BLITAR KAWENTAR-Mengiringi perkembangan dunia digital, salah satu yang tidak bisa terhindarkan adalah adanya circle pertemanan. Banyak WhatsApp Group (WAG) dan media sosial (medsos) lainnya yang sengaja dibuat khusus untuk membentuk sebuah kelompok pertemanan. Hal itu membuat kalangan anak muda harus lebih memahami teman dalam grupnya. Meski begitu, remaja di Blitar tetap mengutamakan prinsip dan menganggap circle medsos bukan segalanya.
Fenny Oktaviani, siswi SMKN 1 Blitar, mengaku memiliki grup atau circle pertemanan dalam medsos-nya. Menurutnya, ada kriteria untuk masuk dalam circle-nya, yakni harus dalam satu frekuensi. Maka dari itu, hanya beberapa orang yang masuk dalam circle-nya, kurang lebih ada lima orang. “Teman yang masuk circle saya ini yakni berada dalam satu frekuensi pemikiran dan cara pandang. Makanya nggak banyak, cuma sekitar lima orang,” ujarnya.
Fenny, sapaan akrabnya, melanjutkan bahwa dalam hubungan pertemanan selalu ada dinamika. Bahkan, dia pernah dimusuhi. Namun, hal itu ternyata dapat diatasi dengan dewasa, yakni menghubungi secara pribadi untuk menanyakan kesalahan yang mungkin diperbuat. “Kalau ada masalah, saya lebih pilih tanya langsung lewat chat pribadi, supaya jelas salahnya di mana,” katanya.
Bagi perempuan 18 tahun ini, circle pertemanan yang dia memiliki tidak terlalu memengaruhi keputusan yang diambilnya dalam dunia nyata. Sebab, dia konsisten dengan prinsip yang dimilikinya. Maka dari itu, jika ada percakapan atau pembahasan yang tertinggal dari circle tersebut, dia tidak pernah cemas. Jika suatu saat grup circle di medsos hilang atau dirinya dikeluarkan, Fenny mengaku tidak mempermasalahkan hal tersebut. Dia tetap memilih menjalin komunikasi secara personal, sekadar menanyakan kabar tanpa harus bergantung pada grup.
Meski demikian, Fenny menilai keberadaan circle pertemanan di medsos cukup memberikan tantangan tersendiri. Menurutnya, setiap anggota harus saling memahami suasana hati atau mood masing-masing agar hubungan tetap terjaga. “Kadang jadi kendala karena harus saling mengerti mood satu sama lain. Saya berusaha menjaga komunikasi dengan tidak menyinggung persoalan pribadi dan mengedepankan sikap saling memahami,” pungkasnya.(*)
Editor : Satria Wira Yudha Pratama