BLITAR – Angka kecelakaan lalu lintas di wilayah Blitar Raya pada 2025 tercatat mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, sejumlah kecelakaan masih didominasi oleh pelajar karena tidak menaati peraturan lalu lintas. Dari 22 kecamatan di Kabupaten Blitar, jalan di wilayah Kecamatan Srengat menjadi yang paling banyak memakan korban.
Kepala Kantor Pelayanan Jasa Raharja Tulungagung, Ahmad Arif Budiman mengatakan, jumlah korban kecelakaan pada 2025 turun signifikan dibandingkan 2024. Sepanjang Januari–November 2025 tercatat 118 korban meninggal dunia (MD) dan 957 korban luka yang menjalani perawatan di rumah sakit.
Total keseluruhan korban mencapai 1.075 orang. “Untuk korban meninggal dunia terjadi penurunan sebanyak 56 orang. Sementara korban luka-luka turun 62 orang. Total penurunan 118 korban,” ujarnya beberapa waktu lalu.
Meski demikian, jika dibandingkan periode 2023 ke 2024, tren justru menunjukkan kenaikan. Pada periode tersebut, korban meninggal dunia meningkat 43 orang dan korban luka naik 97 orang. Bahkan total kenaikan mencapai 140 korban. Arif juga mengungkapkan kecamatan dengan tingkat kecelakaan tertinggi.
Pada 2025, Kecamatan Srengat mencatat jumlah korban paling banyak yakni 194 orang, terdiri atas 179 korban luka dan 11 korban MD. Disusul Kecamatan Ponggok dengan total 159 korban dan Kecamatan Talun dengan 110 korban.
“Untuk fatalitas tertinggi berada di Kecamatan Talun, karena jumlah korban meninggalnya lebih besar dibanding daerah lain. Korban didominasi pelajar dan usia produktif. Bahkan banyak pengendara roda dua dan laki-laki yang menjadi korban kecelakaan,” ungkapnya.
Arif menegaskan, 74 persen kecelakaan disebabkan pelanggaran lalu lintas dan faktor kelalaian pengendara. Yakni, human error masih paling dominan sebab banyak pengendara yang kurang memahami rambu lalu lintas dan rendah kesadaran keselamatannya.
Dia juga menyoroti dampak ekonomi yang ditimbulkan. Karena korban usia produktif banyak yang sudah berkeluarga. Ketika tulang punggung meninggal, keluarga sangat rentan jatuh miskin. “Begitu juga korban usia pelajar yang seharusnya menjadi harapan keluarga,” tutur Arif.
Dalam kecelakaan lalu lintas, Jasa Raharja telah menyerahkan santunan senilai Rp 7,5 miliar bagi korban meninggal dunia selama Januari–November 2025. Sementara santunan untuk korban luka-luka mencapai Rp 12,6 miliar dengan total penyaluran Rp 20,2 miliar.
“Pada 2024, nilainya tidak jauh berbeda, yakni Rp 10,4 miliar untuk korban MD dan Rp 13,8 miliar untuk luka-luka. Total Rp 24,4 miliar,” imbuhnya.
Arif meminta masyarakat lebih disiplin dan berhati-hati saat berkendara. Dia juga menekankan pentingnya pengawasan orang tua terhadap anak usia muda yang menggunakan sepeda motor.
“Kami imbau penggunaan motor dibatasi dan harus diawasi. Wajib pakai helm karena kepala adalah organ paling vital. Dengan hati-hati saja risiko kecelakaan masih ada, apalagi kalau melanggar aturan,” pungkasnya. (jar/c1/ynu) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah