BLITAR KAWENTAR – Dalam ceramah terbarunya di Desa Minggirsari, Kanigoro, Kabupaten Blitar, ulama muda Gus Iqdam kembali menyampaikan pesan menyejukkan tentang pentingnya mensyukuri nikmat Allah di setiap sisi kehidupan. Dalam kesempatan itu, pengasuh Majelis Ta’lim Mafatihul Jannah tersebut menegaskan bahwa setiap nikmat yang dimiliki manusia sejatinya berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan dari kemampuan atau jabatan semata.
Menurut Gus Iqdam, banyak orang yang hidupnya dikelilingi nikmat, tetapi gagal menyadarinya. “Nikmat yang luar biasa adalah ketika kita sadar bahwa di sekitar kita ada nikmat Allah,” ujarnya. Ia menegaskan, seberuntung-beruntungnya manusia adalah yang mampu menyadari nikmat dan kemudian bersyukur atas karunia tersebut.
“Wabikum min ni’matin faminallah. Segala nikmat yang ada pada kalian semua berasal dari Allah,” tutur Gus Iqdam mengutip Surah An-Nahl ayat 53.
Nikmat Harus Disyukuri dan Dipertanggungjawabkan
Gus Iqdam mencontohkan, setiap bentuk kenikmatan, mulai dari jabatan, keluarga, kesehatan, hingga harta, memiliki tanggung jawab besar. Lurah yang diberi amanah memimpin harus berlaku adil, seorang ayah wajib menjaga keluarganya dari keburukan, dan siapa pun yang diberi ilmu serta suara merdu, harus menggunakannya untuk kebaikan.
“Selamatnya manusia itu tergantung lisannya,” tegas Gus Iqdam. Artinya, kemampuan berbicara bukan hanya sekadar nikmat, tetapi juga amanah yang kelak dimintai pertanggungjawaban.
Makna Syukur yang Sebenarnya
Dalam ceramahnya, Gus Iqdam mengingatkan bahwa syukur bukan sekadar acara tasyakuran atau kumpul ramai-ramai. Lebih dari itu, syukur adalah menyalurkan nikmat untuk ketaatan kepada Allah.
“Syukur itu sarfun ni’am li tha’atillah — menggunakan nikmat untuk taat kepada Allah,” jelasnya.
Ia menegaskan, masyarakat yang baru membangun masjid harus menjadikan momentum itu sebagai wujud rasa syukur. Bukan hanya dengan doa, tetapi juga dengan ikut menjaga, memakmurkan, dan meramaikan masjid.
“Masjid yang dibangun indah, tapi kalau subuh jamaahnya cuma muadzin dan imam, itu tandanya belum benar-benar bersyukur,” sindirnya disambut tawa jamaah.
Bersyukur Menarik Nikmat Baru
Menurut Gus Iqdam, orang yang pandai bersyukur justru akan semakin dilimpahi keberkahan. Ia mengutip petuah ulama, asy-syukru qayyidun lil maujud wa sayyidun lil mafqud — syukur mengikat nikmat yang sudah ada dan menarik nikmat yang belum datang.
Maka dari itu, setiap pembangunan, termasuk berdirinya masjid baru, harus disertai dengan rasa syukur agar Allah menambahkan keberkahan dan mempercepat datangnya rezeki. “Ketika kita mampu bersyukur, semen yang belum datang akan datang, wesi sing rung teko bakal teko,” ujarnya, disambut takbir jamaah.
Nikmat yang Tak Disyukuri Bisa Jadi Musibah
Gus Iqdam mengingatkan bahayanya nikmat yang disalahgunakan. Setiap kenikmatan yang tidak digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah, justru akan menjadi musibah bagi pemiliknya.
“Kullu ni’matin la tuqarribu minallahi fahiya baliyyatun,” katanya tegas. “Setiap nikmat yang tidak digunakan untuk ibadah adalah bencana.”
Ia mencontohkan orang yang diberi harta namun digunakan untuk maksiat, atau diberi kendaraan tetapi dipakai untuk hal sia-sia. Begitu pula dengan rumah mewah yang tidak pernah digunakan untuk kegiatan ibadah seperti yasinan, tahlilan, atau sedekah.
Hindari Iri dan Provokasi Dunia Maya
Di akhir tausiyahnya, Gus Iqdam menyinggung perilaku sebagian orang di era media sosial yang sering membanding-bandingkan nikmat dan mudah terprovokasi oleh unggahan orang lain. Hal itu, katanya, bisa membuat hati sulit bersyukur.
“Jangan ukur nikmat kita dengan nikmat orang lain. Kalau terus membandingkan, kita tidak akan pernah tenang,” ujarnya.
Ia menutup ceramah dengan pesan agar umat Islam senantiasa husnudzon dan tidak mudah percaya terhadap kabar yang belum jelas kebenarannya. “Wala takfu ma laisa laka bihi ilmun — jangan ikuti sesuatu yang kamu tidak punya pengetahuan tentangnya,” kutipnya dari Surah Al-Isra ayat 36.
Dengan gaya khasnya yang santai dan penuh humor, Gus Iqdam berhasil membuat suasana pengajian di Minggirsari terasa hangat dan hidup. Pesannya sederhana: bersyukurlah, karena setiap nikmat dari Allah adalah amanah, bukan sekadar anugerah. (*)
Editor : Rahma Nur Anisa