BLITAR KAWENTAR - Blitar tidak hanya memiliki museum Bung Karno yang berada satu kompleks dengan makamnya. Namun, 11 kilometer dari lokasi tersebut, terdapat Museum Penataran yang bisa dinikmati ketika libur Natal dan Tahun Baru seperti saat ini. Apalagi tempat itu menyimpan banyak benda sejarah terkait Blitar.
Ketika memasuki Museum Penataran, pengunjung diajak untuk menjelajah dalam kehidupan kerajaan. Mulai Mataram Kuno, Kediri, Singosari, hingga Majapahit.
Sebab, ada 450 koleksi benda cagar budaya pada era itu yang ditemukan di Blitar disimpan dalam bangunan ini. Tentu yang suka dengan sejarah akan menjadi pengalaman wisata khusus.
Ratusan koleksi itu terdiri atas 426 koleksi arkeologika, 17 koleksi etnografika, dan 7 koleksi keramologika. Koleksi arkeologika meliputi benda-benda berupa arca, prasasti, batu lingga yoni, batu artefak, dan batu relief.
Koleksi etnografika meliputi benda-benda berupa peralatan kuno seperti alat transportasi cikar, alat gilingan tebu, alat bajak sawah, lesung, dan mata uang kuno.
Petugas museum tentu siap untuk memandu pengunjung jika membutuhkan penjelasan.
Namun di setiap benda koleksi, terdapat barcode yang bisa di-scan di ponsel pintar untuk ditemukan deskripsi dari barang bersejarah yang ada.
Pemkab Blitar berusaha untuk menghidupkan museum dengan mengadakan beberapa acara yang menarik minat generasi muda. Mulai cerdas cermat bertema sejarah, konservasi, workshop tari, dan banyak acara lain.
Kepala Disbudpar Kabupaten Blitar Eko Susanto sengaja menumbuhkan minat generasi muda kepada Museum Penataran ini dengan berbagai acara.
Menurutnya, adanya event dapat menambah pengunjung. Selain itu juga dapat mengedukasi masyarakat Kabupaten Blitar bahwa ada museum di daerahnya.
"Destinasi itu harus ada event. Wajib. Mau dikenal apa kalau tidak ada event? Harus muncul event yang berkelanjutan, termasuk di Museum Penataran. Agar banyak orang yang tertarik dengan sejarah,” ujar Eko.
Baca Juga: Perkembangan Teknologi Dan Peran Kecerdasan Buatan dalam Kehidupan Sehari-hari
Dia melanjutkan, dalam momen libur Natal da Tahun Baru ini diprediksi pengunjung mencapai lebih 200 orang per hari.
Jumlah itu meningkat dari biasanya, karena hari biasa tidak sampai 100 pengunjung. Hanya anak sekolah yang mengunjungi saat hari aktif.
Choirunnisa, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, yang mengikuti pembelajaran langsung terkait perawatan dan konservasi benda bersejarah di Museum Penataran, mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru.
Terutama mengenai cara merawat koleksi museum yang terbagi dalam dua kategori utama, yakni etnografis dan arkeologi.
“Selama ini kami hanya tahu secara teori, tapi di sini kami belajar langsung bagaimana proses perawatannya,” katanya.
Menurutnya, perawatan benda bersejarah menjadi hal penting agar nilai sejarah dan edukatifnya tetap terjaga. Dengan perawatan yang tepat, koleksi museum tidak hanya awet, tetapi juga mampu melahirkan pemikiran dan pengetahuan baru.
“Kalau benda-benda itu dirawat dengan baik, nilainya tetap ada. Bahkan bisa melahirkan pengetahuan baru terkait sejarah dari benda tersebut,” pungkasnya. (jar/c1/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah