BLITAR KAWENTAR - Setiap insan mendambakan kebahagiaan sejati dalam hidup. Menurut ulama, kebahagiaan hakiki adalah ketika seseorang berhasil selamat dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga Allah SWT. Namun, tanda-tanda keberuntungan tersebut bisa diraih sejak di dunia.
Dalam majelisnya, Pengasuh Pondok Pesantren Sabilu Taubah, Muhammad Iqdam Kholid atau yang dikenal dengan Gus Iqdam, mengupas tuntas tentang empat Tanda Kebahagiaan Dunia yang harus diupayakan oleh setiap umat. Dari keempat tanda tersebut, Gus Iqdam menempatkan urusan pasangan hidup sebagai kunci nomor satu yang paling utama.
Menurut Gus Iqdam, tanda orang yang beruntung di dunia (berdasarkan hadis Nabi dan tafsir ulama) adalah memiliki pasangan yang salihah bagi laki-laki, atau pasangan yang saleh bagi perempuan. Pilihan pasangan ini adalah fondasi utama untuk membangun keberuntungan di dunia dan akhirat.
Fokus Bukan Hanya Kecantikan Semata
Gus Iqdam menegaskan bahwa tendensi dalam memilih pasangan, khususnya bagi kaum muda, seringkali keliru. Banyak yang terlalu fokus pada aspek fisik—seperti kecantikan, ketampanan, atau kekayaan—dan mengabaikan kualitas spiritual (kesalihan).
"Tendensi kita untuk mengkhitbah atau menikahi seseorang ini bukan masalah cantik atau sehatnya," tegas Gus Iqdam di hadapan ribuan jamaah. Beliau menyindir fenomena di mana fisik yang menawan menjadi satu-satunya pertimbangan, padahal hal itu tidak menjamin kenyamanan batin dalam berumah tangga.
Oleh karena itu, Gus Iqdam lantas membeberkan tiga ciri spesifik yang menandakan seorang perempuan adalah Ciri Istri Salihah Gus Iqdam berdasarkan sabda Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
3 Ciri Utama Istri Salihah Berdasarkan Hadis Nabi
Ketiga ciri ini tidak semata-mata tentang paras, melainkan tentang kualitas interaksi dan tanggung jawab yang ia miliki dalam mengurus rumah tangga.
1. Menenangkan dan Menyenangkan Saat Dipandang (Idza nadhoro ilaiha sarrot)
Ciri pertama dari istri salihah adalah ketika dipandang oleh suaminya, ia memberikan ketenangan, kedamaian, dan rasa senang. Gus Iqdam menjelaskan, hal ini bukan hanya soal rupa yang rupawan.
"Maksudnya bukan masalah wajahnya, lho Pak. Kadang ada orang itu wajahnya ya tidak putih, ya tidak salihah, tapi kenapa kalau disawang (dipandang), diajak ngobrol itu penak (nyaman)," papar Gus Iqdam. Kenyamanan batin yang ditimbulkan ini jauh lebih berharga daripada kecantikan yang justru bisa menimbulkan rasa bosan atau "nyepeti" (menyakitkan mata) seiring waktu.
2. Taat Pada Perintah Suami Selama Tidak Bermaksiat (Wa amarohatu athat)
Seorang istri salihah wajib menaati perintah suaminya. Namun, Gus Iqdam memberikan garis tegas mengenai batasan ketaatan tersebut.
"Nalikane diperintah iki kudu manut (ketika diperintah harus menuruti), selagi perintah itu tadi bukan maksiat," jelasnya. Ketaatan harus dijunjung tinggi dalam perintah-perintah yang baik, seperti menunaikan salat, menjaga akhlak, atau menghormati orang tua. Namun, jika suami memerintahkan hal yang jelas-jelas melanggar syariat, seperti membuka aurat yang seharusnya ditutup, maka istri diperbolehkan untuk menentang perintah tersebut.
3. Menjaga Diri dan Harta Saat Ditinggal Suami (Wa hafizhatu fi nafsihi wa malihi)
Ciri ketiga mencerminkan tanggung jawab dan amanah. Istri salihah mampu menjaga kehormatan diri dan harta suaminya ketika suami sedang tidak ada di rumah.
Hal ini berarti istri harus menjaga diri dari perbuatan yang melanggar norma dan agama, serta menggunakan harta kekayaan rumah tangga dengan bijak. Gus Iqdam berpesan agar istri tidak boros, berkelakar, "Artinya tidak selalu 'klunting Shopee, klunting Shopee' sampai rumah tinggal atapnya saja (karena habis berbelanja)." Istri yang salihah adalah manajer rumah tangga yang menjaga aset dan kehormatan keluarga.
Baca Juga: Bupati Blitar Dorong Kolaborasi Media dan Pegiat Literasi Perkuat Informasi Akurat dan Lawan Hoaks
Majelis Selawat Sebagai Benteng dari Maksiat
Gus Iqdam juga menekankan pentingnya istikamah dalam mengikuti majelis ilmu dan selawat, khususnya Majelis Selawat di malam Jumat (Kamis malam Jumat). Menurutnya, majelis adalah sarana untuk menambal kekurangan amal ibadah harian.
"Nek ngandelne amale awake dewe, wis ora nutut (kalau mengandalkan amal sendiri, sudah tidak cukup). Maksiate karo amale, ya akeh maksiate," akunya. Oleh karena itu, majelis selawat adalah jalan untuk menanamkan rasa cinta (mahabbah) kepada Rasulullah SAW, yang kelak akan mendatangkan syafaat, satu-satunya penolong ketika amal tak mampu menyelamatkan.
Gus Iqdam menutup nasihatnya dengan pesan kuat: teruskan ketaatan dan hadir di majelis mana pun—selagi majelis itu membuat hidup lebih baik, taat kepada Allah bertambah, dan tidak mengajak untuk membenci orang lain. Memiliki Ciri Istri Salihah Gus Iqdam adalah permulaan. Mengisi hidup dengan ketaatan adalah penyempurna kebahagiaan sejati.(*)
Editor : Rahma Nur Anisa