BLITAR KAWENTAR - Tak banyak yang tahu, perjalanan hidup Gus Iqdam penuh lika-liku sebelum menjadi sosok pendakwah muda yang dikenal luas. Dalam salah satu pengajiannya yang viral di YouTube, Gus Iqdam menceritakan kisah awal dirinya mondok, perjuangan mencari hidayah, hingga akhirnya bisa menjadi santri yang benar-benar khidmah kepada guru dan mendapat banyak berkah dalam hidup.
Gus Iqdam mengaku bahwa awalnya ia tidak berniat mondok. Ia hanya mengikuti dorongan keluarga dan gurunya, Gus Dalhar, yang menyarankan agar dirinya menempuh pendidikan agama. Bahkan, dengan gaya khasnya yang jujur dan lucu, Gus Iqdam mengaku dulu lebih tertarik pada dunia motor racing ketimbang mengaji.
“Aku niku biyen mikirane mung knalpot, racing, ora ngaji. Tapi kabeh kui dalan sing nggawa aku entuk hidayah,” tutur Gus Iqdam dalam ceramahnya.
Awal Mula Gus Iqdam Mondok
Awalnya, Gus Iqdam hanya mau mondok jika dibelikan motor Satria F oleh ayahnya. Ia bercerita, waktu itu dirinya ingin terlihat gagah dan punya gengsi di depan teman-temannya. Namun takdir berkata lain, ketika ia akhirnya disuruh mondok ke tempat yang sederhana dan jauh dari hiruk-pikuk dunia luar.
“Pondoke sederhana, tapi ono sing penak. Kabeh murah, wong-wonge apik,” kenangnya.
Dalam pondok itu, Gus Iqdam sempat merasa tidak cocok. Ia bahkan sempat berpikir ingin pulang. Namun kemudian, mimpi Gus Dalhar menjadi titik balik. Dalam mimpi itu, Gus Dalhar melihat sosok wali Allah bernama Mbah Munif, yang ternyata menjadi isyarah bahwa Gus Iqdam memang harus mondok di tempat tersebut.
Titik Balik Setelah Meninggalnya Mbah Munif
Setelah tiga tahun mondok, Mbah Munif wafat. Saat itulah Gus Iqdam merasa hatinya terguncang. Ia yang selama ini belum benar-benar serius mengaji mulai sadar bahwa hidup harus dijalani dengan penuh makna.
“Nalika mbah Munif sedo, atiku morat-marit. Aku ngerasa kehilangan lan nyesel,” kata Gus Iqdam sambil menahan haru.
Dari situ, ia mulai berubah total. Ia bertekad untuk mondok lagi dengan niat yang benar, bukan karena paksaan. Bahkan, ia meminta izin kepada ibunya untuk tirakat, berpuasa, dan benar-benar belajar agama dengan sungguh-sungguh.
Baca Juga: Jalan Desa Candirejo di Ponggok Blitar Rusak Parah, Warga Pasang Poster Protes di Sepanjang Jalan
Dari Santri Biasa Jadi Sopir Kiai
Menariknya, Gus Iqdam juga menceritakan keinginannya untuk mengabdi kepada guru. Ia bertekad ingin menjadi sopir Mbah Kiai Din, salah satu putra dari Mbah Jasuli. Namun keinginannya itu belum dikabulkan. Justru takdir membawanya untuk menjadi sopir keluarga Mbah Munif, sang guru yang dulu menjadi jalan hidayahnya.
“Gusti Allah niku luar biasa. Aku kepengin nyupiri Mbah Kiai Din, tapi malah dikon nyupiri putrane Mbah Munif, Gus Pandu,” ungkapnya.
Dari pengalaman itu, Gus Iqdam belajar makna khidmah. Ia menegaskan kepada para santri bahwa kebahagiaan guru adalah sumber keberkahan. Menurutnya, ilmu tidak akan bermanfaat tanpa keridhaan dan doa dari guru.
Pesan Hidup: Jangan Gampang Menghakimi
Di akhir ceramahnya, Gus Iqdam berpesan agar umat Islam tidak mudah menghakimi seseorang dari penampilan. Ia menyinggung fenomena banyak orang mencibir mereka yang bertato atau belum sempurna dalam ibadah.
“Jenenge tato pancen ora oleh, tapi nek kowe nuruti ngono terus, wong malah ra salat kabeh. Islam iku ora angel, ojo dadi wong sing kaku,” ujarnya.
Ia juga menyinggung kasus orang-orang yang terjatuh dalam kesalahan, termasuk sosok Mei yang ia sebut dalam pengajian tersebut. Menurut Gus Iqdam, setiap orang sedang berproses menuju kebaikan.
“Urip iku pilihan, tapi takdir Gusti Allah ora iso ditolak. Wong sing salah wae iso entuk hidayah, sing penting ojo nyerah,” tegasnya.
Perjalanan Spiritual yang Menginspirasi
Kisah Gus Iqdam dari santri nakal hingga menjadi pendakwah ini menjadi inspirasi bagi banyak anak muda. Dari cinta motor racing hingga menjadi sopir kiai, semua dijalaninya dengan rendah hati. Kini, Gus Iqdam dikenal bukan hanya karena gaya ceramahnya yang lucu dan santai, tapi juga karena ketulusannya dalam menyampaikan pesan bahwa hidayah adalah hak semua orang. (*)
Editor : Rahma Nur Anisa