Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Gus Iqdam: Jangan Kebanyakan Mengeluh, Orang yang Tak Bisa Bersyukur Hidupnya Tak Akan Tenang.

Vicky Hernanda • Jumat, 14 November 2025 | 01:50 WIB
Ceramah Gus Iqdam Jangan Kebanyakan Mengeluh
Ceramah Gus Iqdam Jangan Kebanyakan Mengeluh

BLITAR KAWENTAR – Dalam ceramah bertajuk “Ojo Panggah Sambat Wae” atau Jangan Kebanyakan Mengeluh, Gus Iqdam kembali menyentuh hati jamaah dengan pesan mendalam tentang pentingnya bersyukur dalam setiap keadaan. Menurut pengasuh Majelis Ta’lim Mafatihul Jannah Blitar ini, manusia sering kali mengaku bersyukur, namun perilakunya justru menunjukkan sebaliknya.

“Banyak orang bilang Alhamdulillah, tapi hanya di lisan. Hatinya belum benar-benar bersyukur,” ujar Gus Iqdam dalam pengajian yang berlangsung hangat. Ia menegaskan, orang yang tidak bisa bersyukur akan kehilangan ketenangan dan mudah menghalalkan segala cara demi kepentingan pribadi.

Pesan ‘Gus Iqdam Jangan Kebanyakan Mengeluh’ bukan sekadar sindiran, melainkan peringatan agar umat tidak terjebak dalam sikap mengeluh yang berulang. “Susah-susah ngopo wae dewe, kabeh kesusahan bakal berlalu. Bahkan nyawa kita wae bakal berlalu,” ucapnya dengan nada tegas namun penuh humor khas.

Tingkatan Syukur Menurut Imam Al-Ghazali

Dalam pengajiannya, Gus Iqdam mengutip pandangan Imam Al-Ghazali tentang tiga tingkatan syukur yang wajib dipahami setiap muslim.

“Tingkatan pertama, makrifatun nikmah, sadar bahwa semua nikmat yang ada dalam diri dan sekitar kita datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala,” jelasnya. Ia menegaskan, kesadaran ini menjadi dasar dari segala bentuk syukur. Tanpa kesadaran itu, manusia mudah terjebak merasa hebat dan sombong atas hasil usahanya sendiri.

Mengutip firman Allah dalam Surah An-Nahl ayat 53, Gus Iqdam menegaskan: “Wama bikum min ni’matin faminallah” setiap nikmat yang kalian miliki berasal dari Allah. Ia menambahkan penjelasan ulama besar Ibnu Qayyim: “Usaha tidak akan menghasilkan apapun kecuali dengan izin Allah.”

Menurutnya, usaha hanyalah sarana, bukan penentu hasil. “Siang macul buminé Allah, malam macul langité Gusti Allah. Harus seimbang,” ujar Gus Iqdam yang disambut tawa jamaah.

Bahaya Merasa Hebat dan Lupa Asal Nikmat

Lebih lanjut, Gus Iqdam mengingatkan bahaya besar bagi orang yang sukses namun lupa kepada Sang Pemberi nikmat. “Salah satu ujian manusia yang berhasil itu adalah takabur. Merasa hebat karena usahanya sendiri,” katanya.

Dengan gaya ceplas-ceplos yang khas, Gus Iqdam mencontohkan orang yang kerap dipuji karena kemampuan atau suaranya. “Padahal sing ndadekno penak iku Gusti Allah, dudu awake dhewe,” ujarnya sambil tertawa. Menurutnya, pujian bisa menjadi ujian yang berbahaya jika membuat seseorang merasa kehebatan itu berasal dari dirinya sendiri.

Baca Juga: Dirjen Pajak Melayat di Rumah Korban Pembunuhan di Blitar dan Memohon Maaf

Tingkatan Kedua dan Ketiga: Bahagia dan Menggunakan Nikmat di Jalan Allah

Gus Iqdam lalu menjelaskan tingkatan syukur kedua, yaitu merasa bahagia atas nikmat yang diberikan Allah. “Wong sing entuk nikmat tapi ora seneng, kuwi durung bisa syukur,” tuturnya. Ia menegaskan bahwa bahagia atas nikmat termasuk dalam kesempurnaan syukur, sebagaimana disebutkan dalam kitab klasik, Alfarhu bin Ni’mah min Tamami Syukriha.

Adapun tingkatan ketiga, menurut Gus Iqdam, adalah menggunakan nikmat itu untuk perkara yang disenangi oleh Allah. Nikmat seperti harta, kendaraan, bahkan media sosial, seharusnya dipakai untuk kebaikan, bukan maksiat.

“Duwe HP tapi isine foto-foto ora pantes, video ora bener, cacian ning sosmed, berarti durung tekan tingkatan katelu,” katanya menegaskan. Ia menambahkan, “Kalau kamu bisa pakai nikmat untuk mendekatkan diri pada Allah, Gusti Allah bakal nambah nikmatmu.”

Nikmat yang Tak Disyukuri Bisa Jadi Bencana

Mengutip Imam Abu Hazim, Gus Iqdam mengingatkan: “Kullu nikmatin la tuqorribu minallahi fahiya baliyatun” setiap nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah akan berubah menjadi bencana.

Ia menegaskan, musibah bukan selalu bentuk azab, melainkan peringatan agar manusia kembali bersyukur. “Nek wis ora iso syukur, pikirane ruwet, uripe dadi abot,” katanya.

Di akhir ceramahnya, Gus Iqdam kembali menekankan pentingnya mensyukuri apa yang dimiliki. “Ojo ndelok wong sing luwih dhuwur, deloken wong sing luwih ngisor,” pesannya. Ia mengajak jamaah muda agar berhenti mengeluh tentang keadaan dan mulai menikmati proses hidup.

Dengan gaya khasnya yang lucu namun mengena, Gus Iqdam menutup pengajian dengan kalimat sederhana tapi kuat:

“Syukuri sing ana, nikmati sing kowe duwe. Ngeluh ora bakal nambah nikmat, malah ngilangno ketenangan.” (*)

Editor : Rahma Nur Anisa
#gus iqdam #dekengane pusat #bersyukur #Ceramah Gus iqdam #gus iqdam blitar