BLITAR – Kasus hipertensi masih menjadi tantangan kesehatan serius di Kabupaten Blitar. Kondisi itu diketahui dari tingginya angka penemuan kasus yang didorong oleh kombinasi faktor keturunan dan pola hidup kurang sehat.
Meskipun tren prevalensi menunjukkan sedikit penurunan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar memperketat intervensi, terutama untuk memastikan pasien yang terdeteksi mendapatkan penanganan dan kontrol yang berkelanjutan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Blitar, Anggit Ditya Putranto memaparkan, berdasarkan hasil pemeriksaan tekanan darah pada program cek kesehatan gratis (CKG) 2025, sebanyak 20,88 persen peserta terdeteksi mengidap hipertensi. Angka ini sedikit lebih rendah dari prevalensi pada 2024 yang mencapai 24,72 persen.
"Meskipun ada penurunan persentase, kasus yang terdeteksi masih sangat tinggi dan menjadi kontributor besar terhadap penyakit tidak menular (PTM) lainnya. Kami melihat faktor risiko yang paling banyak adalah faktor keturunan, selanjutnya dari pola hidup yang kurang sehat dan kurang melaksanakan Germas," jelasnya.
Anggit menyoroti, hipertensi bukan lagi hanya masalah usia lanjut. Data menunjukkan kelompok usia 40-44 tahun menyumbang kasus terbanyak (8.390 orang), tetapi kelompok usia produktif seperti 25-39 tahun juga tercatat tinggi (3.049 orang). Untuk menekan angka tersebut dan memastikan hipertensi terkendali, Dinkes Kabupaten Blitar telah meningkatkan program intervensi.
Upaya yang dilakukan adalah dengan mengintensifkan edukasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) yang diberikan melalui media sosial dan kegiatan langsung di masyarakat, serta menguatkan peran puskesmas. "Puskesmas menyediakan pelayanan dan obat bagi penderita hipertensi yang dipantau setiap bulan agar hipertensi terkendali," katanya.
Namun, kendala muncul ketika pasien tidak rutin kontrol. Untuk mengatasi pasien loss control atau enggan berobat, dinkes mengambil langkah khusus yakni menganjurkan kader untuk melakukan kunjungan rumah pada penderita hipertensi.
Lebih lanjut, Anggit menekankan perlunya edukasi gaya hidup sehat untuk pencegahan, yaitu dengan menerapkan pola makan seimbang rendah garam dan lemak, menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga minimal 30 menit setiap hari, tidak merokok, menghindari alkohol, serta mengelola stres.
"Pemeriksaan tekanan darah secara rutin sangat penting, karena hipertensi sering tidak bergejala. Diharapkan pada masyarakat sadar akan pentingnya pemeriksaan kesehatan sejak dini agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan efektif," tutup Anggit. (kho/c1/ynu) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah