Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Upaya Pegiat Wastra Blitar Kenalkan Batik Tutur di Kalangan Anak Muda

Fajar Ali Wardana • Selasa, 27 Januari 2026 | 13:15 WIB

Upaya Pegiat Wastra Blitar Kenalkan Batik Tutur ke Anak Muda Motif Sarat Pesan, Harimau-Kerbau Simbol Keserakahan
Upaya Pegiat Wastra Blitar Kenalkan Batik Tutur ke Anak Muda Motif Sarat Pesan, Harimau-Kerbau Simbol Keserakahan

BLITAR KAWENTAR- Minggu (18/1) pagi yang lumayan cerah di Kota Blitar, sekelompok pemuda tampak gayeng mendengar penjelasan tentang sejarah kain batik. Sembari membentangkan kain batik berwarna biru dan bermotif itu, pria muda menjelaskan detail filosofi atau makna dari motif kain batik tersebut.


Batik yang dibawa pemuda itu jenis batik tutur. Salah satu jenis batik yang terdengar masih asing di telinga sebagian masyarakat, khususnya warga Blitar. Karena itu, pegiat wastra di Blitar terus berupaya untuk mengedukasi masyarakat khususnya kaum muda tentang kekayaan wastra Indonesia.


“Bisa dibilang, batik jenis ini (batik tutur) belum banyak diketahui orang, terutama warga Blitar. Padahal, batik ini sudah lama ada dan memiliki nilai sejarah yang kuat,” kata salah satu pegiat wastra Patria Wastra, Rian Yogo Wibowo, kepada Jawa Pos Radar Blitar, Minggu (18/1/) pekan lalu.
Di setiap momen tertentu atau event daerah, dia bersama pegiat wastra lain berupaya untuk mengenalkan batik khas Blitar. Salah satunya adalah batik tutur.


Dia menjelaskan, kain batik tutur yang asli tidak lagi berada di Indonesia. Koleksi tersebut tersimpan di Museum Leiden dan tercatat berasal dari sekitar 1902. Menariknya, kain tersebut bukan sepenuhnya batik seperti yang dikenal saat ini, melainkan berbahan tekstil dengan sentuhan glitter.


“Kalau mau melihat bentuk aslinya, bisa dicari di akun atau website Museum Leiden. Di sana tercatat kain ini berasal dari tahun 1902,” terang pemuda 28 tahun ini.
Penamaan batik tutur sendiri, lanjut Rian, muncul dari masyarakat Blitar yang menemukan kembali jejak kain tersebut. Tutur berarti bercerita, sesuai dengan karakter motifnya yang sarat pesan simbolik. Motifnya beragam, ada harimau, burung, merak, dan hewan lain. Setiap motif punya pesan masing-masing.

 

Rian menuturkan, harimau dan kerbau dalam batik tutur dimaknai sebagai simbol keserakahan penjajah yang mengeruk kekayaan Nusantara. Sementara motif burung melambangkan kemuliaan dan perjuangan para pahlawan yang berupaya melepaskan diri dari kolonialisme, khususnya Belanda.


Dari sisi visual, Batik Tutur memiliki gaya penggambaran yang berbeda dengan batik Jawa Tengah klasik maupun batik Jawa Timur. Sekilas, motifnya mendekati batik Tuban atau Lokcan, namun tetap memiliki ciri khas tersendiri.“Kalau Lokcan biasanya hanya burung. Tapi batik tutur ini lebih beragam dan cara penggambarannya juga unik,” jelasnya.


Rian menambahkan, Blitar sejatinya memiliki sejarah batik yang panjang. Jejak motif batik bahkan bisa ditemukan pada relief Candi Penataran dan sejumlah situs di wilayah Kademangan. Bahkan pada relief Candi Penataran itu benar-benar ada motif yang menyerupai batik. Ini bukti bahwa Blitar punya sejarah wastra yang kuat.


Dia berharap, melalui kegiatan pengenalan budaya dan wastra, masyarakat semakin sadar akan kekayaan sejarah yang dimiliki daerahnya sendiri. “Kita punya sejarah dan budaya yang luar biasa, tapi belum banyak digali. Harapannya, kisah-kisah dan wastra lama seperti batik tutur ini bisa dibangkitkan kembali, terutama lewat anak-anak muda,” pungkasnya.(*)

Editor : Satria Wira Yudha Pratama
#candi penataran #Budaya Blitar #Batik Khas Blitar #Edukasi Wastra #sejarah batik