BLITAR – Pembangunan Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kabupaten Blitar terus menunjukkan perkembangan positif. Hingga pekan keempat November, progres fisik mencapai 86 persen.
Kabid Sumber Daya Kesehatan (SDK) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar, Muhdianto mengatakan, hal itu sudah melampaui target. Kalau minggu ini mereka bisa mencapai 86 persen, kontraktor boleh mengajukan termin tiga pembayaran, yaitu sebesar 85 persen dari progres fisik.
Hal ini penting agar syarat penyaluran Dana Alokasi Khusus (DAK) bisa terpenuhi. “Penyaluran tahap tiga DAK baru dapat dilakukan apabila penyerapan salur dua mencapai 90 persen. Karena itu, percepatan progres fisik menjadi krusial,” ujarnya saat ditemui di kantornya.
Muhdianto melanjutkan, sejumlah kendala yang sempat menghambat pembangunan kini sudah terselesaikan. Salah satunya tiang listrik bertegangan menengah yang jaraknya terlalu dekat dengan area pekerjaan. Sebab, jarak aman minimal 4 meter, sedangkan sebelumnya posisi tiang hanya 1 meter dari lokasi. Maka dari itu, pekerja tidak berani pasang scaffolding.
Selain itu, faktor cuaca sempat memengaruhi ritme pembangunan. Namun, kontraktor menerapkan pola kerja fleksibel. Yakni pekerjaan indoor dilakukan saat hujan, sementara pekerjaan outdoor dikebut saat cuaca cerah. Kini proyek telah memasuki tahap finishing, seperti pemasangan plafon, keramik, dan sebagian ACP.
“Kami optimistis pertengahan Desember progres bisa 100 persen. Namun gedung baru ini baru dipakai pada tahun depan. Sedangkan labkesda masih pinjam gedung sehingga tetap beroperasi. Sampel tetap bisa kami layani,” katanya.
Meskipun gedung utama masih dalam tahap pembangunan, layanan labkesda tidak berhenti. Pemeriksaan sampel air, makanan, maupun kebutuhan satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) sementara dilakukan di gedung pinjaman di Kelurahan Kembangarum, Kecamatan Sutojayan.
Saat ini, Labkesda Kabupaten Blitar bahkan sudah menerima pemeriksaan dari daerah lain. Tulungagung menjadi salah satu wilayah yang mulai mengirim sampel. Bahkan, dari total 38 kabupaten/kota di Jawa Timur, sekitar 32 daerah telah memiliki labkesda.
Beberapa daerah masih belum memiliki labkesda sehingga potensi rujukan dari luar wilayah terbuka cukup besar. “Sudah ada yang masuk dari Tulungagung. Ke depan, kami siap menjadi rujukan bagi daerah sekitar, termasuk Kota Blitar,” pungkasnya. (jar/c1/ynu) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah