BLITAR – Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Blitar menghadapi tantangan berat dalam merespons laporan kerusakan penerangan jalan umum (PJU). Tingginya frekuensi PJU yang mati dipicu oleh kondisi jaringan yang rawan, terutama di area yang dipenuhi pepohonan, membuat tim teknis bekerja ekstra keras, bahkan harus mengganti jadwal perawatan rutin untuk menangani kasus darurat.
Kepala Bidang (Kabid) Perlengkapan Jalan Dishub Kabupaten Blitar, Kurniawan Wibowo mengakui, keluhan masyarakat ke call center sering terjadi karena banyak titik PJU yang mati. Hal ini memaksa dishub menjadwalkan perawatan minimal dua kali dalam setahun secara menyeluruh.
"Armada kami yang berjumlah dua unit, rata-rata hanya bisa menangani 5 sampai 7 titik perawatan PJU dalam satu hari. Tingkat penyelesaian ini sangat bergantung pada tingkat kerusakan, dan terutama cuaca," jelasnya.
Kurniawan menyoroti kendala teknis di lapangan sering kali menghambat percepatan penanganan. Tim sering kali terkendala kondisi kabel yang tertutup rapat oleh dahan pohon atau bahkan jenis kerusakan kabel tanam yang berada di bawah permukaan. Dishub harus melakukan pemeliharaan yang lebih menyeluruh pada seluruh jaringan.
"Terutama di jaringan yang banyak pohon itu potensi kerusakan lebih tinggi. Apalagi di musim hujan, hal ini berpotensi menyebabkan kerusakan yang lebih besar dan frekuensi PJU mati meningkat," tambahnya.
Meskipun jadwal perawatan telah disusun, prioritas bisa berganti sewaktu-waktu. Jadwal bisa berganti jika laporan mengharuskan ditangani secara cepat, seperti kasus kabel putus yang membahayakan keselamatan pengguna jalan, karena keselamatan warga adalah yang utama.
Di samping tantangan teknis, dishub juga menghadapi keterbatasan logistik dan anggaran. Suku cadang lampu, terutama yang mahal, masih terbatas. Hal ini menyebabkan dishub harus menyiasati dengan melakukan servis pada lampu yang rusak alih-alih langsung menggantinya dengan yang baru.
Dia berharap adanya peningkatan anggaran untuk perawatan PJU demi menjamin keselamatan dan kenyamanan warga Kabupaten Blitar di malam hari.
"Walaupun peralatan untuk keselamatan teknisi sudah lengkap, kami harus akali. Biasanya lampu akan rusak dalam jangka lima tahun, namun dengan anggaran yang sedikit dan suku cadang terbatas, kami harus servis dulu sebelum diputuskan diganti," pungkas Kurniawan. (kho/c1/ynu) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah