BLITAR KAWENTAR – Implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Blitar mulai memberi efek ekonomi signifikan bagi sektor koperasi. Salah satunya dirasakan Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) di Bumi Bung Karno.
KKMP yang kini merasakan dampaknya yakni koperasi di wilayah Sukorejo. KKMP Sukorejo jadi salah satu pemasok utama kebutuhan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Lonjakan permintaan bahan pangan dari dapur-dapur MBG membuat aktivitas usaha koperasi semakin bergerak dinamis.
Ketua KMP Sukorejo, Marsuko Wahyudiono mengatakan kerja sama dengan SPPG sudah berjalan efektif sejak dapur-dapur MBG mulai beroperasi. Koperasi kini memasok berbagai kebutuhan pokok—mulai beras, daging ayam hingga buah—ke SPPG yang tersebar di Kota dan Kabupaten Blitar.
“Sejauh ini seluruh suplai berjalan lancar. Kami menyesuaikan permintaan dari setiap dapur,” jelasnya, Rabu (26/11).
Salah satu dapur yang mendapat suplai rutin dari KKMP adalah SPPG Tanggung yang baru memasuki minggu operasional kedua. Untuk titik ini, KKMP mengirimkan kebutuhan bahan hingga sekitar 2.000 porsi setiap pengiriman.
“Karena masih minggu kedua, jumlahnya belum maksimal. Tapi permintaannya sudah stabil,” ujarnya.
Baca Juga: Kenaikan Pensiunan 2025 Heboh di Medsos, MenPAN RB dan TASPEN Akhirnya Bongkar Fakta Sebenarnya
Pengiriman bahan dilakukan satu hari sebelum aktivitas memasak dimulai. Jika dapur beroperasi pada Senin, seluruh bahan sudah harus tiba pada Minggu.
Untuk dapur Tanggung, Marsuko merinci sekali suplai terdiri dari 450 kilogram beras dan sekitar 2 kuintal 76 kilogram daging ayam, yang digunakan untuk operasional dua hari.
Saat ini, terdapat lima dapur SPPG di Kabupaten Blitar dan dua dapur di Kota Blitar, yaitu dapur Tanggung dan Tlumpu.
Setiap dapur memiliki kebutuhan berbeda sehingga koperasi menyesuaikan volume pengiriman berdasarkan permintaan.
Baca Juga: Aplikasi Sentuh Tanahku Resmi Gantikan Sertifikat Hijau, Begini Cara Daftar dan Verifikasinya
Selain beras dan ayam, KMP Sukorejo juga mendapat order untuk penyediaan buah jeruk sebagai pelengkap menu gizi.
Menariknya, komoditas ini dipasok melalui kemitraan dengan petani lokal, khususnya dari Kecamatan Wlingi.
Baca Juga: Heboh Single Salary Dikaitkan dengan Kenaikan Pensiunan 2025, TASPEN Buka Suara Soal Fakta Resminya
“Pemasok jeruk dari wilayah kota masih sedikit. Karena itu kami ambil dari petani kabupaten agar pasokannya stabil,” jelas Marsuko.
Dia menegaskan koperasi berkomitmen menjaga kualitas dan ketepatan waktu distribusi, mengingat dapur MBG harus beroperasi sesuai jadwal.
“Kami pastikan bahan yang dikirim dalam kondisi terbaik. Ini demi kelancaran semua dapur SPPG,” tandasnya.
Kerja sama ini memberi keuntungan ganda bagi koperasi—selain meningkatkan aktivitas ekonomi, juga memperluas jejaring pemasok dengan melibatkan petani lokal.
Baca Juga: Heboh Kabar Rapel Pensiunan 2025 Cair, TASPEN Tegaskan Belum Ada Keputusan Pemerintah
Program MBG pun tak hanya mendukung pemenuhan gizi anak, tetapi ikut menggerakkan ekonomi berbasis komunitas di Blitar raya.(mg2/sub)
Editor : M. Subchan Abdullah