Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Dua Kali Pabriknya Terbakar karena Eksperimen, Pengusaha Rak Telur asal Blitar Ini Bangkit dan Serap Puluhan Tenaga Kerja

Dyah Wulandari • Kamis, 29 Januari 2026 | 19:10 WIB

Dua kali pabrik rak telur di Blitar terbakar karena eksperimen oven, Banjir Prastyawan bangkit dan kini pasok hingga Bali
Dua kali pabrik rak telur di Blitar terbakar karena eksperimen oven, Banjir Prastyawan bangkit dan kini pasok hingga Bali

BLITAR – Jalan wirausaha memang jarang lurus. Hal itu dirasakan betul oleh Banjir Prastyawan (38), pengusaha wadah rak telur asal Desa Ponggok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Dua kali pabriknya mengalami kebakaran akibat eksperimen oven produksi. Namun, alih-alih menyerah, ia justru menjadikannya pelajaran berharga untuk membangun usaha yang lebih kuat dan berstandar.

Banjir menekuni usaha produksi egg tray atau rak telur sejak bertahun-tahun lalu. Awalnya, ia bukanlah produsen, melainkan sopir pengangkut telur antar daerah. Dari Blitar, ia mengirim telur hingga ke Bandung. Namun, setiap perjalanan pulang tidak pernah ia biarkan kosong.

“Pulangnya bawa bekatul,” tuturnya.

Baca Juga: Persija Jakarta Pernah Sepi Suporter? Pengakuan Mengejutkan Mantan Pemain Ini Ungkap Fakta Masa Lalu Macan Kemayoran

Dari situ, ia mulai memahami rantai usaha peternakan dan kemasan telur. Lambat laun, permintaan rak telur di Blitar meningkat. Ia pun menjalin kerja sama dengan pabrik lain, sebelum akhirnya memberanikan diri mendirikan pabrik sendiri.

Modal Utama: Kejujuran dan Relasi

Banjir menyebut, modal awal berwirausaha bukanlah uang, melainkan kejujuran, tekad, dan relasi. Dengan jaringan yang luas, ia bisa bekerja sama dengan pemasok bahan baku menggunakan sistem bayar mundur.

“Enggak melulu harus cash di depan. Yang penting kepercayaan,” ujarnya.

Baca Juga: The Jack Mania: Kisah Lahirnya Suporter Persija Jakarta, Dari Komunitas Kecil hingga Identitas Besar Ibu Kota

Bahan baku utama rak telur berupa kertas, kardus bekas, dan limbah pabrik yang sudah tidak terpakai. Semua diolah melalui proses pencacahan, pencampuran air di tandon, pencetakan, lalu pengeringan.

Hingga kini, proses pengeringan masih banyak mengandalkan sinar matahari. Cuaca menjadi faktor krusial yang sangat memengaruhi kualitas produksi. Jika panas, rak telur bisa kering dalam satu hari. Namun saat hujan, proses bisa terhambat dan kualitas menurun.

Pasar Bali dan Jawa Tengah Paling Menyerap

Meski berbasis di Blitar, pasar terbesar rak telur produksinya justru berasal dari Bali dan Jawa Tengah. Untuk luar pulau, spesifikasi rak telur harus lebih kuat dan bisa digunakan hingga 2–3 kali. Sementara untuk pasar lokal, umumnya hanya sekali pakai.

Baca Juga: Kisah Awal Berdirinya The Jakmania Terungkap: Dari Delapan Orang di Menteng, Spanduk Oranye, hingga Jadi Suporter Terbesar Persija

“Spek luar pulau beda, harganya juga beda,” jelasnya.

Perbedaan kualitas ditentukan oleh bahan baku, pengerjaan, komposisi campuran, dan kondisi cuaca saat pengeringan. Ia mengaku, mencari komposisi yang pas membutuhkan waktu berminggu-minggu dan penuh kesabaran.

Dua Kali Kebakaran Akibat Eksperimen Oven

Keinginannya untuk lepas dari ketergantungan cuaca membuat Banjir nekat melakukan eksperimen oven pengering sendiri. Namun, upaya itu tidak selalu mulus. Dua kali pabriknya mengalami kebakaran.

Baca Juga: Prediksi Line Up Persija Jakarta 2026: Skuad Mewah Bertabur Bintang Timnas dan Legiun Asing Baru, Siap Juara BRI Super League!

“Kalau enggak eksperimen, kita kalah sama pabrik lain,” katanya lugas.

Membeli oven dari luar dinilai terlalu mahal. Dana yang ada lebih baik dialihkan untuk pembelian lahan. Dari kejadian kebakaran itu, ia melakukan evaluasi besar-besaran, terutama soal standar keamanan karyawan.

Kini, oven baru tengah dipersiapkan dengan sistem pengamanan lebih baik, termasuk tandon air dan mekanisme darurat jika terjadi asap atau panas berlebih.

Baca Juga: Persija Jakarta Mengamuk di Bursa Transfer Putaran Kedua: Incar Ragnar Oratmangoen dan Ivar Jenner hingga Resmikan Striker Maroko!

Komitmen Kontinuitas Produksi

Bagi Banjir, yang paling penting dalam usaha adalah komitmen pengiriman. Dalam kondisi apa pun, ia berusaha tetap menyuplai rak telur ke pelanggan.

“Kalau kita berhenti produksi, kepercayaan langsung hilang,” tegasnya.

Rak telur yang rusak atau cacat produksi biasanya dipilah. Yang masih layak digunakan kembali dimanfaatkan, sementara sisanya dijual ke peternak jangkrik sebagai alas kandang.

Baca Juga: Update Skuad Persija Jakarta Putaran Kedua 2026: Nilai Pasar Rizky Ridho Meroket, Macan Kemayoran Bidik Jordi Amat hingga Ivar Jenner!

Saat ini, pabriknya menyerap sekitar 50 tenaga kerja, terdiri dari 24 laki-laki dan 26 perempuan. Sekitar 40 persen berasal dari lingkungan sekitar, sisanya dari luar desa.

Pantang Menyerah dan Menunggu Panggilan Haji

Ia mengakui pernah berada di titik terpuruk, terutama saat suplai bahan baku terhenti akibat sistem kepercayaan yang tidak berjalan. Namun, prinsipnya satu: pantang menyerah.

“Kalau putus asa, ya sudah. Tapi saya enggak mau berhenti,” ujarnya.

Baca Juga: Gelombang Pemain Keturunan ke Super League Makin Panas, Sain Patinama Resmi ke Persija Jakarta, Ragnar Oratmangoen dan Sandy Walsh Menyusul?

Di balik kesibukan usaha, Banjir menyimpan harapan spiritual. Ia bersyukur merasa sudah diberi rezeki yang cukup dan kini tinggal menunggu panggilan untuk menunaikan ibadah haji bersama keluarga.

Kisah Banjir Prastyawan menjadi potret nyata bahwa usaha bukan soal mulus atau tidak, melainkan soal keberanian bangkit setiap kali jatuh

Editor : Dyah Wulandari
#rak telur #umkm blitar #pengusaha sukses #kisah inspiratif #Egg Tray