BLITAR – Isu bau kandang kerap menjadi momok bagi peternak ayam yang beroperasi di tengah kawasan permukiman. Namun hal itu tidak berlaku bagi peternakan ayam petelur di Blitar milik Wahyu Setyabudi. Sejak 2019, keluhan warga sekitar nyaris nol berkat inovasi manajemen kandang yang ia terapkan secara konsisten.
Wahyu Setyabudi, pemilik Wahyu Sanjaya Telur yang bergerak di bidang trading telur antarprovinsi sekaligus peternakan ayam petelur, mengungkapkan bahwa persoalan bau sempat menjadi tantangan serius pada 2018. Saat itu, beberapa tetangga mengeluhkan aroma menyengat dari kandang ayam.
“Komplain itu jadi alarm buat saya. Saya berpikir keras bagaimana caranya beternak ayam tapi tidak mengganggu warga,” ujar Wahyu.
Inovasi Kandang Jadi Solusi Utama
Langkah pertama yang dilakukan Wahyu adalah melakukan rehabilitasi kandang. Sistem minum ayam yang sebelumnya konvensional diganti menggunakan pentil air minum. Perubahan sederhana ini berdampak besar pada kondisi feses ayam.
“Dengan pentil, air tidak tercecer. Feses jadi lebih kering, otomatis bau jauh berkurang,” jelasnya.
Selain itu, Wahyu juga menerapkan fermentasi feses menggunakan katul. Metode ini membuat protein terserap lebih optimal sehingga aroma menyengat bisa ditekan. Hasilnya, sejak 2019 hingga sekarang, tingkat komplain warga sekitar hampir nol.
“Alhamdulillah, setelah saya sounding ke tetangga, responnya sangat positif. Ini membahagiakan bagi saya sebagai peternak di tengah permukiman,” ungkapnya.
Berawal dari Trading Telur
Wahyu bukan peternak ayam sejak awal. Pria asal Jepara, Jawa Tengah, ini justru memulai kariernya dari dunia trading telur. Pada 2006, ia bekerja sebagai manajer telur di Tulungagung sebelum akhirnya memberanikan diri membuka usaha sendiri.
Dengan modal utang Rp125 juta dari rekan yang percaya padanya, Wahyu memulai usaha trading telur dari nol. Ia menjalankan bisnis dengan prinsip cash dan disiplin keuangan, meski margin keuntungan terbilang tipis.
“Di bisnis telur, kepercayaan itu segalanya. Kalau sudah dipercaya, usaha akan jalan,” katanya.
Prinsip Kepercayaan Jadi Kunci Bertahan
Dalam perjalanannya, Wahyu mengaku pernah terpuruk akibat utang dan kegagalan kongsi. Namun dari pengalaman pahit itu, ia belajar bahwa kepercayaan adalah aset paling berharga dalam bisnis.
Ia menolak ekspansi agresif yang berisiko merusak struktur keuangan. Menurutnya, lebih baik tumbuh perlahan namun stabil, dibanding besar tapi rapuh.
“Kesempatan itu banyak, tapi tidak semua harus diambil. Kalau tidak mampu meng-cover risiko, lebih baik berhenti,” tegas Wahyu.
Data dan Manajemen Jadi Pembeda
Menurut Wahyu, banyak peternak rakyat gagal bertahan karena tidak memiliki data yang rapi. Mulai dari konsumsi pakan, kadar protein, hingga kualitas air sering diabaikan.
“Tanpa data, kita tidak tahu di mana kebocoran. Akhirnya ayam dirawat tapi bisnisnya minus,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa manajemen peternakan tidak bisa setengah-setengah. Air minum, pakan, biosekuriti, hingga kebersihan kandang harus berjalan seimbang.
Blitar Dinilai Surga UMKM dan Peternakan
Sebagai pendatang, Wahyu menilai wilayah Blitar, Tulungagung, dan Kediri memiliki potensi luar biasa untuk usaha peternakan dan UMKM. Menurutnya, ekosistem usaha di daerah ini sangat mendukung, mulai dari sumber daya alam hingga jaringan pasar.
“Di sini mau usaha apa saja rasanya bisa hidup. Pertanian, peternakan, perdagangan, semua punya peluang,” katanya.
Tak berhenti di ayam petelur, Wahyu kini juga merintis riset budidaya domba serta pembentukan gapoktan ternak. Ia berharap usaha ini tidak hanya menguntungkan secara bisnis, tetapi juga memberi manfaat bagi masyarakat sekitar.
Pesan untuk Generasi Muda
Wahyu mengajak generasi muda agar tidak takut terjun ke dunia usaha, asalkan mau belajar dan disiplin. Menurutnya, Indonesia masih memiliki ruang besar bagi lahirnya pengusaha baru.
“Usaha itu butuh ilmu, kesabaran, dan keberanian. Jangan pernah bosan belajar,” pesannya
Editor : Dyah Wulandari