BLITAR - Pohon leses yang memiliki nama ilmiah Ficus Albipila menjadi salah satu pohon yang sangat langka di wilayah Kabupaten Blitar.
Dua hari terakhir, para pegiat lingkungan berupaya mengidentifikasi keberadaan pohon berukuran jumbo di kawasan lereng Gunung Kelud, wilayah Kecamatan Gandusari. Hasilnya berhasil diidentifikasi tiga pohon berukuran jumbo yang sangat langka.
Berdasarkan penuturan warga setempat dan identifikasi awal para pegiat lingkungan, diketahui jika keberadaan pohon leses di wilayah Kabupaten Blitar sudah sangat langka. Setidaknya dari penelusuran kemarin diketahui ada tiga pohon leses berukuran jumbo di Desa Ngaringan dan Desa Gadungan.
Pihak Kecamatan Gandusari bakal segera berkoordinasi dengan pihak terkait untuk menjaga kelestarian pohon tersebut.
“Tanaman ini merupakan tanaman yang sangat langka, yang perlu kita lestarikan bersama yang diperkirakan usianya lebih dari 100 tahun. Semoga ada tindak lanjut dari dinas terkait untuk tanaman leses ini,” jelas Camat Gandusari, Yuliatiningsih.
Di Desa Ngaringan, di area yang dikenal masyarakat dengan sebutan Kebun Baruklinting, hasil identifikasi batang utama memiliki diameter sekitar 1,5 meter dengan tinggi mencapai 15 meter.
Kondisi batang bawahnya ada bagian yang lapuk sehingga membutuhkan perhatian lebih agar tetap kuat. Tak hanya itu, di bagian bawah pohon besar ini juga terdapat pohon leses yang masih kecil dengan diameter batang sekitar 4 sentimeter.
Selanjutnya, dari penuturan masyarakat setempat yang biasa beraktivitas di kawasan perkebunan, juga diketahui ada titik lain yang terdapat pohon leses di Desa Gadungan. Pihak kecamatan bersama para pegiat lingkungan segera melanjutkan proses survei dan identifikasi.
Hasilnya di kawasan yang biasa disebut Dongki terdapat dua pohon leses berukuran besar dengan diameter sekitar 90 sentimeter dengan tinggi mencapai 10 meter. Selain itu, ada satu pohon leses berukuran sedang.
“Informasi awal yang kami terima hanya ada satu pohon leses yang ukurannya besar, ternyata ada lagi,” ungkap Budi Satriyo, dari Sahabat Alam Blitar. (ynu/c1) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah