Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Blitar Art Center Jadi Ruang Seniman di Blitar untuk Berkarya hingga Wadah Belajar tentang Kesenian

Noormalady Usman • Minggu, 4 Januari 2026 | 21:00 WIB
PESAN DALAM: Salah satu lukisan tentang seorang tokoh yang dipajang di Blitar Art Center.
PESAN DALAM: Salah satu lukisan tentang seorang tokoh yang dipajang di Blitar Art Center.

BLITAR KAWENTAR - Di tengah minimnya ruang ekspresi seni di daerah, kehadiran Blitar Art Center menjadi angin segar bagi para seniman Blitar Raya.

Tempat ini bukan sekadar ruang pamer, tetapi juga menjadi titik temu lintas disiplin seni—dari seni rupa, sastra, musik, tari, hingga film.

Seniman Blitar Art Center, Danang Sudjatnika, menyebut art center ini lahir dari kebutuhan lama para seniman akan sebuah wadah bersama. Selama ini, Blitar belum memiliki ruang seni yang benar-benar terbuka dan berkelanjutan.

“Ini tempat berkumpul teman-teman seniman Blitar Raya. Semua bisa mengekspresikan karya di sini,” ujar Danang.

Menurutnya, Blitar Art Center merupakan yang pertama di Blitar, bahkan jarang ditemukan di kota-kota sekitar seperti Kediri dan Tulungagung. Tak heran, pengunjung yang datang pun tidak hanya dari Blitar, tetapi juga dari daerah lain.

Blitar Art Center resmi dibuka pada 27 November 2025 melalui pameran seni rupa bertajuk “Samantara Raya”.

Pameran tersebut melibatkan perupa dari berbagai generasi, mulai pemula hingga seniman senior.

Selama sepekan, rangkaian kegiatan seni digelar, termasuk pertunjukan musik, lomba baca puisi tingkat SD dan SMP se-Karesidenan Kediri, hingga lomba mewarnai anak TK. Karya anak-anak terbaik bahkan turut dipamerkan di dalam ruang art center.

Usai pameran perdana, Blitar Art Center kembali menggelar pameran kedua dengan tema “Matra Ibu”, yang digelar untuk merespons peringatan Hari Ibu. Pameran ini diikuti 12 perupa dengan sekitar 15 karya lukisan.

Danang menjelaskan, tema “Matra Ibu” tidak dimaknai secara sempit sebagai sosok ibu biologis. Ibu dipahami sebagai simbol yang lebih luas, termasuk ibu pertiwi dan dimensi kehidupan lain yang melahirkan dan merawat.

“Makanya karyanya tidak semuanya figur perempuan. Ada yang abstrak, ada yang simbolik. Ibu itu banyak dimensi,” jelasnya.

Baca Juga: Kode Misterius Video Sports Bikin Heboh, Marten Paes ke Persib Bandung? Bantahan Sang Kiper Justru Picu Spekulasi Transfer Terbesar Liga 1

Menariknya, seluruh aktivitas di Blitar Art Center dijalankan secara swadaya. Para seniman patungan untuk menggelar pameran sekaligus melakukan perbaikan ringan gedung, mulai dari pengecatan hingga penataan pencahayaan.

“Semua dari kantong sendiri. Renovasi kecil-kecilan juga kami lakukan bersama,” katanya.

Danang berharap Pemerintah Kota Blitar dapat memberikan dukungan nyata dengan menjadikan Blitar Art Center sebagai ruang seni permanen.

Ia menilai, ketersediaan ruang sangat penting untuk menjaga ekosistem seni dan regenerasi seniman di Blitar.

“Kalau tidak ada wadah, seniman akan kesulitan. Sekarang saja mencari galeri sudah susah,” ujarnya.

Ia juga menyinggung kondisi gedung kesenian yang dinilai kurang ramah bagi seniman karena biaya sewa yang tinggi dan lebih sering digunakan untuk kegiatan non-seni seperti resepsi pernikahan.

“Kami butuh ruang yang benar-benar berpihak pada seni. Supaya seni di Kota Blitar tetap hidup dan dihargai,” pungkasnya. (mg2/ady)

Editor : M. Subchan Abdullah
#ruang karya #Blitar Art Center #blitar raya #lukisan #seniman #muda