Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Mahasiswa Blitar Ini Punya Tips agar Circle Pertemanan Tumbuh Positif

M. Subchan Abdullah • Kamis, 15 Januari 2026 | 15:13 WIB
Photo
Photo

BLITAR KAWENTAR-Dunia perkuliahan nggak bisa dilepaskan dari cerita soal circle pertemanan. Mulai dari gaya hidup, kebiasaan nongkrong, sampai cara berpikir. Buat sebagian mahasiswa, circle bukan cuma soal kumpul, melainkan juga soal kenyamanan dan tumbuh bareng.

Hal itu dirasakan Anisa Rosidatuzahra, mahasiswa semester V Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Balitar (Unisba) Blitar yang saat ini menjabat sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa (HIMA) Ilmu Komunikasi periode 2025–2026. Menurutnya, pertemanan di kampus sangat dipengaruhi oleh frekuensi yang sama, bukan sekadar intensitas ketemu. “Awal masuk kuliah kan kita belum kenal siapa-siapa. Dari situ kelihatan banget, siapa yang satu frekuensi sama kita,” katanya.

Anisa memilih untuk tampil apa adanya sejak awal kuliah. Menurutnya, sikap itu justru membuat circle terbentuk secara natural tanpa harus memaksakan diri. “Aku dari awal ya nunjukin diri aku aja. Nanti yang cocok bakal deket sendiri. Yang nggak cocok ya pelan-pelan renggang, tapi wajar,” ujarnya.

Anisa menilai perbedaan kebiasaan sederhana seperti posisi duduk di kelas pun bisa memengaruhi dinamika pertemanan. “Aku tipikal duduk di depan. Temanku ada yang lebih nyaman di tengah. Awalnya bareng, lama-lama pisah sendiri. Nggak ada drama, cuma beda kebiasaan,” katanya.

Soal gaya hidup, Anisa mengakui circle punya pengaruh besar. Namun, menurutnya, pengaruh itu bisa positif jika berada di lingkungan yang tepat. “Circle itu ngaruh banget ke gaya hidup. Kalau lingkungannya santai dan suportif, kita juga lebih enjoy ngejalanin-nya,” tuturnya.

Di lingkaran pertemanannya, Anisa menggambarkan suasana yang penuh sharing dan minim gengsi. “Body care bagus? Share. Tas lucu? Share. Baju enak? Sharing juga. Kembaran nggak masalah,” ujarnya sambil tersenyum.

-Baca Juga: Persib Bandung di Atas Angin Jelang El Clasico: Federico Barba Laris di Italia, GBLA Siap Jadi Neraka bagi Persija

Dia menilai circle yang terlalu kompetitif justru berpotensi mendorong gaya hidup yang melelahkan. “Kalau ada yang nggak mau disamain, biasanya malah kejar yang limited edition biar kelihatan paling beda. Itu capek sih menurutku,” katanya lugas.

Meski begitu, Anisa menegaskan, perbedaan karakter bukan alasan untuk memutus pertemanan. “Kita tetap bisa temenan sama siapa pun. Tapi tahu batasan aja. Kalau nggak nyambung di gaya hidup, ya nyambung-nya di diskusi, nugas, atau tukar pikiran,” jelasnya.

Sebagai ketua HIMA, Anisa melihat pertemanan di kampus sebagai proses seleksi alam yang berjalan dengan sendirinya. “Semakin ke sini makin kelihatan siapa yang cocok jalan bareng. Yang penting nyaman, nggak maksa, dan nggak kehilangan diri sendiri,” katanya.(*)

Editor : Satria Wira Yudha Pratama
#Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media #Circle Pertemanan Kampus #universitas islam balitar #unisba blitar #Budaya Sharing