Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Mengunjungi Agrowisata Belimbing Karangsari Kota Blitar di Tengah Merambahnya Objek Wisata

M. Subchan Abdullah • Selasa, 20 Januari 2026 | 14:30 WIB
Agrowisata Belimbing Karangsari di Tengah Merambahnya Objek Wisata  Cukup Rogoh Rp 10 Ribu, Makan hingga Petik Buah Sepuasnya
Agrowisata Belimbing Karangsari di Tengah Merambahnya Objek Wisata Cukup Rogoh Rp 10 Ribu, Makan hingga Petik Buah Sepuasnya

Sukorejo, Radar Blitar - Kawasan agrowisata belimbing Karangsari lahir melalui sejarah panjang yang berakar dari semangat komunitas petani lokal. Budi daya belimbing di Karangsari awalnya memanfaatkan lahan bengkok. Berkat ketelatenan para petani yang tergabung dalam kelompok tani setempat, kawasan ini pun resmi menjadi pusat pertanian belimbing pada 2007.


Hingga pada 2017, kebun belimbing tersebut dijadikan sebagai destinasi wisata edukatif. “Ya, pada 2017 resmi menjadi tempat wisata dan diberi nama Agrowisata Belimbing,” terang pengurus Agrowisata Belimbing Karangsari, Sumadi, kepada Jawa Pos Radar Blitar.


Varietas unggulan yang menjadi primadona adalah Belimbing Karangsari. Berbeda dengan belimbing pada umumnya, varietas ini memiliki ciri khas ukuran buah yang jumbo, bahkan satu buah bisa mencapai berat 500 hingga 800 gram, dengan warna kuning kemerahan yang mencolok serta rasa manis yang konsisten dengan kadar air tinggi.


Daya tarik utama destinasi ini adalah pengalaman petik buah. Di agrowisata belimbing, pengunjung tidak hanya berkeliling di bawah rindangnya ribuan pohon belimbing di lahan seluas sekitar 5 hektare, tetapi juga bisa memetik buahnya langsung dari dahan yang rendah. "Sensasinya memang bisa memetik sendiri. Merasakan langsung kesegaran buahnya di tempat sampai puas,” ungkapnya.


Pengunjung yang datang di Agrowisata Belimbing beragam. Terutama dari rombongan keluarga yang membawa anak-anak. Sebab, destinasi wisata petik buah tersebut juga sebagai sarana edukasi pertanian. “Biasanya ramai pengunjung itu ketika akhir pekan, Sabtu dan Minggu. Di hari biasa Senin sampai Jumat juga ada, tetapi tidak seramai akhir pekan,” jelasnya.

Ketika hari biasa, kelompok tani melakukan perawatan berkala tanaman belimbing. Mulai dari pemupukan hingga pembersihan rumput liar. Jika menjelang musim panen, petani makin sibuk untuk membungkus buah dengan plastik agar tidak dimakan oleh hama. Tarif tiket masuk ke Agrowisata Belimbing tergolong ramah di kantong. Cukup merogoh kocek Rp 10 ribu per orang.


Di sini, pengunjung bisa petik buah sepuasnya. Buah yang sudah dipetik, lalu ditimbang untuk mengetahui beratnya. “Satu kilogram belimbing dibanderol Rp 10 ribu. Nanti pengunjung langsung bayar ke petaninya,” jelasnya.


Di agrowisata, pohon-pohon belimbing tersebut dikelola oleh sejumlah petani. Sedikitnya ada 52 petani yang merawat. Pengurus bekerja sama dengan petani dengan sistem sewa. “Untuk biaya sewanya itu Rp 75 ribu per pohon per tahun. Setiap tahun, kami menyumbang PAD (pendapatan asli daerah) itu hampir Rp 150 juta,” bebernya.


Agrowisata belimbing buka mulai pukul 09.00 hingga 16.00 WIB. Fasilitas yang tersedia mulai area parkir, musala, toilet, serta gazebo untuk bersantai di tengah kebun.


Sumadi dan kawan-kawan terus berupaya untuk meningkatkan fasilitas maupun pelayanan kepada pengunjung. Pihaknya sadar bahwa perkembangan sektor pariwisata di Blitar Raya menunjukkan tren positif. “Kita tahu konsep agrowisata di Blitar ini sudah bermunculan. Tentu ini jadi tantangan tersendiri untuk bisa berinovasi dan bersaing,” pungkasnya. (*/c1/ady)

Editor : M. Subchan Abdullah
#Agrowisata Belimbing #wisata petik buah #Karangsari Blitar #Edukasi Pertanian #Kota Blitar