Pemilik UMKM Permen Rukun Selopuro Blitar, Eny Herawati, menceritakan awal mula usaha tersebut dirintis oleh sang ayah. Kala itu, kondisi ekonomi keluarga serba pas-pasan. Tidak memiliki sawah maupun modal besar, sang ayah nekat mencoba membuat permen secara otodidak tanpa pengalaman.
“Awalnya cuma coba-coba. Modalnya cuma Rp8.000. Dulu itu belum pakai timbangan kiloan, masih bijian. Tapi sekali jual langsung habis di toko,” kata Eny mengenang masa awal perjuangan keluarganya.
Dirintis dari Keliling Kampung
Pada masa-masa awal, produksi permen masih sangat sederhana. Ayah Eny berjualan dengan berkeliling kampung menggunakan sepeda ontel. Kemasan pun masih sangat sederhana, hanya plastik gula setengah kilo yang diisi sekitar 50 biji permen.
Perlahan tapi pasti, Permen Rukun mulai dikenal masyarakat sekitar. Permintaan meningkat, hingga akhirnya permen buatan rumahan itu bisa masuk ke pasar-pasar tradisional di wilayah Selopuro dan sekitarnya.
Namun perjalanan UMKM Permen Rukun Selopuro Blitar tidak selalu mulus. Sekitar tahun 2000-an, usaha ini sempat vakum akibat inflasi dan permainan harga bahan baku, terutama gula. Keterbatasan manajemen saat itu juga menjadi tantangan tersendiri.
Bangkit Setelah Vakum Bertahun-tahun
Setelah vakum sekitar lima hingga enam tahun, keluarga Eny kembali bangkit pada 2008. Dengan tekad kuat, usaha Permen Rukun kembali dijalankan meski dalam kondisi serba terbatas. Bahkan saat itu, keluarga belum memiliki sepeda motor sendiri.
“Waktu itu anak tiga masih kecil-kecil, motor saja belum punya. Baru tahun 2009 bisa kredit motor,” ujarnya.
Perlahan, Eny mulai mengurus perizinan dan memperluas pemasaran. Jika sebelumnya hanya dijual secara tunai di desa-desa, Permen Rukun mulai dititipkan di toko oleh-oleh di kota. Pola penjualan pun berkembang, dari sistem cash hingga titip jual.
Pasar Meluas hingga Luar Negeri
Kini, UMKM Permen Rukun Selopuro Blitar telah memasarkan produknya ke berbagai daerah. Mulai dari Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Malang, Batu, Sidoarjo, Surabaya, hingga Gresik. Tak hanya itu, permintaan juga datang dari luar negeri seperti Hongkong dan Taiwan.
Dalam sehari, kapasitas produksi bisa mencapai 90 lebih bal, menyesuaikan kemampuan mesin. Menjelang Lebaran, produksi bahkan meningkat drastis hingga mendekati satu setengah ton per hari.
“Kalau musim ramai, terutama sebelum Lebaran, hampir setiap hari produksi. Tapi kalau musim sepi, bisa seminggu sekali,” jelas Eny.
Pendidikan Jadi Investasi Utama
Di tengah kesibukan mengelola usaha, Eny dan suaminya tetap menjadikan pendidikan anak sebagai prioritas utama. Meski tidak mampu memberi modal materi, mereka bertekad memodali anak-anak dengan ilmu.
“Orang tua kami dulu cuma lulusan SMA. Kalau bisa anak-anak jangan sampai berhenti di SMA,” tuturnya.
Hasilnya, anak-anak Eny berhasil menempuh pendidikan tinggi, mulai dari S1 hingga S2 di Blitar dan UIN Tulungagung. Bagi Eny, kesuksesan bukan hanya soal materi, tetapi keberlanjutan usaha dan masa depan anak-anak.
Tantangan UMKM Saat Ini
Meski telah berkembang, tantangan masih dihadapi. Kenaikan harga bahan baku seperti kelapa menjadi kendala serius. Harga kelapa yang sempat menyentuh Rp15.000 hingga Rp17.000 per butir membuat pelaku UMKM kesulitan menaikkan harga jual..
“Kalau bahan lokal mahal, mau naikkan harga juga berat,” ujarnya.
Eny berharap perhatian pemerintah terhadap UMKM terus ditingkatkan, tidak hanya melalui pelatihan, tetapi juga dukungan kebijakan yang lebih konkret agar pelaku usaha kecil bisa bertahan di tengah fluktuasi harga.
Editor : Dyah Wulandari