BLITAR – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Blitar menggelar workshop Konservasi Cagar Budaya Koleksi Museum Penataran yang diikuti para pegiat sejarah, mahasiswa, dan masyarakat umum.
Terbukti antusiasme generasi muda tinggi dalam menyerap ilmu dari kegiatan ini. Workshop ini merupakan bagian dari program dana alokasi khusus (DAK) Kementerian Kebudayaan yang bertujuan meningkatkan edukasi publik terkait pelestarian situs-situs peninggalan sejarah.
Kepala Disbudpar Kabupaten Blitar, Eko Susanto mengatakan, program ini menyasar masyarakat luas karena Kabupaten Blitar dikenal sebagai wilayah yang kaya temuan arkeologis. Targetnya adalah mengenalkan dan mengedukasi masyarakat.
“Kabupaten Blitar ini kan sering ditemukan situs-situs atau arca yang belum terungkap. Intinya supaya masyarakat lebih care terhadap benda-benda budaya, baik yang ada di museum maupun di ruang terbuka,” ujarnya.
Eko melanjutkan, dalam workshop yang berlangsung Rabu (26/11/2025) hingga Sabtu (29/11/2025), peserta mendapatkan materi mengenai pengenalan jenis cagar budaya, teknik pembersihan, perawatan, hingga perlakuan sesuai SOP konservasi. Hari kedua dan ketiga, peserta langsung praktik konservasi di lapangan.
Bagi Eko, perawatan benda cagar budaya itu penting karena barang tersebut rentan dengan kondisi iklim tropis. Curah hujan tinggi, kelembapan, lumut, dan sinar matahari bisa menyebabkan pelapukan. Maka dari itu, batu kalau tidak dirawat itu cepat hancur, tetapi jika ada materi terkait konservasi ini, usianya bisa jauh lebih lama.
“Pesertanya cukup antusias, total ada 30 peserta yang daftar online dan kami batasi. Beberapa ada yang dari luar kota. Kami buka untuk siapa saja yang punya passion mahasiswa, peminat sejarah, arkeolog, bahkan pemula yang ingin belajar,” ungkapnya.
Dia menambahkan, kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari proses regenerasi pelestari budaya. Sebab selama ini yang aktif biasanya para sesepuh. Sekarang, dia berusaha menggerakkan generasi muda agar ikut melestarikan benda cagar budaya yang ada di wilayah masing-masing.
Workshop ini tidak hanya berfokus pada pelatihan teknis, tetapi juga diharapkan menghasilkan efek getok tular bagi lingkungan para peserta. Nantinya, peserta yang ikut ini bisa menyampaikan ilmunya ke orang lain. Apalagi, banyak peserta yang mahasiswa budaya.
Baca Juga: Mengenal Sosok Dosen asli Blitar Penakluk Gunung Lewat Lari Trail
Terkait keberlanjutan program, dia menyebut masih menunggu kebijakan pusat karena kegiatan ini menggunakan skema DAK. Namun, disbudpar berkomitmen mendorong agar pelatihan serupa terus berlanjut. “Ini baru pertama kali. Insya Allah kami usahakan ada lagi tahun depan, mungkin pesertanya lebih banyak,”pungkasnya. (jar/c1/ynu) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah