BLITAR KAWENTAR – Setelah kurang lebih tiga tahun masa pembangunan, akhirnya Kelenteng Poo An Kiong siap untuk difungsikan kembali.
Pada Rabu (3/12/2025), ritual pemberkatan kelenteng dilaksanakan sebelum resmi digunakan untuk beribadah oleh umat Konghucu.
Ritual yang dimulai sekitar pukul 14.30 tersebut berlangsung khidmat. Dengan dipandu pemuka agama Konghucu, prosesi doa dan sejumlah ritual dilakukan. Pemuka agama itu lantas mengelilingi setiap sudut bangunan kelenteng anyar sembari mencipratkan air suci.
”Ya, ini ritual pemberkatan untuk kelenteng yang baru dibangun. Mendoakan agar kelenteng terhindar dari aura negatif,” kata Ketua I Yayasan Kelenteng Poo An Kiong, Than Swan Kiang, Rabu (3/12/2025).
Prosesi ritual tersebut juga diiringi dengan tarian dua barongsai. Alunan musik khas barongsai turut mengiringi.
Setiap sudut bangunan kelenteng tiga lantai itu dihampiri.
”Besok pagi (hari ini, Red) lanjut memindahkan patung-patung (rupang) dewa dari ruko (kelenteng sementara) di Jalan Mawar ke sini. Sebelum dipindah, dilaksanakan ritual doa terlebih dulu pukul 04.00 WIB,” jelasnya.
Dengan dipindahkannya seluruh rupang ke Kelenteng Poo An Kiong, praktis umat Konghucu di Blitar Raya bisa kembali beribadah di kelenteng yang terbakar hebat pada November 2021 lalu itu.
Kerinduan umat Konghucu untuk beribadah di kelenteng berusia hampir 1,5 abad itu segera terobati. Lamanya pembangunan tersebut lantaran adanya pembangunan basement yang begitu hati-hati.
“Basement itu kan ada di bawah tanah. Jadi saat akan dibangun itu selalu longsor sehingga harus dibangunkan struktur yang kuat. Makanya membutuhkan waktu lama,” ungkapnya.
Kebakaran hebat pada November 2021 lalu menghanguskan sebagian besar bangunan kelenteng. Terutama pada ruang utama peribadatan umat Konghucu.
Hanya sebagian kecil benda yang terselamatkan, termasuk empat tiang berhias patung naga.
”Empat tiang dari kayu itu sebenarnya ikut terbakar hangus, sedangkan naganya utuh karena terbuat dari batu. Ini tiangnya digunakan kembali setelah kami resin. Selain tiang, ada juga beberapa patung yang terbuat dari batu yang masih bisa diselamatkan dan dicat ulang,” pungkasnya.
Menurut yayasan, pembangunan kelenteng baru itu tidak menambah luas lahan.
Hanya saja, bangunan kelenteng kini menjadi bertingkat dan lebih representatif. Bahkan terdapat fasilitas berupa lift untuk memudahkan lansia naik ke lantai paling atas untuk beribadah.(sub/c1/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah