BLITAR – Jalan wirausaha memang jarang lurus. Hal itu dirasakan betul oleh Banjir Prastyawan (38), pengusaha wadah rak telur asal Desa Ponggok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Dua kali pabriknya mengalami kebakaran akibat eksperimen oven produksi. Namun, alih-alih menyerah, ia justru menjadikannya pelajaran berharga untuk membangun usaha yang lebih kuat dan berstandar.
Banjir menekuni usaha produksi egg tray atau rak telur sejak bertahun-tahun lalu. Awalnya, ia bukanlah produsen, melainkan sopir pengangkut telur antar daerah. Dari Blitar, ia mengirim telur hingga ke Bandung. Namun, setiap perjalanan pulang tidak pernah ia biarkan kosong.
“Pulangnya bawa bekatul,” tuturnya.
Dari situ, ia mulai memahami rantai usaha peternakan dan kemasan telur. Lambat laun, permintaan rak telur di Blitar meningkat. Ia pun menjalin kerja sama dengan pabrik lain, sebelum akhirnya memberanikan diri mendirikan pabrik sendiri.
Modal Utama: Kejujuran dan Relasi
Banjir menyebut, modal awal berwirausaha bukanlah uang, melainkan kejujuran, tekad, dan relasi. Dengan jaringan yang luas, ia bisa bekerja sama dengan pemasok bahan baku menggunakan sistem bayar mundur.
“Enggak melulu harus cash di depan. Yang penting kepercayaan,” ujarnya.
Bahan baku utama rak telur berupa kertas, kardus bekas, dan limbah pabrik yang sudah tidak terpakai. Semua diolah melalui proses pencacahan, pencampuran air di tandon, pencetakan, lalu pengeringan.
Hingga kini, proses pengeringan masih banyak mengandalkan sinar matahari. Cuaca menjadi faktor krusial yang sangat memengaruhi kualitas produksi. Jika panas, rak telur bisa kering dalam satu hari. Namun saat hujan, proses bisa terhambat dan kualitas menurun.
Pasar Bali dan Jawa Tengah Paling Menyerap
Meski berbasis di Blitar, pasar terbesar rak telur produksinya justru berasal dari Bali dan Jawa Tengah. Untuk luar pulau, spesifikasi rak telur harus lebih kuat dan bisa digunakan hingga 2–3 kali. Sementara untuk pasar lokal, umumnya hanya sekali pakai.
“Spek luar pulau beda, harganya juga beda,” jelasnya.
Perbedaan kualitas ditentukan oleh bahan baku, pengerjaan, komposisi campuran, dan kondisi cuaca saat pengeringan. Ia mengaku, mencari komposisi yang pas membutuhkan waktu berminggu-minggu dan penuh kesabaran.
Dua Kali Kebakaran Akibat Eksperimen Oven
Keinginannya untuk lepas dari ketergantungan cuaca membuat Banjir nekat melakukan eksperimen oven pengering sendiri. Namun, upaya itu tidak selalu mulus. Dua kali pabriknya mengalami kebakaran.
“Kalau enggak eksperimen, kita kalah sama pabrik lain,” katanya lugas.
Membeli oven dari luar dinilai terlalu mahal. Dana yang ada lebih baik dialihkan untuk pembelian lahan. Dari kejadian kebakaran itu, ia melakukan evaluasi besar-besaran, terutama soal standar keamanan karyawan.
Kini, oven baru tengah dipersiapkan dengan sistem pengamanan lebih baik, termasuk tandon air dan mekanisme darurat jika terjadi asap atau panas berlebih.
Komitmen Kontinuitas Produksi
Bagi Banjir, yang paling penting dalam usaha adalah komitmen pengiriman. Dalam kondisi apa pun, ia berusaha tetap menyuplai rak telur ke pelanggan.
“Kalau kita berhenti produksi, kepercayaan langsung hilang,” tegasnya.
Rak telur yang rusak atau cacat produksi biasanya dipilah. Yang masih layak digunakan kembali dimanfaatkan, sementara sisanya dijual ke peternak jangkrik sebagai alas kandang.
Saat ini, pabriknya menyerap sekitar 50 tenaga kerja, terdiri dari 24 laki-laki dan 26 perempuan. Sekitar 40 persen berasal dari lingkungan sekitar, sisanya dari luar desa.
Pantang Menyerah dan Menunggu Panggilan Haji
Ia mengakui pernah berada di titik terpuruk, terutama saat suplai bahan baku terhenti akibat sistem kepercayaan yang tidak berjalan. Namun, prinsipnya satu: pantang menyerah.
“Kalau putus asa, ya sudah. Tapi saya enggak mau berhenti,” ujarnya.
Di balik kesibukan usaha, Banjir menyimpan harapan spiritual. Ia bersyukur merasa sudah diberi rezeki yang cukup dan kini tinggal menunggu panggilan untuk menunaikan ibadah haji bersama keluarga.
Kisah Banjir Prastyawan menjadi potret nyata bahwa usaha bukan soal mulus atau tidak, melainkan soal keberanian bangkit setiap kali jatuh
Editor : Dyah Wulandari