BLITAR KAWENTAR – Di tengah hamparan sawah dan bukit kecil di selatan Blitar, tepatnya di Desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan, berdiri sebuah punden tua yang hingga kini masih dijaga dengan penuh hormat oleh warga.
Di tempat inilah, menurut kisah turun-temurun dan penelitian para peneliti lokal, jejak para babat alas tersimpan. Mereka diyakini sebagai pendiri Desa Plosorejo dan penjaga spiritual tanah yang kini menjadi tempat hidup ratusan keluarga.
Kisah ini bukan sekadar cerita rakyat. Penelitian yang dilakukan oleh Rinda Anisatul Laila dan Hasim Supratman mencatat bahwa asal-usul Plosorejo erat berkaitan dengan empat tokoh besar: Raden Mar Sidik, Mbah Gunandiko, Mbah Wonosuro, dan Mbah Conomo.
Keempatnya dianggap sebagai pembuka hutan dan pendiri tatanan awal kehidupan di wilayah itu. Hingga kini, nama mereka masih disebut dalam doa dan ritual adat warga Plosorejo.
Cerita bermula dari sosok Mbah Gunandiko, seorang peladang yang hendak membuka lahan di tengah rimba.
Saat itu, ia menemukan sebatang pohon besar yang tak bisa ditebang dengan alat apa pun. Kayu itu seolah hidup—setiap kali ditebas, luka di batangnya menutup kembali.
Dalam keadaan bingung, Mbah Gunandiko melakukan semedi dan mendapat petunjuk untuk memanggil seseorang bernama Raden Mar Sidik dari Mataram.
Raden Mar Sidik datang dengan membawa pusaka bernama Kuditrantan—sebatang pedang bertuah yang disebut hanya bisa dipegang oleh orang yang suci batinnya.
Dengan pusaka itu, ia menebas pohon besar tersebut. Ajaibnya, pohon langsung tumbang ke arah utara, dan dari bekas tebangan itu muncul api besar yang menjalar hingga ke Dukuh Mbrintikan Mojo, wilayah yang kini masuk Desa Minggirsari.
Api itu, menurut para tetua, bukanlah kebakaran biasa. Ia adalah api penyucian tanah, tanda bahwa tempat itu telah “dibersihkan” dan siap menjadi permukiman manusia.
Dari peristiwa itu pula, tanah sekitar dianggap keramat. Di lokasi tersebut kemudian dibangun punden sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah membuka jalan bagi berdirinya Desa Plosorejo.
Kini, punden tempat keempat tokoh itu dimakamkan masih terawat dengan baik. Pohon tua berdiri kokoh di tengah area makam, rindang dan meneduhkan siapa pun yang datang.
Setiap malam Jumat Legi, warga berdatangan untuk berziarah, membawa bunga, dupa, dan sesajen sederhana.
Doa-doa dilantunkan dalam kesunyian malam, menyatu dengan desir angin dan aroma kemenyan yang menembus hening.
Menurut penuturan warga setempat, terutama para sesepuh, roh para pendiri desa masih dipercaya menjaga keseimbangan dan keselamatan masyarakat.
Tak jarang, warga yang hendak memulai usaha, menanam padi, atau menggelar hajatan datang terlebih dahulu ke punden untuk “nyuwun pangestu”.
“Iki dudu klenik, tapi bentuk rasa hormat marang sing wis mbukak dalan,” tutur salah satu juru kunci, yang enggan disebut namanya.
Tradisi ini juga menjadi magnet bagi peneliti dan peziarah spiritual dari luar daerah. Mereka tertarik mempelajari bagaimana sistem kepercayaan lokal bertahan di tengah modernitas.
Di Plosorejo, masyarakat hidup dalam dua dunia: dunia nyata yang bergerak maju, dan dunia batin yang menjaga akar mereka agar tak tercabut dari leluhur.
Lebih dari sekadar peninggalan sejarah, Punden Plosorejo adalah simbol kesetiaan warga terhadap asal-usulnya.
Mereka percaya, keberkahan desa dan hasil panen yang melimpah tak lepas dari restu para pendiri yang telah menempuh jalan panjang di masa lalu.
Kini, di tengah gempuran zaman digital, kisah Raden Mar Sidik dan Mbah Gunandiko menjadi pengingat bahwa kemajuan tanpa akar hanyalah angin yang lewat.
Dari api yang membakar pohon gaib di masa silam, lahirlah desa yang hidup dari keyakinan, bahwa tanah ini bukan sekadar tempat berpijak, melainkan warisan jiwa yang harus dijaga.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.