Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Kolaborasi Musik Tak Biasa: Zul Zivilia dan Putri Ajeng Rilis Lagu ‘Sabar-Sabar Ade’ dari Balik Lapas

Anggi Septian A.P. • Jumat, 23 Januari 2026 | 05:00 WIB
Zul Zivilia dan Putri Ajeng 7Icons rilis lagu Sabar-Sabar Ade dari dalam lapas, bukti kreativitas warga binaan tetap produktif dan inspiratif.
Zul Zivilia dan Putri Ajeng 7Icons rilis lagu Sabar-Sabar Ade dari dalam lapas, bukti kreativitas warga binaan tetap produktif dan inspiratif.

BOGOR – Lagu Sabar-Sabar Ade menjadi bukti bahwa kreativitas tidak terhalang tembok penjara.

Kolaborasi antara Zul Zivilia dan Putri Ajeng 7Icons kini dirilis dari balik jeruji, mempertemukan dua musisi yang sama-sama menjalani masa pembinaan di lembaga pemasyarakatan dan tetap berkarya lewat single mereka.

Dalam rangkaian pembinaan bagi warga binaan, Zul dan Putri Ajeng, mantan member girlband 7Icons, menciptakan lagu ini di lingkungan Lapas Khusus Kelas IIA Gunung Sindur, Bogor, pada Rabu, 21 Januari 2026.

Lagu dengan judul Sabar-Sabar Ade diputar untuk pertama kali di tempat tersebut di hadapan sesama warga binaan dan petugas.

Rekaman dan perilisan karya ini merupakan bagian dari program pembinaan yang memberi ruang bagi warga binaan untuk menunjukkan bakatnya dalam industri kreatif, sekaligus memberikan bekal sebelum kembali ke masyarakat. Dikutip dari laman okezone.com. 

Nuansa Lagu & Cerita di Baliknya: Cerita ‘Sabar-Sabar Ade’ dan Proses Kreatif

Lagu Sabar-Sabar Ade menggambarkan kisah sepasang kekasih yang tengah menunggu momen pernikahan, namun harus menunda harapannya karena keadaan yang tak berpihak.

Tema ini relevan dengan kondisi pribadi para pembuatnya, yang tengah berjuang menjalani masa hukuman namun tetap memupuk cinta dan harapan. 

Proses produksi karya itu tidak mudah. Kolaborasi ini melibatkan dua lapas berbeda: Zul Zivilia berada di Lapas Gunung Sindur, sementara Putri Ajeng ditahan di Lapas Kelas IIA Tangerang.

Komunikasi keduanya terbatas dan berlangsung melalui bantuan petugas lapas saat mengirimkan demo musik dan melakukan rekaman. 

Musik Sabar-Sabar Ade mengusung irama yang ceria dan beat yang mengajak pendengar untuk bergoyang.

Zul mengaku berusaha mengikuti tren musik terbaru meski berada di dalam lapas, sehingga genre dan gaya lagu tetap relevan dengan selera pasar saat ini.

“Genre musiknya sengaja dibuat agak berbeda, mengikuti perkembangan di luar,” ujar Zul dalam pernyataannya di lokasi. 

Kegiatan Produktif dan Pembinaan di Lapas: Wadah Ekspresi Warga Binaan Lewat Industri Kreatif

Direktur Teknologi dan Kerja Sama Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Maullidi Hilak, menilai kolaborasi seperti ini bukan sekadar hiburan semata.

Menurutnya, program tersebut merupakan bagian dari pembinaan yang mendorong warga binaan untuk tetap produktif melalui kreativitas, terutama di bidang seni dan ekonomi kreatif.

Kesempatan seperti ini diharapkan meminimalkan angka residivisme dan memberi bekal keterampilan saat mereka kembali ke masyarakat. 

Tak hanya Zul dan Putri Ajeng, program ini juga membuka peluang bagi warga binaan lain yang memiliki potensi seni dan musik serupa.

Contohnya, sebelumnya telah lahir grup hip hop dari warga binaan di Papua atau Antrabez Band dari Lapas Kerobokan Bali sebagai pencapaian kreatif yang mendapat dukungan penuh dari pihak lapas. 

Studio musik di Lapas Khusus Kelas IIA Gunung Sindur juga telah disediakan untuk mendukung produksi karya musik warga binaan.

Proses perekaman dilakukan dengan memanfaatkan fasilitas yang tersedia, serta tetap memperhatikan aspek keamanan dan prosedur operasional lembaga. 

Respons Musisi di Balik Tembok: Kegiatan Kreatif & Dampaknya

Zul Zivilia, yang dikenal sebagai vokalis band Zivilia, menyambut baik ruang ekspresi yang tetap diberikan meski ia tengah menjalani hukuman pidana.

Ia menyampaikan rasa terima kasih kepada pihak lapas yang mendukung proses kreatif tersebut, sehingga ia masih bisa berkarya dan mempertahankan eksistensinya di dunia musik. 

Sementara itu, Putri Ajeng mengatakan pengalaman berkarya di lapas justru sangat intensif. Aktivitasnya mencakup menyanyi, menari, dan mengikuti pembinaan lain yang menurutnya lebih padat daripada saat ia masih aktif di girlband 7Icons dulu.

 

Hal ini menunjukkan bahwa program pembinaan di lapas tidak sebatas hukuman, tetapi juga kesempatan transformasi diri menuju arah positif. 

Para petugas lapas serta pimpinan juga memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan kolaborasi ini.

Kepala Lapas Khusus Gunung Sindur memastikan seluruh tahapan rekaman dan produksi lagu berjalan sesuai prosedur keamanan dan pembinaan yang berlaku. 

Harapan di Balik Lagu: Pesan Sosial & Masa Depan Warga Binaan

Lagu Sabar-Sabar Ade bukan sekadar karya musik, tetapi juga sarat dengan pesan sosial yang mengajak pendengar untuk tetap sabar, setia, dan optimis meskipun mengalami keterbatasan.

Hal ini selaras dengan tujuan pembinaan lapas, yakni memperkuat mental dan kreativitas warga binaan untuk kembali menjadi bagian produktif dari masyarakat. 

Kolaborasi antara Zul Zivilia dan Putri Ajeng menjadi kisah inspiratif yang menegaskan bahwa kreativitas bisa tumbuh di mana pun — bahkan di balik jeruji sekalipun — bila diberi ruang dan dukungan yang tepat.(*)

Editor : Anggi Septian A.P.
#Lapas Khusus Kelas IIA Gunung Sindur #Putri Ajeng 7Icons #zul zivilia #Sabar Sabar Ade