BLITAR KAWENTAR - Inti dari kehidupan manusia adalah mencapai kebahagiaan, baik di dunia maupun akhirat. Namun, tidak semua kebahagiaan itu hakiki. Lantas, bagaimana cara mengenali tanda-tanda kebahagiaan yang sejati saat masih hidup di dunia?
Dalam majelisnya yang selalu dipenuhi jamaah, Pengasuh Pondok Pesantren Sabilu Taubah, Muhammad Iqdam Kholid atau yang akrab disapa Gus Iqdam, membahas secara mendalam tentang indikator keberuntungan di dunia ini. Menurutnya, ulama telah merumuskan empat kunci utama yang menjadi Tanda Kebahagiaan Dunia.
Gus Iqdam memulai dengan mengingatkan para jamaah bahwa tujuan hidup adalah menjadi orang yang beruntung, yakni selamat dari api neraka dan masuk surga. Untuk mencapai keberuntungan di akhirat, harus dimulai dengan meraih tanda-tanda kebahagiaan di dunia, dan yang paling utama adalah urusan pendamping hidup.
Baca Juga: Dirjen Pajak Melayat di Rumah Korban Pembunuhan di Blitar dan Memohon Maaf
Pasangan Salihah, Kunci Nomor Satu
Tanda pertama dan yang paling penting dari kebahagiaan di dunia adalah Antakuna zaujatuhu sholihatan, yaitu mendapatkan pasangan yang salihah bagi laki-laki, atau pasangan yang saleh bagi perempuan.
"Kalau kamu ingin mendapatkan Tanda Kebahagiaan Dunia yang pertama, upayakan cari pasangan yang salihah atau yang saleh kalau bagi orang perempuan," tegas Gus Iqdam.
Beliau menyindir bahwa kecenderungan dalam memilih pasangan seringkali salah arah. Fokus pada fisik semata, seperti kecantikan atau kekayaan, seringkali mengalahkan kualitas spiritual.
"Tendensi kita untuk mengkhitbah atau menikahi seseorang ini bukan masalah cantik atau sehatnya," kata Gus Iqdam, sambil memberikan contoh jenaka tentang pria yang terpesona dengan bentuk tubuh yang "masuk" namun mengabaikan akhlak.
Baca Juga: Misteri Punden Tua di Plosorejo: Jejak Raden Mar Sidik dan Api dari Pohon Gaib yang Melahirkan Desa
Ciri-Ciri Istri Salihah Menurut Rasulullah
Gus Iqdam kemudian memaparkan ciri-ciri spesifik istri salihah berdasarkan hadis Rasulullah SAW yang harus menjadi acuan, bukan sekadar melihat penampilan luar. Ciri tersebut adalah:
1. Idza nadhoro ilaiha sarrot: Bikin Adem Saat Dipandang
Istri salihah adalah istri yang apabila dipandang (suami), ia menyenangkan dan menenteramkan. Gus Iqdam menjelaskan, ini bukan semata tentang wajah yang cantik atau putih, melainkan tentang kenyamanan yang muncul dari hati.
"Maksudnya bukan masalah wajahnya, tapi kenapa setiap disawang (dipandang), diajak ngobrol itu penak (nyaman)," jelas Gus Iqdam. Kenyamanan dan ketenangan batin inilah yang menjadi hakikat kecantikan seorang istri salihah.
2. Wa amarohatu athat: Taat Selama Bukan Maksiat
Istri salihah akan menaati suaminya ketika diperintah. Ketaatan ini menjadi pilar utama dalam rumah tangga. Namun, ketaatan ini tidak bersifat mutlak buta.
"Nalikane diperintah iki kudu manut, selagi perintah niku wau ora maksiat," tegas Gus Iqdam. Beliau menekankan bahwa jika suami memerintahkan hal yang bertentangan dengan syariat, seperti membuka aurat atau melakukan kemaksiatan, maka istri tidak wajib taat. Sebaliknya, jika perintah itu baik, seperti menghormati orang tua atau melaksanakan salat, maka wajib hukumnya untuk dilaksanakan.
3. Wa hafizhatu fi nafsih wa malihi: Menjaga Diri dan Harta
Ciri ketiga adalah kemampuan istri menjaga kehormatan diri dan harta suaminya ketika suami tidak ada di rumah. Artinya, ia bukan hanya menjaga pandangan dan pergaulan, tetapi juga mengelola harta dengan amanah.
Gus Iqdam berkelakar, "Artine ora panggah mek gur klunting shoppee, klunting shoppee sampai omah karek wuwunge tok (sampai rumah tinggal atapnya saja)." Seorang istri salihah akan bertanggung jawab penuh, memastikan rumah tangga berjalan baik dan harta tidak disia-siakan.
Baca Juga: Istri Pegawai KPP Pratama Manokwari asal Blitar Tewas Dibunuh, Keluarga: Dia Dikenal Baik
Fungsi Majelis dan Syafaat Selawat
Lebih lanjut, Gus Iqdam menyinggung bahwa kegiatan majelis, khususnya Majelis Selawat di malam Jumat (Kamis malam Jumat), juga merupakan sarana penting untuk mencapai kebahagiaan hakiki. Sebab, bekal amal manusia seringkali tidak cukup untuk menjamin keselamatan.
"Nek ngandelne amale awake dewe, wis ora nutut (sudah tidak cukup)," ujarnya.
Majelis selawat berfungsi sebagai sarana untuk menanamkan mahabbah (cinta) kepada Rasulullah SAW, yang pada akhirnya akan mendatangkan syafaat. Beliau mengutip hadis, Inna aulanasi bi yaumal qiyamah aksaruhum alayya sholatan (Sesungguhnya orang yang paling utama mendapatkan syafaat Nabi pada hari Kiamat adalah orang yang paling banyak berselawat kepada beliau).
Gus Iqdam meyakinkan bahwa setiap perjuangan yang dilakukan untuk mendekat ke ilmu dan ketaatan akan berbuah kebahagiaan. Jika seseorang mampu meraih empat tanda kebahagiaan dunia ini, terutama memiliki pasangan yang salihah, maka ia adalah orang yang sungguh-sungguh beruntung (faqod faza), karena bekal untuk selamat di akhirat telah ditanamkan sejak dini.(*)
Editor : Rahma Nur Anisa