Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Penggunaan Teknologi Modern di Kalangan Nelayan Blitar Belum Menyeluruh, Pilih Pakai Insting

Akhmad Nur Khoiri • Rabu, 3 Desember 2025 | 18:00 WIB

 

 

TRADISIONAL: Belum seluruh nelayan di Kabupaten Blitar menggunakan teknologi modern saat melaut.
TRADISIONAL: Belum seluruh nelayan di Kabupaten Blitar menggunakan teknologi modern saat melaut.

BLITAR – Sektor perikanan tangkap di Kabupaten Blitar masih didominasi oleh praktik dan kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun, terutama dalam penentuan titik lokasi penangkapan ikan. Walaupun perkembangan teknologi sonar dan GPS semakin maju, nelayan di kawasan pesisir selatan Kabupaten Blitar sebagian besar masih mengandalkan pengalaman bertahun-tahun ketimbang perangkat modern.

Menurut Pengelola Produksi Perikanan Tangkap Ahli Muda Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Blitar, Nofik Hari Subagyo, penggunaan alat tangkap di Kabupaten Blitar cenderung tradisional dan sederhana, tetapi efektif untuk jenis ikan yang banyak beredar di perairan setempat.

"Alat tangkap yang paling banyak digunakan oleh nelayan kita di Kabupaten Blitar adalah pusen (pukat cincin, Red). Selain itu, ada juga penggunaan jaring net dan pancing ulur. Alat-alat ini telah menjadi andalan karena efisien dan sesuai dengan karakter perairan kita," jelas Nofik.

Dia mengakui perkembangan teknologi, khususnya dalam mencari titik gerombolan ikan di laut, mulai diperkenalkan. Namun, adopsi teknologi tersebut masih berjalan lambat dan belum merata di kalangan nelayan.

"Mengenai teknologi, seperti penggunaan fish finder atau perangkat sonar untuk mencari titik ikan, sebagian nelayan kita memang sudah mulai menggunakannya. Namun, mayoritas nelayan, terutama yang senior, masih sangat mengandalkan pengalaman," katanya.

Nofik menambahkan, pengalaman yang sudah teruji membuat para nelayan mengetahui persis titik-titik ikan biasanya berkumpul dari tahun ke tahun. Insting dan pemahaman terhadap pola migrasi ikan, yang dipelajari selama puluhan tahun, sering kali dirasa lebih akurat dan dapat diandalkan daripada perangkat elektronik.

Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan digital di sektor perikanan. Meskipun teknologi dapat meningkatkan efisiensi waktu dan hasil tangkapan, investasi alat serta pelatihan yang memadai menjadi tantangan bagi nelayan. Padahal, jika teknologi digunakan secara merata, risiko kegagalan melaut dan biaya operasional dapat diminimalisasi. (kho/c1/ynu) (*)

Editor : M. Subchan Abdullah
#nelayan #Kabupaten Blitar #sektor perikanan tangkap #perkembangan teknologi #lokasi penangkapan ikan