BLITAR – Kisah sukses ternak sapi Blitar ini berawal dari langkah sederhana yang nyaris tak terpikirkan oleh banyak orang. Seorang peternak asal Kabupaten Blitar membuktikan bahwa keterbatasan modal bukan penghalang untuk membangun usaha besar, asalkan dibarengi ketekunan, kesabaran, dan nilai spiritual yang kuat.
Pria yang sejak remaja akrab dengan dunia ternak ini mengisahkan, usaha pertamanya dimulai saat masih duduk di bangku SMP. Modal awalnya hanya sekitar Rp5 juta hasil pinjaman bank. Setiap bulan, ia mengangsur cicilan dengan cara bersepeda sejauh belasan kilometer. “Waktu itu belum punya motor, masih sepeda ontel. Tapi saya senang, karena saya suka sapi,” kenangnya.
Dari situlah perjalanan sukses ternak sapi Blitar dimulai. Ia memelihara sapi secara bergantian, digemukkan selama beberapa bulan, lalu dijual kembali. Keuntungan per ekor memang tidak besar, bahkan hanya sekitar 3–5 persen. Namun, ia menekankan, konsistensi jauh lebih penting dibanding mengejar untung instan.
Kunci Sukses: Tekun, Sabar, dan Tidak Malu
Menurutnya, banyak peternak gagal bukan karena sapi, melainkan karena manusianya sendiri. Kurang sabar, tidak telaten, dan mudah menyerah menjadi penyebab utama. Ia sendiri tak pernah malu menawarkan sapi, mendatangi calon pembeli, bahkan keluar-masuk pasar sejak dini hari.
“Kalau malu, usaha ini tidak jalan. Saya muter cari sapi jam satu pagi, ketemu orang saya tawari. Ditolak ya datang lagi,” ujarnya.
Perlahan, jumlah sapi bertambah. Dari hanya dua ekor, berkembang menjadi puluhan, hingga kini mencapai ratusan ekor sapi potong dan sapi perah. Kesuksesan ternak sapi Blitar yang ia raih bukan datang tiba-tiba, melainkan hasil proses panjang selama puluhan tahun.
Manajemen Pakan Jadi Penentu
Ia menjelaskan, keberhasilan beternak sapi ditentukan oleh tiga hal utama: pemilihan bibit, manajemen pakan, dan kesehatan ternak. Dari ketiganya, pemilihan bibit menyumbang hingga 60–70 persen keberhasilan.
“Sapi harus dilihat rangkanya, kaki kokoh, punggung lebar, bulu halus, dan pertumbuhan cepat. Kalau bibit salah, pakan bagus pun tidak maksimal,” jelasnya.
Dalam hal pakan, ia meracik sendiri konsentrat dari berbagai bahan seperti bungkil kedelai, bungkil sawit, katul, kulit kopi, dan sumber serat lainnya. Prinsipnya sederhana: seimbang antara karbohidrat, protein, dan serat.
Untuk sapi potong, ia menegaskan masa penggemukan ideal hanya sekitar empat bulan. Lebih dari itu, biaya pakan justru tidak sebanding dengan kenaikan bobot.
Bertahan Saat PMK, Tidak Panik
Saat wabah PMK melanda, banyak peternak memilih menjual sapi dengan harga murah. Namun ia justru bertahan. “Saya optimis. PMK itu kuncinya sabar dan telaten,” ujarnya.
Ia mengaku tidak panik menyuntik sapi. Perawatan sederhana seperti pemberian air, garam, pakan lunak, serta menjaga kebersihan kandang terbukti membuat sapi pulih dalam hitungan hari.
Nilai Spiritual di Balik Kesuksesan
Yang membedakan kisah sukses ternak sapi Blitar ini adalah keyakinannya pada faktor spiritual. Ia percaya rezeki datang dari empat doa: doa orang tua, doa istri yang salehah, doa anak yang saleh, dan doa teman dekat.
“Doa orang tua itu nomor satu. Jangan pelit sama orang tua, karena rezeki kita itu lewat mereka,” tegasnya.
Ia juga menanamkan nilai sedekah, infak, dan berbagi sebagai bagian dari usaha. Baginya, kebahagiaan tertinggi bukanlah pergi ke mal atau wisata, melainkan saat bisa memberi manfaat bagi orang lain.
Kini, selain beternak, ia juga membuka diri sebagai mentor bagi peternak muda. Ia tak ragu berbagi ilmu, bahkan membuka peluang kerja sama. “Rezeki tidak akan tertukar,” katanya.
Kisah ini menjadi bukti bahwa sukses ternak sapi Blitar bukan hanya soal modal besar, tetapi soal niat, ketekunan, dan keberanian untuk terus belajar
Editor : Dyah Wulandari