Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Keluh Kesah Produsen Enting dan Geti di Blitar saat Harga Kacang Tanah Naik Drastis

M. Subchan Abdullah • Rabu, 7 Januari 2026 | 14:15 WIB
CARI PASAR BARU: Asna Rosida (berdiri) memantau produksi enting dan geti di rumah produksinya di Kelurahan Karangsari, Kecamatan Sukorejo.
CARI PASAR BARU: Asna Rosida (berdiri) memantau produksi enting dan geti di rumah produksinya di Kelurahan Karangsari, Kecamatan Sukorejo.

 

 

BLITAR KAWENTAR - Harga kacang tanah yang melambung tinggi membuat pelaku industri kecil dan menengah (IKM) kelimpungan. Salah satunya Asna Rosida, produsen enting dan geti.

Produknya yang selama ini mengandalkan kacang tanah sebagai bahan baku utama, kini harus dikurangi. Siasat itu dilakukan demi menghemat biaya produksi dan tetap mengutamakan kualitas rasa.

Asna Rosida kaget bukan kepalang mendengar kabar kenaikan harga kacang tanah. Bagaimana tidak, kenaikan yang terjadi lumayan drastis mencapai hampir dua kali lipat dari harga normal. Harga yang biasanya di kisaran Rp 25-26 ribu per kilogram, kini tembus Rp 40 ribu per kilogram.

”Ini gak masuk akal bisa sampai segitu. Seumur-umur saya produksi enting, baru kali ini harga kacang tanah lebih tinggi daripada wijen. Selama ini, harga wijen itu selalu lebih mahal dari kacang,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Blitar, Selasa (30/12/2025).

Selama ini, menurut warga Kelurahan Karangsari, Kecamatan Sukorejo, kenaikan harga kacang tanah tidak sedrastis saat ini. Paling tinggi adalah Rp 28 ribu per kilogram. ”Ini bukan kacang tanah impor lho ya. Saya selama ini mengandalkan kacang tanah lokal,” ujarnya.

Dia menduga melambungnya harga kacang tersebut karena kacang tanah impor tidak masuk ke pasar Indonesia. Praktis, kebutuhan kacang lokal meningkat termasuk di level industri kecil menengah (IKM). Permintaan yang tinggi itupun tidak sebanding dengan ketersediaan kacang tanah lokal yang terbatas karena belum panen raya.

Kenaikan drastis harga kacang tanah itu terjadi mulai awal November 2025. Hingga kini, harganya masih tinggi. Asna tidak bisa memprediksi kapan harga akan turun dan normal kembali.

Apalagi, beberapa bulan lagi memasuki bulan Ramadan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Ramadan menjadi momen penting bagi pelaku usaha untuk meningkatkan produksi jajanan Lebaran dan mendulang cuan. Dia berharap harga kacang tanah bisa segera turun dan bisa mengoreksi harga.

”Saat ini untuk harga jual produk, saya naikkan 25 persen. Kemudian bahan baku kacang, saya kurangi tak sampai 50 persen, sementara wijennya lebih banyak,” siasatnya.

Baca Juga: Pemkab Pastikan Cadangan Beras di Kabupaten Blitar Aman hingga Setahun

Di tengah kondisi tersebut, Asna kini serba kebingungan. Kenaikan drastis harga kacang tanah itu disebut kurang tepat lantaran saat ini laju ekonomi melambat. Daya beli masyarakat turun. ”Ini kok harga malah naik. Tambah pusing,” keluhnya.

Meski begitu, dia berupaya keras memutar otak agar produksi dan penjualan tetap jalan. Salah satu caranya dengan mencari pasar-pasar baru lewat media sosial (medsos) yang tak bisa dijangkau pasar offline.

”Dengan harga segitu, saya tawarkan ke pasar-pasar baru tersebut. Alhamdulillah, responsnya bagus, dan ini saya melayani konsumen baru dari beberapa daerah di luar Pulau Jawa,” beber perempuan 50 tahun ini.

Kondisi tersebut, kata Asna, juga dirasakan pelaku usaha lain yang selama menggantungkan bahan baku utamanya pada kacang tanah. Salah satunya adalah produsen sambal pecel.

”Yang membedakan, jenis kacang tanah yang digunakan. Saya menggunakan kacang yang masih ada kulit arinya. Ukurannya harus seragam, minimal 8 mili,” ungkapnya. 

Sementara ini, Asna mengurangi jumlah produksinya sebanyak 50 persen. Yang sebelumnya sekali produksi membutuhkan kacang 100 kilogram, kini dikurangi menjadi 50 kilogram.

“Mudah-mudahan teman-teman pelaku usaha di luar sana bisa menghadapi situasi ini dengan kuat dan tetap mempertahankan kualitas produknya. Terpenting, sebagai pelaku usaha tetap harus kreatif dan inovatif membaca peluang di tengah era serba online saat ini,” pungkasnya. (*/c1/ady)

Editor : M. Subchan Abdullah
#keluh kesah #enting enting #geti #industri kecil menengah #Harga kacang tanah #ikm #pelaku industri #naik drastis #produsen #Kota Blitar