BLITAR - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya memberi manfaat langsung bagi pemenuhan gizi anak sekolah, tetapi juga menghadirkan pengalaman baru bagi para petugas dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Salah satunya dirasakan Bahrul Ulum, petugas SPPG Kandangan, di Kecamatan Srengat. Tugasnya memastikan seluruh bahan baku layak proses sebelum diolah.
Sebelum fajar pagi menyembul, Bahrul Ulum dan kawan-kawan sudah sibuk di dapur SPPG Kandangan, Kecamatan Srengat. Berbagai jenis lauk pauk ditata rapi untuk disajikan menjadi menu MBG. Di saat sebagian besar masyarakat tengah tertidur lelap, dia sudah harus siaga menyiapkan makanan segar dan layak konsumsi.
Kesibukan menjelang subuh telah menjadi pemandangan sehari-hari sejak program MBG bergulir di Blitar. Bahrul yang bertugas sebagai pengawas bahan baku itu wajib memastikan semua bahan baku masakan benar-benar berkualitas sehingga layak untuk diolah dan dikonsumsi. Ini menjadi tantangan tersendiri baginya. Di samping itu, kecukupan gizi dalam menu juga jadi prioritas.
Menurut warga Kelurahan Plosokerep, Kecamatan Sananwetan ini, kehadiran MBG membawa dampak positif yang sangat terlihat pada siswa penerima manfaat. Dari pengamatannya, asupan gizi anak-anak kini jauh lebih seimbang dan terukur.
Setiap menu yang disajikan selalu diperhitungkan nilai gizinya. “Di SPPG kami, standar kualitas cukup ketat. Misalnya, susu UHT harus merek tertentu, sedangkan ayam potong wajib dalam kondisi benar-benar fresh. Kalau ayam datang jam 9 malam, ya harus segera diolah malam itu juga,” katanya, Kamis (27/11/2025).
MBG juga disebut berkontribusi pada peningkatan disiplin kehadiran siswa. Banyak anak lebih bersemangat datang ke sekolah karena penasaran dengan menu harian. “Anak-anak itu antusias sekali. Setiap pagi mereka sudah menunggu kedatangan makanan, tapi kami tidak boleh membocorkan menu apa pun,” ujar pemuda 25 tahun ini.
Dia mengaku banyak pengalaman berkesan selama bertugas, terutama ketika harus teliti memeriksa setiap bahan baku. Tidak jarang di tengah malam harus kembali ke pasar jika stok bahan tertentu habis. ”Mau tidak mau harus ke pasar untuk memenuhi kekurangan bahan baku. Entah itu pasar di wilayah kota maupun di wilayah Srengat atau sekitarnya,” ungkapnya.
Menu berbasis daging seperti chicken teriyaki dan rendang menjadi favorit siswa. Maka itu, variasi menu selalu dijaga agar para siswa tidak bosan. Terpenting, nilai gizi tercukupi, mulai karbohidrat, protein, dan lemak.
Di sisi lain, program MBG, menurut dia, juga ikut menggerakkan ekonomi lokal. UMKM sekitar mendapat manfaat dari peningkatan pembelian bahan pokok. ”Di SPPG, kami selalu membeli bahan baku dari masyarakat sekitar. Untuk harga, kami mengikuti pasar,” tuturnya.
Selain itu, lanjut dia, sekitar 80 persen tenaga dapur adalah warga setempat sehingga pemberdayaan masyarakat benar-benar berlangsung. ”Program MBG ini dampaknya memang luar biasa karena juga menyerap tenaga kerja baru. Membantu masyarakat memiliki pekerjaan yang layak,” imbuhnya.
Bahrul berharap program MBG terus dilanjutkan. Baginya, program ini bukan sekadar penyedia makanan, melainkan upaya strategis membentuk generasi emas. “Selama ini hasilnya sangat dirasakan. Siapa pun presidennya, semoga tetap berlanjut demi masa depan anak-anak,” pungkasnya.(*)
Editor : M. Subchan Abdullah