BLITAR – Produksi perikanan tangkap di Kabupaten Blitar dalam empat tahun terakhir menunjukkan fluktuasi tajam yang sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca serta karakteristik nelayan dalam menentukan waktu melaut. Berdasarkan data Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Blitar, produksi perikanan tangkap pada 2022 tercatat sebesar 1.454,30 ton.
Angka ini melonjak drastis pada 2023 hingga mencapai 3.545,30 ton. Namun, pada 2024, produksi kembali menurun menjadi 3.093, ton, salah satunya akibat musim yang tidak menentu.
Pengelola Produksi Perikanan Tangkap Ahli Muda, Nofik Hari Subagyo menjelaskan, kondisi iklim beberapa tahun terakhir memberikan pengaruh besar terhadap produktivitas nelayan. “Ada musim kemarau basah dan hujan secara terus-menerus. Kemarau panjang justru melimpah,” jelasnya.
Situasi tersebut membuat pola melaut nelayan berubah dan hasil tangkap tidak seimbang antarmusim. Selain faktor cuaca, keberanian nelayan dalam menghadapi potensi gelombang tinggi juga menjadi penentu.
Sebagian nelayan lokal kerap menahan diri untuk tidak melaut ketika cuaca tampak kurang bersahabat. “Kita itu ada sebagian nelayan dari Jawa Barat. Itu dia berani. Meskipun cuaca agak buruk itu berani. Kalau di kita itu nelayan kita masih belum berani untuk melaut,” ungkapnya.
Memasuki 2025, tren fluktuasi juga terlihat dari Rekap Produksi Perikanan Tangkap Laut dan PUD 2025. Hingga Oktober, total produksi mencapai 2.322,66 ton, terdiri dari 2.190,16 ton hasil laut dan 214,30 ton dari perairan umum daratan (PUD).
Produksi tertinggi terjadi pada Juli yakni 527,44 ton, disusul April sebesar 351,87 ton, serta Agustus sebesar 352,60 ton. Sementara itu, produksi menurun pada bulan-bulan dengan curah hujan tinggi seperti Juni dan Oktober.
Fluktuasi ini menunjukkan bahwa tantangan pada sektor perikanan tangkap Kabupaten Blitar tidak hanya soal ketersediaan sumber daya perairan, tetapi juga kesiapan nelayan dalam beradaptasi dengan perubahan cuaca dan dinamika laut.
Nofik menekankan, peningkatan kapasitas nelayan, termasuk pemanfaatan teknologi informasi cuaca dan penguatan alat tangkap, menjadi langkah penting untuk menjaga stabilitas produksi.
Dia berharap memasuki akhir tahun kondisi cuaca semakin bersahabat sehingga produksi dapat kembali meningkat. “Kalau cuaca mendukung, biasanya hasilnya bagus,” pungkasnya. (kho/c1/ynu) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah