Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Mendengar Kegelisahan Seniman Melalui Ruang Blitar Art Center: Fungsikan Gedung Kesenian dengan Semestinya

M. Subchan Abdullah • Kamis, 8 Januari 2026 | 13:05 WIB
KREATIF: Seniman Blitar Art Center, Danang Sudjatnika berdiri di samping lukisan karyanya di BAC.
KREATIF: Seniman Blitar Art Center, Danang Sudjatnika berdiri di samping lukisan karyanya di BAC.

BLITAR KAWENTAR - Geliat seni perlahan menemukan napas baru di Bumi Bung Karno. Bukan lewat gedung megah atau fasilitas serbalengkap, melainkan dari ruang sederhana yang lahir dari kegelisahan para seniman.

Ya, Blitar Art Center (BAC) kini telah menjadi ruang kreatif yang tumbuh dan dirawat dengan gotong royong, dan dihidupi oleh semangat berkesenian lintas generasi.

Di kota yang selama ini dinilai minim ruang ekspresi seni, kehadiran BAC menjadi oase.

Tempat ini bukan hanya galeri pamer, melainkan juga ruang temu bagi seniman lintas disiplin. Seni rupa, sastra, musik, tari hingga film bertemu dalam satu atap. Semua punya ruang yang sama untuk bersuara.

Seniman Blitar Art Center, Danang Sudjatnika, menyebut keberadaan art center ini berangkat dari keresahan kolektif.

Selama bertahun-tahun, seniman di Blitar Raya kerap berpindah-pindah ruang, bahkan tak jarang kehilangan tempat untuk menampilkan karya.

“Ini tempat berkumpul teman-teman seniman Blitar Raya. Semua bisa mengekspresikan karya di sini,” ujarnya.

Menurut Danang, Blitar Art Center menjadi ruang seni pertama di Blitar dengan konsep terbuka dan berkelanjutan.

Bahkan, dia menyebut model seperti ini jarang ditemukan di daerah sekitar, seperti Kediri maupun Tulungagung.

Tak heran jika pengunjung yang datang tidak hanya berasal dari Blitar, tetapi juga dari luar daerah.

Blitar Art Center resmi diperkenalkan kepada publik pada 27 November 2025 lewat pameran seni rupa bertajuk Samantara Raya. Pameran perdana itu melibatkan perupa lintas generasi, dari pemula hingga seniman senior.

Baca Juga: Jadwal 16 Besar Malaysia Open 2026 Hari Ini: Jonatan Christie, Putri KW hingga Fajar/Fikri Tampil di Hari Ketiga

Selama sepekan, ruang ini hidup oleh berbagai kegiatan seni, pertunjukan musik, lomba baca puisi tingkat SD dan SMP se-Karesidenan Kediri, hingga lomba mewarnai anak TK.

Karya terbaik anak-anak bahkan ikut dipajang, seolah menegaskan bahwa ruang seni ini juga milik generasi masa depan.

Tak berhenti di situ, pameran kedua bertema Matra Ibu digelar bertepatan dengan peringatan Hari Ibu. Sebanyak 12 perupa menampilkan sekitar 15 karya lukisan.

Tema ibu dimaknai secara luas, bukan hanya figur perempuan, melainkan juga simbol kehidupan, ibu pertiwi, hingga dimensi spiritual yang melahirkan dan merawat.

“Ibu itu banyak dimensi. Karena itu karyanya tidak melulu figuratif,” jelas Danang.

Namun, di balik dinamika kreatif tersebut, ada catatan penting yang disuarakan para seniman.

Seluruh aktivitas Blitar Art Center dijalankan secara swadaya. Mulai dari penyelenggaraan pameran hingga perbaikan ringan gedung dilakukan dengan patungan.

Mengecat dinding, menata pencahayaan, hingga membersihkan ruang dilakukan bersama-sama. “Semua dari kantong sendiri,” katanya singkat.

Di titik inilah keluhan sekaligus harapan itu mengemuka. Danang berharap Pemerintah Kota Blitar bisa hadir lebih nyata, bukan sekadar apresiasi simbolik.

Menurutnya, kota membutuhkan ruang seni permanen yang benar-benar berpihak pada seniman. “Kalau tidak ada wadah, seniman akan kesulitan. Sekarang saja mencari galeri atau ruang pamer sudah susah,” ujarnya.

Dia juga menyinggung kondisi gedung kesenian yang selama ini ada. Biaya sewa yang tinggi serta fungsi gedung yang lebih sering dipakai untuk kegiatan non-seni, seperti resepsi pernikahan, membuat seniman kerap tersisih.

“Kami butuh ruang yang hidup untuk berkarya. Bukan sekadar gedung,” tegasnya.

Bagi para seniman, Blitar Art Center bukan hanya tempat memajang karya, melainkan simbol perlawanan terhadap keterbatasan.

Ruang ini menjadi bukti bahwa seni di Kota Blitar masih hidup, meski tumbuh dari keterbatasan namun kaya akan harapan.

Kini, mereka menanti satu hal: keberpihakan kebijakan agar ruang seni benar-benar mendapat tempat di kota sendiri.(*/c1/ady)

Editor : M. Subchan Abdullah
#bumi bung karno #seniman blitar #ruang kreatif #Blitar Art Center #gedung kesenian #Kota Blitar