Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Peternakan Ayam di Tengah Permukiman Blitar Tanpa Bau, Wahyu Setyabudi Buktikan Inovasi Ini Bikin Komplain Warga Nol Sejak 2019

Dyah Wulandari • Kamis, 29 Januari 2026 | 18:55 WIB

Peternakan ayam petelur di Blitar tanpa bau. Inovasi Wahyu Setyabudi sukses tekan komplain warga hingga nol sejak 2019
Peternakan ayam petelur di Blitar tanpa bau. Inovasi Wahyu Setyabudi sukses tekan komplain warga hingga nol sejak 2019

BLITAR – Isu bau kandang kerap menjadi momok bagi peternak ayam yang beroperasi di tengah kawasan permukiman. Namun hal itu tidak berlaku bagi peternakan ayam petelur di Blitar milik Wahyu Setyabudi. Sejak 2019, keluhan warga sekitar nyaris nol berkat inovasi manajemen kandang yang ia terapkan secara konsisten.

Wahyu Setyabudi, pemilik Wahyu Sanjaya Telur yang bergerak di bidang trading telur antarprovinsi sekaligus peternakan ayam petelur, mengungkapkan bahwa persoalan bau sempat menjadi tantangan serius pada 2018. Saat itu, beberapa tetangga mengeluhkan aroma menyengat dari kandang ayam.

“Komplain itu jadi alarm buat saya. Saya berpikir keras bagaimana caranya beternak ayam tapi tidak mengganggu warga,” ujar Wahyu.

Baca Juga: Persija Jakarta Pernah Sepi Suporter? Pengakuan Mengejutkan Mantan Pemain Ini Ungkap Fakta Masa Lalu Macan Kemayoran

Inovasi Kandang Jadi Solusi Utama

Langkah pertama yang dilakukan Wahyu adalah melakukan rehabilitasi kandang. Sistem minum ayam yang sebelumnya konvensional diganti menggunakan pentil air minum. Perubahan sederhana ini berdampak besar pada kondisi feses ayam.

“Dengan pentil, air tidak tercecer. Feses jadi lebih kering, otomatis bau jauh berkurang,” jelasnya.

Selain itu, Wahyu juga menerapkan fermentasi feses menggunakan katul. Metode ini membuat protein terserap lebih optimal sehingga aroma menyengat bisa ditekan. Hasilnya, sejak 2019 hingga sekarang, tingkat komplain warga sekitar hampir nol.

Baca Juga: The Jack Mania: Kisah Lahirnya Suporter Persija Jakarta, Dari Komunitas Kecil hingga Identitas Besar Ibu Kota

“Alhamdulillah, setelah saya sounding ke tetangga, responnya sangat positif. Ini membahagiakan bagi saya sebagai peternak di tengah permukiman,” ungkapnya.

Berawal dari Trading Telur

Wahyu bukan peternak ayam sejak awal. Pria asal Jepara, Jawa Tengah, ini justru memulai kariernya dari dunia trading telur. Pada 2006, ia bekerja sebagai manajer telur di Tulungagung sebelum akhirnya memberanikan diri membuka usaha sendiri.

Dengan modal utang Rp125 juta dari rekan yang percaya padanya, Wahyu memulai usaha trading telur dari nol. Ia menjalankan bisnis dengan prinsip cash dan disiplin keuangan, meski margin keuntungan terbilang tipis.

Baca Juga: Sejarah Rivalitas Persija Jakarta dan The Jakmania Terungkap: Dari Kesepian Stadion, Lahirnya Suporter Oranye, hingga Panasnya Duel Abadi Lawan Persib

“Di bisnis telur, kepercayaan itu segalanya. Kalau sudah dipercaya, usaha akan jalan,” katanya.

Prinsip Kepercayaan Jadi Kunci Bertahan

Dalam perjalanannya, Wahyu mengaku pernah terpuruk akibat utang dan kegagalan kongsi. Namun dari pengalaman pahit itu, ia belajar bahwa kepercayaan adalah aset paling berharga dalam bisnis.

Ia menolak ekspansi agresif yang berisiko merusak struktur keuangan. Menurutnya, lebih baik tumbuh perlahan namun stabil, dibanding besar tapi rapuh.

Baca Juga: Sejarah The Jakmania Lengkap Terungkap: Dideklarasikan 19 Desember 1997, Dihadiri 40 Pendiri, dan Direstui Langsung Manajemen Persija

“Kesempatan itu banyak, tapi tidak semua harus diambil. Kalau tidak mampu meng-cover risiko, lebih baik berhenti,” tegas Wahyu.

Data dan Manajemen Jadi Pembeda

Menurut Wahyu, banyak peternak rakyat gagal bertahan karena tidak memiliki data yang rapi. Mulai dari konsumsi pakan, kadar protein, hingga kualitas air sering diabaikan.

“Tanpa data, kita tidak tahu di mana kebocoran. Akhirnya ayam dirawat tapi bisnisnya minus,” ujarnya.

Baca Juga: Kisah Awal Berdirinya The Jakmania Terungkap: Dari Delapan Orang di Menteng, Spanduk Oranye, hingga Jadi Suporter Terbesar Persija

Ia menekankan bahwa manajemen peternakan tidak bisa setengah-setengah. Air minum, pakan, biosekuriti, hingga kebersihan kandang harus berjalan seimbang.

Blitar Dinilai Surga UMKM dan Peternakan

Sebagai pendatang, Wahyu menilai wilayah Blitar, Tulungagung, dan Kediri memiliki potensi luar biasa untuk usaha peternakan dan UMKM. Menurutnya, ekosistem usaha di daerah ini sangat mendukung, mulai dari sumber daya alam hingga jaringan pasar.

Baca Juga: Persija Jakarta Mengamuk di Bursa Transfer Putaran Kedua: Incar Ivar Jenner dan Shane Pattynama hingga Resmikan Striker Ganas Maroko!

“Di sini mau usaha apa saja rasanya bisa hidup. Pertanian, peternakan, perdagangan, semua punya peluang,” katanya.

Tak berhenti di ayam petelur, Wahyu kini juga merintis riset budidaya domba serta pembentukan gapoktan ternak. Ia berharap usaha ini tidak hanya menguntungkan secara bisnis, tetapi juga memberi manfaat bagi masyarakat sekitar.

Pesan untuk Generasi Muda

Wahyu mengajak generasi muda agar tidak takut terjun ke dunia usaha, asalkan mau belajar dan disiplin. Menurutnya, Indonesia masih memiliki ruang besar bagi lahirnya pengusaha baru.

Baca Juga: Update Skuad Persija Jakarta Putaran Kedua 2026: Nilai Pasar Rizky Ridho Meroket, Macan Kemayoran Bidik Jordi Amat hingga Ivar Jenner!

“Usaha itu butuh ilmu, kesabaran, dan keberanian. Jangan pernah bosan belajar,” pesannya

Editor : Dyah Wulandari
#UMKM #peternakan ayam petelur #peternakan ayam #telur ayam