Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Soroti Tantangan Budi Daya Ikan di Blitar, ‎Disnakkan Sebut Produksi Dipengaruhi Banyak Faktor

Akhmad Nur Khoiri • Minggu, 25 Januari 2026 | 23:07 WIB

‎‎PANEN: Salah satu pembudi daya di Kabupaten Blitar sedang memanen ikan koi.
‎‎PANEN: Salah satu pembudi daya di Kabupaten Blitar sedang memanen ikan koi.

BLITAR KAWENTAR – Capaian produksi budi daya ikan di Kabupaten Blitar dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari kondisi lingkungan perairan, kualitas benih, pakan, hingga manajemen budi daya yang diterapkan oleh pembudi daya.

Hal ini menjadi perhatian Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Blitar dalam upaya menjaga produktivitas sektor perikanan budi daya.

‎‎Kepala Disnakkan Kabupaten Blitar, Heri Widiatmoko mengatakan, faktor lingkungan perairan menjadi salah satu penentu utama keberhasilan budi daya ikan.

Menurutnya, kualitas air harus terus dijaga agar sesuai dengan kebutuhan ikan yang dibudidayakan.

‎“Kualitas air sangat menentukan, mulai dari suhu, pH, oksigen terlarut atau DO, hingga kandungan nitrat, nitrit, dan amonia. Jika parameter ini tidak terkontrol, pertumbuhan ikan bisa terganggu bahkan memicu kematian,” ujarnya.

‎‎Selain kualitas air, kontinuitas dan kebersihan sumber air juga berpengaruh besar terhadap hasil produksi. Heri menyebut perubahan cuaca dan iklim, seperti curah hujan tinggi maupun suhu ekstrem, kerap menjadi tantangan tersendiri bagi pembudi daya di lapangan. ‎

Faktor benih dan induk ikan juga tak kalah penting. Mutu benih, ukuran, umur, serta sumber benih yang berasal dari hatchery tepercaya atau bersertifikat menjadi penentu keberhasilan budi daya.

“Penggunaan benih unggul dan padat tebar yang sesuai dengan sistem budi daya akan sangat memengaruhi hasil panen,” jelasnya.

‎‎Di sisi lain, pakan masih menjadi komponen biaya terbesar dalam budi daya ikan. Kualitas pakan, kandungan nutrisi, manajemen pemberian, serta ketersediaannya harus diperhatikan secara cermat agar pertumbuhan ikan optimal dan efisiensi biaya tetap terjaga.

‎‎Heri juga menyoroti pentingnya manajemen budi daya, mulai dari sistem yang digunakan, baik ekstensif maupun semi-intensif, pengelolaan kolam, pengendalian penyakit, hingga lama masa pemeliharaan.

Pencegahan penyakit ikan dinilai lebih efektif dibandingkan pengobatan, terutama untuk menjaga stabilitas produksi.

Baca Juga: Ujian Pertama Persebaya Surabaya di Putaran Kedua Super League 2025–2026, Laga Panas di Stadion Sultan Agung Jadi Pembuktian Skuad Baru

‎‎Pemanfaatan teknologi budi daya seperti aerator, kincir air, sensor kualitas air, probiotik, hingga inovasi sistem bioflok dan resirculating aquaculture system (RAS) juga dinilai mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas budidaya ikan.

“Teknologi menjadi salah satu solusi untuk menjawab tantangan keterbatasan lahan dan kualitas lingkungan,” tambahnya.

Editor : M. Subchan Abdullah
#produksi #Kabupaten Blitar #kualitas air #Disnakkan #Budi Daya Ikan #sektor perikanan