Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Pertemanan Anak Muda Bergeser ke Digital, Gaya Hidup Picu Perilaku FOMO

M. Subchan Abdullah • Kamis, 15 Januari 2026 | 17:05 WIB

 

Pertemanan Anak Muda Bergeser ke Digital, Gaya Hidup Picu Perilaku FOMO
Pertemanan Anak Muda Bergeser ke Digital, Gaya Hidup Picu Perilaku FOMO

RADAR BLITAR-Tren pertemanan di kalangan pelajar SMA mengalami perubahan signifikan dalam 5–10 tahun terakhir. Fenomen pergeseran paling mencolok terlihat pada cara siswa membangun dan mempertahankan circle pertemanan. Fenomena ini juga memengaruhi gaya hidup yang kadang memicu munculnya perilaku memaksakan diri demi tidak tertinggal atau mengalami fear of missing out (FOMO).

Jika sebelumnya interaksi pertemanan didominasi pertemuan fisik di sekolah, kini media sosial (medsos) menjadi ruang utama berinteraksi. “Sekarang mereka tetap bisa intens berkomunikasi meski terpisah jarak karena ada WhatsApp, Instagram, hingga TikTok. Circle pertemanan juga cenderung mengelompok dan dipamerkan,” ujar Guru Bimbingan Konseling (BK) SMAN 1 Blitar, Dina Arumanti, kepada Jawa Pos Radar Blitar.

Istilah seperti inner circle dan close friend di medsos turut memengaruhi cara siswa mengklasifikasikan teman. Menurut Dina, hal ini berdampak psikologis bagi siswa yang merasa tidak termasuk. “Ada rasa tidak dianggap bagi anak yang tidak masuk inner circle tersebut,” jelasnya.

Fenomena pertemanan digital juga kerap muncul dalam ruang konseling. Beberapa siswa mengaku lebih nyaman dengan teman di medsos atau game online dibanding lingkungan sekitarnya, hingga memilih menyendiri dalam kehidupan nyata.

Selain itu, circle pertemanan tidak hanya memengaruhi hubungan sosial siswa, tetapi juga gaya hidup mereka. Misalnya, standar nongkrong, fashion, gadget, hingga aktivitas medsos sering kali ditentukan oleh kelompok pertemanan. Kondisi ini memicu munculnya perilaku memaksakan diri demi tidak tertinggal atau mengalami FOMO. “Masalahnya tidak semua siswa memiliki kemampuan ekonomi yang sama,” kata Dina.

Dina menyebut beberapa siswa rela ikut nongkrong mahal atau membeli barang tertentu agar tetap diterima dalam circle mereka. Jika tidak dikelola dengan baik, tekanan ini dapat berdampak pada kondisi mental dan keuangan keluarga.

Meski begitu, circle pertemanan juga bisa berdampak positif. Dina menegaskan, kelompok yang sehat justru mampu mendorong prestasi akademik dan perencanaan karier. “Kalau circle-nya saling memotivasi, mereka bisa tumbuh dan sukses bersama,” ujarnya. -(*)

Editor : Satria Wira Yudha Pratama
#bimbingan konseling #gaya hidup remaja #Close Friend #karakter siswa #kesehatan mental remaja