BLITAR KAWENTAR - Kehidupan di dunia kerap diibaratkan sebagai perjuangan tanpa henti. Setiap manusia, tak peduli status sosialnya, pasti pernah merasakan kerasnya ujian dan cobaan. Namun, di tengah kepahitan tersebut, ulama mengajarkan bahwa selalu ada jalan menuju ketenangan hati.
Dalam salah satu majelisnya, Muhammad Iqdam Kholid atau Gus Iqdam, Pengasuh Pondok Pesantren Sabilu Taubah, memberikan kitajangan mendalam tentang cara menghadapi ujian hidup. Menurut Gus Iqdam, perjuangan untuk mencapai ketenangan batin ini tidak cukup hanya dengan beribadah atau berselawat, tetapi juga harus dilatih dalam setiap tingkah laku keseharian.
Beliau kemudian Merujuk pada prinsip yang disampaikan oleh Syekh Adili Ali tentang Kunci Ketenangan Hidup Gus Iqdam, khususnya saat merasakan seseorang hidup ini sangatlah keras dan cobaan datang bertubi-tubi. Lima prinsip ini, jika diupayakan, diyakini akan membuat hidup terasa lebih ringan dan penuh berkah.
Baca Juga: Rekam Bio Visa CJH 2026 Kabupaten Blitar Ditarget Rampung Ramadhan Tahun
1. Yakin Keputusan Allah Lebih Baik dari Keinginan Kita
Prinsip utama yang pertama adalah Ikhtiarullahi khairun min ikhtiar nafsik . Gus Iqdam mengajak jamaah untuk berkeyakinan penuh bahwa ketetapan Allah jauh lebih baik dari apa yang kita inginkan.
“Yang dikehendaki Gusti Allah itu pasti lebih baik daripada apa yang tak karepne (saya inginkan),” ujar Gus Iqdam.
Ia mencontohkan, ketika hasil panen petani tidak sesuai ekspektasi atau usaha dagang sedang jatuh, janganlah langsung bersuuzan (berprasangka buruk). Siapa tahu, jika hasil panen melimpah dan uang banyak, justru akan menjerumuskan pada kemaksiatan seperti berfoya-foya atau bahkan selingkuh. Dengan hasil yang tidak sesuai harapan, justru Allah menjaganya dari hal-hal yang dapat merusak iman.
2. Di Balik Kepahitan, Pasti Ada Hikmah Menarik
Prinsip kedua adalah Allahu la yuqoddiru syai'an illa lihikmah . Allah tidak menakdirkan sesuatu melainkan ada kebaikan atau hikmah di baliknya.
Gus Iqdam menceritakan pengalaman pribadinya saat awal berdirinya majelis. Ia mengaku berkali-kali ingin membubarkan majelis karena menghadapi berbagai kesulitan, mulai dari mengurus 'garangan' (sebutan untuk anak-anak muda nakal yang ikut ngaji) hingga keruwetan dengan tetangga. Namun, saat kembali pada prinsip ini, ia selalu menemukan kekuatan.
Beliau mencontohkan kasus beasiswa. Seseorang yang sangat ingin kuliah di universitas ternama di Malang, tetapi justru diterima di Blitar. “Siapa tahu kalau kamu di Malang malah ketemu perempuan jahat yang membuat imanmu rusak. Ternyata Allah lebih memilih yang terbaik untukmu,” jelasnya. Hikmah ini seringkali tidak terduga dan baru terlihat di belakangan.
3. Lapangan Hidup Datang dari Arah Tak Terduga
Prinsip ketiga adalah Yatikal farju min haitsu la tahtasib . Yakinlah bahwa kebahagiaan dan kelapangan hidup pasti akan tiba dari arah yang tidak pernah diduga.
Gus Iqdam menekankan pentingnya konsistensi dalam beramal saleh. Teruslah bersemangat bekerja dan bersyukur atas hasilnya, sambil istikamah mengikuti pengajian dan selawat.
Ia kemudian berbagi kisah jamaah yang mengalami musibah kecelakaan setelah pulang majelis. Mobilnya hancur ditabrak ambulans Sabilu Taubah. Namun, alih-alih marah dan menuntut ganti rugi, sang korban justru terharu dan menangis. “Ya Allah, apa ini menjadi perantara aku bisa bertemu Gus Iqdam,” ucap jamaah tersebut. Kisah ini menunjukkan bahwa di tengah musibah, Allah bisa menyembunyikan kenikmatan (hikmah) berupa kelapangan hati dan kesempatan bertemu guru.
4. Jangan Merasa Sendirian
Gus Iqdam mengingatkan bahwa manusia terkadang merasa terpuruk dan kesepian saat diuji. "Kadang yo anyel (kesal) omong opo ke Dam-Dam. Disuruh sabar sama Ustaz yang naik Alpard," selorohnya.
Namun ia mengutip hadis Innallaha ma'ana ( Sesungguhnya Allah bersama kita) dan Idza akballahu 'abdan ibtalaahu (Apabila Allah mencintai seorang hamba, Ia akan mengujinya). Ujian yang datang adalah tanda cinta. Selama kita tetap berikhtiar dan berharap kepada Allah, kita tidak akan pernah sendirian.
5. Hakikat Dunia: Jangan Terlalu Repot Memikirkannya
Prinsip terakhir adalah Jika kamu tahu hakikatnya dunia ini, kamu tidak akan repot-repot mengedit .
Gus Iqdam mengisahkan sosok pendiri Pondok Pesantren Ratu Al-Falah, Mbah Kiai Munif. Beliau memiliki pondok yang bagus dan putra yang banyak, namun hingga akhir hayat, Mbah Kiai Munif tidak pernah membuatkan rumah untuk anak-anaknya. Ketika ditanya, dia menjawab, "Saya pasrahkan kepada Allah."
Sebab, beliau memahami hakikat dunia. Para anak kini ulama menjadi dan tidak ada satu pun yang hidup susah. Gus Iqdam berpesan, dahulukan akhirat, maka dunia akan mengikuti. Jangan terlalu mencemaskan urusan dunia, seperti memikirkan jodoh anak yang baru lahir, hingga lupa beramal dan bersedekah. Pahami Kunci Ketenangan Hidup Gus Iqdam ini agar hati Anda selalu damai. (*)
Editor : Rahma Nur Anisa