Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Perahu Tambangan Masih Jadi Favorit Pengendara di Blitar untuk Sebrangi Sungai Brantas

Akhmad Nur Khoiri • Senin, 10 November 2025 | 20:45 WIB
‎EKSIS: Keberadaan layanan penyeberangan Dermaga Brantas penghubung Blitar-Tulungagung masih tetap digunakan pengendara.
‎EKSIS: Keberadaan layanan penyeberangan Dermaga Brantas penghubung Blitar-Tulungagung masih tetap digunakan pengendara.

BLITAR – Jumlah titik penyeberangan perahu di Sungai Brantas yang beroperasi di Kabupaten Blitar terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Blitar, saat ini hanya tersisa 13 titik penyeberangan aktif yang tersebar di sejumlah kecamatan.

‎Kepala Bidang Angkutan Dishub Kabupaten Blitar, Anik Yuanawati menjelaskan, titik penyeberangan tersebut terbagi di beberapa wilayah. Hingga saat ini, ada 13 titik penyeberangan Dermaga Brantas di Kabupaten Blitar. ‎Dari 13 titik penyeberangan, diketahui tersebar pada tiga kecamatan yang ada di Kabupaten Blitar.

“Satu di Desa Bendosari, Kecamatan Sanankulon. Dua di Desa Selokajang, Kecamatan Srengat. Empat di Desa Purwokerto, Kecamatan Srengat. Dua di Desa Karanggayam, Kecamatan Srengat. Tiga di Desa Kunir, Kecamatan Wonodadi. Dan satu di Desa Gandekan, Kecamatan Wonodadi,” paparnya.

‎Berdasarkan data yang dihimpun oleh Radar Penataran, jumlah tersebut menurun dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Pada tahun 2019 hingga 2021, ada 16 titik penyeberangan. ‎Lalu, pada 2022 berkurang menjadi 14 titik. Angka tersebut kemudian kembali mengalami penyusutan hingga tersisa 13 titik pada 2024 sampai sekarang.

‎Sementara itu, saat ini sudah tersedia jembatan di wilayah timur dan barat Kabupaten Blitar yang kini menjadi akses utama penghubung menuju Kabupaten Tulungagung.

Namun, meskipun jembatan sudah tersedia, dermaga penyeberangan Brantas tetap ramai digunakan oleh warga, terutama oleh para pengendara roda dua.

‎Salah satu pengguna jasa penyeberangan, Muhammad Rifai mengatakan, keberadaan dermaga masih dibutuhkan masyarakat karena alasan efisiensi waktu. “Kalau lewat jembatan, jalannya muter jauh. Kalau naik perahu cuma beberapa menit sudah nyebrang,” ujarnya saat ditemui di sekitar dermaga Kunir.

‎Rifai mengakui, meskipun harus menunggu giliran perahu atau menyesuaikan jam operasional, banyak warga tetap memilih jalur penyeberangan karena dianggap lebih cepat dan praktis. “Biasanya saya pilih lewat sini kalau buru-buru. Lebih cepat dan biayanya juga tidak mahal,” tutupnya. (kho/c1/ynu) (*)

Editor : M. Subchan Abdullah
#dinas perhubungan #Kabupaten Blitar #sungai brantas #penyeberangan perahu #13 titik penyeberangan aktif #penurunan