekat #dokter #Spesialis Penyakit Dalam