BLITAR KAWENTAR – Ustaz muda asal Blitar, Gus Iqdam, tampak geram dalam ceramah terbarunya usai dirinya disurati oleh Bawaslu. Dalam video yang kini viral di media sosial, Gus Iqdam menegaskan bahwa isi surat tersebut hanyalah imbauan. Namun ia merasa perlu menegaskan posisinya agar tidak ada pihak yang bermain di belakang rakyat.
“Saya ini disurati Bawaslu. Tapi tolong ya, jangan diperpanjang. Ini cuma himbauan, bukan hukuman,” ujar Gus Iqdam Geram dalam pengajian yang dihadiri ribuan jamaah di Blitar. Ia menyebut, surat itu muncul setelah dirinya menghadiri debat publik yang dihadiri banyak tokoh masyarakat, termasuk Haji Becky dan Bu Luluk.
Menurutnya, apa yang ia lakukan tidak mengandung unsur kampanye atau pelanggaran. “Saya cuma ngaji, cuma ngomong sportif. Wong ini cuma himbauan kok, ojo kok didawak-dawakne,” katanya dengan nada kecewa.
Sorotan ke KPU dan Bawaslu: Minta Sportif dan Netral
Dalam ceramah tersebut, Gus Iqdam Geram menyoroti kinerja penyelenggara pemilu di Blitar. Ia meminta agar KPU dan Bawaslu benar-benar menjalankan tugasnya secara jujur dan adil tanpa berpihak kepada pihak manapun.
“Yang saya himbau itu semua — KPU, Bawaslu, tolong sportif. Jangan main-main sama rakyat. Kualat kalau macem-macem,” tegasnya.
Gus Iqdam menegaskan bahwa dirinya bukan tokoh politik dan tidak mencari keuntungan pribadi. Ia hanya mengingatkan agar proses demokrasi berjalan sesuai aturan. “Saya bukan pengemis anggaran negara. Wong saya ora golek duit kok,” katanya, menepis tudingan bahwa dirinya menunggangi isu politik.
Tak Pernah Ambil Uang Negara, Semua untuk Pondok dan Umat
Lebih lanjut, Gus Iqdam menegaskan bahwa seluruh aktivitas dakwah dan kegiatannya di YouTube tidak untuk memperkaya diri. Ia menyebut hasil dari media sosial digunakan sepenuhnya untuk membiayai pondok dan membantu masyarakat sekitar.
“Dari YouTube, saya tidak ambil untuk diri saya. Saya pakai buat beli alat, gaji anak-anak media, bahkan akan saya wakafkan ke pondok,” ungkapnya.
Rumah pribadinya pun, kata dia, masih sederhana. “Saya belum punya rumah sendiri. Rumah ibu saja masih sederhana, kamar di pondok saya itu tiga kali tiga meter. Jadi jangan macam-macam nuduh saya cari untung,” tegasnya lagi.
Baca Juga: Bupati Blitar Dorong Kolaborasi Media dan Pegiat Literasi Perkuat Informasi Akurat dan Lawan Hoaks
Selain itu, ia menjelaskan bahwa berbagai kegiatan sosial seperti penjualan sarung dan snack bertujuan membantu UMKM dan warga sekitar pondok. “Reseller-reseller saya itu sekarang bisa bangun rumah, bisa makan. Itu bukti dakwah saya untuk kesejahteraan, bukan politik,” ucapnya.
Menolak Fitnah dan Framing Negatif
Meski banyak pihak mencoba memelintir ucapannya, Gus Iqdam memilih untuk tetap tenang. Ia mengatakan sudah terbiasa dicaci dan difitnah. “Silakan mau di-framing kayak apa pun, saya sudah biasa dibenci. Cacian dan bulianmu akan saya sambut dengan bahagia,” tuturnya disambut tepuk tangan jamaah.
Ia juga menyindir pihak yang mudah menuduh tanpa memahami konteks. “Aku iki wong ngurusi umat. Nek ngajine libur, berarti aku ditangkap. Kalau ditangkap, malah bisa istirahat, malah marem aku,” katanya sambil tertawa.
Pesan Rukun dan Sportivitas di Tengah Ketegangan Politik
Menjelang akhir ceramah, Gus Iqdam kembali menekankan pesan rukun, sportif, dan tidak saling menjatuhkan di masa politik seperti sekarang. Ia bahkan memuji tokoh-tokoh perempuan seperti Bu Khofifah, Bu Risma, dan Bu Luluk sebagai sosok tangguh dan inspiratif.
“Beliau-beliau itu perempuan hebat. Punya sejarah luar biasa. Saya pengin kita semua belajar seperti mereka, sinau urip sing bener,” ujarnya.
Menurutnya, masyarakat Blitar harus bisa menjaga kondusivitas daerah dan tidak mudah terprovokasi. “Saya senang kalau semua rukun. Tapi ojo barno titik-titik, ojo digoreng-goreng. Himbauan saya cuma untuk kebaikan, bukan politik,” tegasnya.
Dakwah Tanpa Kepentingan, Murni untuk Umat
Gus Iqdam menegaskan bahwa dirinya tidak pernah memungut uang jamaah untuk kepentingan pribadi. “Aku ora golek duwit jamaah. Yen ono sing nyumbang, yo kanggo masjid, kanggo kegiatan umat,” jelasnya.
Ia menutup ceramah dengan selawat dan doa untuk keselamatan semua pihak. “Yang penting kabeh sehat, uripe barokah. Selawat Nariyah gen sugih dewe. Amin,” katanya disambut gemuruh jamaah.
Dengan gaya khasnya yang santai dan ceplas-ceplos, Gus Iqdam Geram sukses menyampaikan kritik dengan cara menyejukkan — mengajak semua pihak untuk sportif, jujur, dan tetap menjunjung nilai ukhuwah di tengah suasana politik yang memanas. (*)
Editor : Rahma Nur Anisa