BLITAR – Kampung Bubur Blitar kini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata edukasi berbasis UMKM. Namun, siapa sangka perjalanan tempat ini berawal dari gerobak bubur bayi yang kerap diusir karena berjualan di zona terlarang.
Adalah Muhammad Nur Amin, warga Desa Jimbe, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar, yang menjadi sosok di balik lahirnya Kampung Bubur Blitar. Usahanya dimulai pada 2012, terinspirasi dari sinetron populer tentang tukang bubur yang sukses hingga naik haji. Dari situlah, Nur Amin memberanikan diri membuka usaha bubur bayi, meski harus menghadapi penolakan sejak hari pertama.
Ia memilih lokasi strategis di kawasan ramai Tulungagung, tepat di bawah rambu larangan berjualan. Alasannya sederhana: arus orang yang luar biasa padat. Dalam hitungannya, lebih dari 1.500 orang melintas setiap menit pada jam pagi. Meski hampir setiap hari ditegur polisi dan Satpol PP, ia tetap berjualan sejak pukul 05.00 hingga 07.00 WIB.
“Kalau takut diangkut, ya tutup sebelum petugas datang,” kenangnya.
Pindah Lokasi, Pelanggan Tetap Setia
Setelah sekitar 10 hari, Nur Amin akhirnya memutuskan pindah ke depan stasiun. Ia hanya meninggalkan spanduk sederhana sebagai penanda lokasi baru. Tak disangka, pelanggan lama tetap mencari dan mengikuti. Bahkan, lokasi baru justru mendatangkan pasar yang lebih luas.
Dari sinilah penjualan meningkat tajam. Dalam waktu singkat, ia kewalahan melayani pembeli dan mulai merekrut bantuan. Kampung Bubur Blitar pun perlahan berkembang dari satu gerobak menjadi puluhan titik penjualan di Blitar, Tulungagung, Kediri, hingga Trenggalek.
Awalnya, penjualan hari pertama hanya menghasilkan Rp12.000. Hari demi hari meningkat. Dua minggu kemudian, omzet melonjak hingga ratusan ribu rupiah per hari. Strateginya sederhana namun tak lazim: banyak memberi tester gratis agar orang mengenal produk.
Dari Bubur Bayi ke Puluhan Gerai
Dalam kurun beberapa bulan, Nur Amin berhasil membuka hampir 30 gerai bubur bayi dengan melibatkan anak-anak muda, mayoritas mahasiswa. Sistemnya berbasis kepercayaan. Ia tidak mencatat jumlah cup terjual, tidak mengunci kas, dan membiarkan penjual mengambil gaji sendiri sesuai kesepakatan.
“Kalau tidak ikhlas, malah nambah dosa,” ujarnya.
Hasilnya mencengangkan. Dalam 5–6 bulan, tabungan usahanya menembus Rp100 juta. Uang itu bukan untuk membeli rumah atau kendaraan, melainkan untuk mendaftar haji bersama istri. Beberapa bulan berikutnya, ia kembali mengumpulkan Rp100 juta untuk mendaftarkan dua anaknya.
Kampung Bubur Blitar Jadi Wisata Edukasi
Seiring waktu, aset usaha berkembang pesat. Lahan demi lahan dibeli dari hasil bubur. Awalnya hanya untuk rumah produksi, namun kemudian berkembang menjadi kolam renang, area outbound, hingga wisata edukasi yang kini dikenal sebagai Kampung Bubur Blitar.
Resmi dikembangkan sejak 2018, kawasan ini berdiri di atas lahan lebih dari satu hektare. Nilai asetnya ditaksir mencapai miliaran rupiah. Tak hanya wisata, Kampung Bubur juga menjadi pusat pelatihan kewirausahaan.
Anak muda bisa mengikuti program edukasi 5 hingga 10 hari, lengkap dengan mess, praktik usaha, hingga pendampingan langsung. Bahkan, Nur Amin berani memberi garansi: jika belum bisa usaha, pelatihan bisa diulang gratis.
Filosofi Mental Kaya
Bagi Nur Amin, kunci sukses bukan modal uang, melainkan mental. Ia menyebutnya “mental kaya” yang harus diinstal sejak awal, layaknya software dalam perangkat keras manusia.
“Ciri mental kaya itu murah hati, suka menolong, dan berani bayar kesuksesan dengan tenaga dan pikiran,” tegasnya.
Ia berharap Kampung Bubur Blitar menjadi pemantik lahirnya ribuan pengusaha baru di Kabupaten Blitar. Menurutnya, potensi lahan, sumber daya, dan pasar sudah tersedia. Tinggal keberanian untuk memulai.
Editor : Dyah Wulandari