BLITAR KAWENTAR - Mei Efendi atau kerap dikenal sebagai Fendi, merupakan sosok dalang yang memilih jalan tak biasa. Berbeda dengan kebanyakan dalang yang mewarisi keahlian turun-temurun, pria yang tinggal di Desa Ngadirenggo, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar ini belajar dari nol. Tanpa darah seniman, membuktikan cinta seni bisa mengalahkan keterbatasan.
Bermula dari ajakan bapaknya yang gandrung dengan pertunjukan wayang, kini Fendi menekuni kesibukannya sebagai dalang.
Perjalanan Fendi menuju panggung wayang bukanlah jalan yang mulus. Ketika duduk di kelas 6 SD, mulai belajar karawitan di sebuah sanggar.
Ketertarikan itu berlanjut hingga SMP, di mana ia mulai mengenali tokoh-tokoh wayang melalui buku Mahabharata dan Ramayana.
Barulah setelah lulus SMP, ia memberanikan diri mempelajari dunia pedalangan secara serius.
“Saya dulu sering dibuatkan wayang dari kardus sama bapak saya. Saat teman-teman lainnya bermain dengan mainan yang sedang tren, saya sibuk dengan wayang kardus,” ungkapnya.
Mbah Dahono dari Sendung Wlingi menjadi guru pertamanya. Dari sang guru, Fendi belajar sulukan atau nyanyian khas dalang yang menjadi roh dari setiap pertunjukan.
Sementara untuk sabet atau teknik menggerakkan wayang, ia belajar secara otodidak dengan mengamati setiap gerakan dalang saat menonton pagelaran.
"Yang sulit di pedalangan itu mendalami atau mempelajari tentang sastranya, karena tidak begitu familiar," ungkapnya.
Namun Fendi tak menyerah, mencari referensi sendiri, bertanya pada teman yang lebih paham, dan lewat berbagai diskusi dengan senior dalang.
"Wayang adalah sebagai bayangan kita sendiri, wayang satu kotak itu berbagai ragam karakter maka kita sebagai dalang tetap mencintai wayangnya walaupun wayang itu ada tokoh yang antagonis atau buruk perilakunya," akunya.
Namun di tengah kecintaannya pada wayang, Fendi menyadari tantangan besar yang menghadang.
Era digital telah mengubah lanskap kesenian tradisional.
"Tantangannya banyak, digempur era yang saat ini, jadi pertunjukan wayang jika tidak ingin ketinggalan juga harus mengikuti arus jaman dan tidak kolot," akunya dengan jujur.
Ia menyaksikan bagaimana minat penonton, terutama kalangan muda, lebih condong pada aspek hiburan ketimbang nilai filosofis.
"Sebagai dalang juga tidak gampang, selain menghibur kita juga harus bisa menyampaikan nilai-nilai ajaran yang gamblang ke penonton supaya penonton sendiri juga membawa bekal makna hidup setelah menikmati pertunjukan," jelasnya.
Upaya Fendi menunjukkan bahwa pelestarian tradisi tak harus kaku dan konservatif.
Ia membuktikan bahwa inovasi dan tradisi bisa berjalan beriringan, bahwa wayang bisa tetap relevan tanpa kehilangan esensinya.
“Saya berharap di era yang serba maju ini, jangan pernah meninggalkan adat dan seni tradisi,” pungkasnya. (*/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah