BLITAR KAWENTAR – Kasus kebakaran di Kabupaten Blitar sepanjang 2025 masih menunjukkan angka yang cukup tinggi.
Hingga akhir Desember 2025, pemadam kebakaran (Damkar) Kabupaten Blitar mencatat total 44 kejadian kebakaran yang terjadi di berbagai wilayah, dengan mayoritas penyebab berasal dari kelalaian manusia atau human error.
Kasi Pemadaman, Penyelamat, dan Sarana Prasarana Satpol PP dan Pemadam Kebakaran Kabupaten Blitar, Tedi Prasojo menjelaskan, sebagian besar kasus kebakaran dipicu oleh kesalahan manusia dalam aktivitas sehari-hari.
“Kebanyakan kasus yang kami tangani terjadi karena kelalaian, seperti lupa mematikan kompor, korsleting listrik, hingga pembakaran sampah yang tidak diawasi,” ujarnya.
Berdasarkan data Damkar Kabupaten Blitar, sepanjang Januari hingga Oktober 2025 tercatat 39 kejadian kebakaran. Rinciannya, 2 kejadian terjadi pada Januari, 7 pada Februari, 4 pada Maret, 5 pada April, 3 pada Mei, 3 pada Juni, 1 pada Juli, 2 pada Agustus, 6 pada September, dan 6 pada Oktober.
Memasuki dua bulan terakhir 2025, jumlah kejadian kembali bertambah. Pada November 2025 tercatat tiga kebakaran, terdiri dari 1 kebakaran kendaraan roda empat dan 2 kebakaran tempat tinggal.
Sementara pada Desember 2025 terjadi 2 kebakaran, masing-masing menimpa satu gudang tusuk sate dan satu kandang ternak.
Jika dilihat dari objek yang terdampak, rumah warga menjadi lokasi yang paling sering mengalami kebakaran. Sepanjang 2025, tercatat 24 kasus kebakaran rumah atau tempat tinggal.
Selain itu, terdapat 3 kebakaran mobil, 5 kebakaran kandang ternak, 2 toko, 2 gudang, 1 bengkel, 1 gedung DPRD, 1 area pabrik, 1 lahan, serta 1 kasus kebakaran aspal jalan.
Tedi menegaskan, sebagian besar kebakaran tersebut sebenarnya dapat dicegah apabila masyarakat lebih waspada terhadap potensi sumber api di lingkungan sekitar.
Dia mengingatkan pentingnya memastikan instalasi listrik dalam kondisi aman, tidak menumpuk colokan listrik, serta menghindari pembakaran sampah secara sembarangan.
“Kebakaran bisa dicegah kalau masyarakat lebih berhati-hati dan peduli terhadap keselamatan,” katanya.
Selain melakukan penanganan dan pemadaman kebakaran, Damkar Kabupaten Blitar juga aktif melakukan upaya pencegahan melalui edukasi kepada masyarakat.
Berbagai kegiatan dilakukan, mulai dari pembentukan desa tangguh kebakaran, penyuluhan ke sekolah-sekolah, hingga kerja sama dengan perangkat desa dan relawan kebencanaan.
Menurut Tedi, langkah pencegahan menjadi prioritas utama dalam menekan angka kebakaran.
“Tugas kami bukan hanya memadamkan api, tetapi juga mencegah agar kejadian tidak terus berulang. Edukasi kepada masyarakat jauh lebih penting,” tegasnya.
dia juga mengingatkan, memasuki musim hujan, potensi kebakaran tetap perlu diwaspadai, khususnya akibat korsleting listrik. Kondisi kabel yang lembab justru kerap memicu hubungan arus pendek.
“Musim hujan bukan berarti bebas dari kebakaran. Justru risiko korsleting listrik sering meningkat,” pungkas Tedi. (kho/c1/ynu)
Editor : M. Subchan Abdullah