BLITAR – Duka mendalam menyelimuti keluarga Sri Wahyuni, Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kelurahan/Kecamatan Sutojayan, yang menjadi korban kebakaran apartemen di Hong Kong, pada Rabu (26/11/2025) lalu. Perempuan itu meninggal saat berusaha menyelamatkan lansia yang selama ini dirawatnya.
Berdasarkan informasi dari keluarga, Sri terakhir telepon pada Rabu pukul 13.00 WIB, dan musibah kebakaran terjadi sekitar satu jam kemudian. Saat komunikasi biasa saja, hanya guyon-guyon seperti biasanya, tidak ada firasat apa pun.
“Bahkan istri saya bercanda terkait impian menjadi kaya, hingga menjadi pemimpin atau CEO,” ujar suami korban, Sugeng Widodo, 49, saat ditemui di rumah duka, Senin (1/12/2025).
Sugeng mengatakan, biasanya Sri hanya menelepon sekitar setengah jam. Namun saat itu obrolan berlangsung lebih lama dari biasanya. Dari pukul 12.30 hingga lewat pukul 13.30. Padahal biasanya tidak selama itu.
Selama ini, Sri dan lansia yang diasuhnya tinggal di sebuah apartemen bertingkat. Menurut cerita keluarganya di Hong Kong, struktur bangunan itu membuat kebakaran cepat menjalar.
Pada saat kejadian, sang majikan diketahui sedang berbelanja bersama anaknya. Biasanya, Sri yang bertugas menemani saat berbelanja, namun pada hari itu justru tidak ikut. Sugeng berpikiran positif, bahwa hal itu sudah merupakan takdir.
Hingga Minggu, keluarga masih menunggu kepastian pemulangan jenazah oleh KJRI Hong kong. “Kami hanya berharap proses pemulangan bisa cepat, supaya istri saya bisa dimakamkan di kampung halaman. Kami terus melakukan koordinasi dengan KJRI Hong Kong untuk proses tersebut,” ucap Sugeng.
Menurut Sugeng, istrinya termasuk tipikal yang selalu intens berkomunikasi. Bahkan, setiap hari telepon. Jika tidak diangkat, istrinya akan memarahinya, karena rasa rindunya gagal terobati. Sri Wahyuni sendiri baru menjalani kontrak pertama sebagai PMI di Hong Kong dan belum pernah pulang sejak berangkat dua tahun lalu.
Masa kontraknya sebenarnya baru selesai tiga bulan lagi. “Kontrak selesai Februari 2026. Tapi dia sudah minta izin majikan untuk pulang Mei karena anak kedua kami mau menikah. Majikannya setuju. Sayangnya takdir berkata lain,” ujarnya.
Sugeng menyebut, majikan istrinya memperlakukan Sri dengan sangat baik. Bahkan hubungan mereka sudah seperti keluarga sendiri. Bahkan majikannya itu tidak pernah memperlakukan Sri sebagai pembantu.
Hal ini pula yang membuat Sri memilih tetap bersama lansia yang diasuhnya saat kebakaran terjadi. Keduanya ditemukan dalam kondisi saling berpelukan. “Seandainya lari pasti bisa. Tapi dia memilih tetap mendampingi orang tua yang dia rawat,” katanya lirih.
Sri meninggalkan tiga anak. Anak pertama sudah menikah, anak kedua sedang menyiapkan pernikahan pada Mei 2026, dan anak bungsu masih kelas 2 SD. “Selama dia di sana, anak-anak tidak pernah protes atau keberatan. Kami semua sudah terbiasa komunikasi panjang setiap hari,” pungkasnya. (jar/ynu) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah