Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Dari Sopir Telur ke Distributor Pakan Ternak Blitar, Kisah Hengki Mei Saputra Bangkit dari Nol hingga Omzet Rp30 Juta per Bulan

Dyah Wulandari • Kamis, 29 Januari 2026 | 19:15 WIB

Kisah inspiratif distributor pakan ternak Blitar Hengki Mei Saputra, bangkit dari nol hingga sukses raih omzet Rp30 juta per bulan
Kisah inspiratif distributor pakan ternak Blitar Hengki Mei Saputra, bangkit dari nol hingga sukses raih omzet Rp30 juta per bulan

BLITAR – Perjalanan hidup distributor pakan ternak Blitar Hengki Mei Saputra bukan cerita instan. Pria berusia 27 tahun asal Desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar itu pernah berada di fase terendah hidupnya: menganggur, dagangan tak laku, hingga pulang dengan air mata karena tak punya uang untuk kebutuhan sehari-hari.

Kini, Hengki Mei Saputra dikenal sebagai distributor pakan ternak Blitar yang melayani puluhan kandang dan bakul ternak di wilayah Blitar Selatan. Usaha yang ia rintis sejak 2021 itu mampu menghasilkan omzet rata-rata Rp30 juta per bulan.

Awal Mula: Sopir Telur dan Tekad Mengubah Nasib

Sebelum terjun ke dunia usaha, Hengki bekerja sebagai sopir telur yang rutin mengirim barang ke Jakarta. Pekerjaan itu dijalani karena tak ada pilihan lain setelah lulus sekolah.

Baca Juga: Persija Jakarta Pernah Sepi Suporter? Pengakuan Mengejutkan Mantan Pemain Ini Ungkap Fakta Masa Lalu Macan Kemayoran

Namun, kejenuhan mulai muncul. Apalagi setelah anak pertamanya lahir. Hengki masih berada di perjalanan saat sang istri melahirkan.

“Anak pertama lahir saya masih di jalan. Istri sendirian, trauma. Dari situ saya mikir, masa hidup saya terus di jalan,” ujarnya.

Keputusan berat pun diambil. Hengki berhenti menjadi sopir dan pulang ke rumah tanpa pekerjaan tetap. Ia sempat menganggur cukup lama sebelum mencoba berjualan ayam keliling kampung.

Baca Juga: The Jack Mania: Kisah Lahirnya Suporter Persija Jakarta, Dari Komunitas Kecil hingga Identitas Besar Ibu Kota

Hasilnya jauh dari kata sukses. Bahkan, ia pernah mengalami hari tanpa satu pun ayam terjual.

“Pernah sehari enggak laku sama sekali. Pulang itu rasanya pengin nangis. Buat makan aja enggak ada,” kenangnya.

Modal Rp10 Juta dan Penghasilan Rp16 Ribu

Titik balik terjadi pada pertengahan 2021. Hengki dan istrinya memberanikan diri membuka usaha pakan ternak kecil-kecilan. Awalnya hanya menjual katul dan jagung dari toko sederhana.

Baca Juga: Persija Jakarta Mengamuk di Bursa Transfer Putaran Kedua: Incar Ivar Jenner dan Shane Pattynama hingga Resmikan Striker Ganas Maroko!

Hari pertama buka, penghasilan Hengki hanya Rp16 ribu per hari. Saat mulai agak ramai pun, pendapatan tertinggi baru menyentuh Rp80 ribu.

Tak ingin hanya menunggu pembeli, Hengki turun langsung ke lapangan. Ia mendatangi kandang satu per satu sambil membawa sampel katul. Penolakan jadi hal biasa.

“Saya enggak kenal dunia ternak sama sekali. Banyak yang nolak karena sudah punya langganan,” katanya

Baca Juga: Gelombang Pemain Keturunan ke Super League Makin Panas, Sain Patinama Resmi ke Persija Jakarta, Ragnar Oratmangoen dan Sandy Walsh Menyusul?.

Modal awal Hengki hanya Rp10 juta. Ia membeli katul secara bertahap, kadang hanya satu ton atau setengah ton, lalu langsung dikirim ke kandang. Pickup pun masih sewa atau pinjam milik orang tua.

“Pernah bannya meletus, hampir masuk jurang. Mobil rusak ya saya benerin sendiri,” ujarnya.

Kualitas Barang dan Kejujuran Jadi Kunci

Perlahan, usaha distributor pakan ternak Blitar milik Hengki mulai menunjukkan hasil. Kualitas katul yang baik dan harga yang masuk membuat pelanggan mulai percaya.

Baca Juga: Resmi! Persip Bandung Gila di Bursa Transfer Liga 1 Januari 2026, Datangkan Eks PSG Living Kurzawa dan Bek Muda Naturalisasi Dion Mars

“Kalau minta A ya saya kasih A. Enggak pernah saya campur-campur,” tegasnya.

Kepercayaan itu berkembang dari mulut ke mulut. Pesanan berdatangan lewat telepon dan WhatsApp. Kini, Hengki memiliki sekitar 50 pelanggan aktif di wilayah Blitar Selatan.

Setiap hari, pengiriman katul minimal 3 ton dan bisa mencapai 7 ton. Sementara jagung mencapai 5 ton per hari, baik jagung utuh maupun jagung giling yang diproses sendiri di rumah.

Baca Juga: Transfer Persib Bandung Jadi Sorotan Dunia: Media Italia Viralkan Isu Kurzawa, Pemain Jebolan Piala Dunia Masuk Radar Maung Bandung

Omzet Rp30 Juta dan Kekuatan Sedekah

Saat ini, omzet distributor pakan ternak Blitar yang dirintis Hengki mencapai rata-rata Rp30 juta per bulan. Angka tersebut ia capai setelah empat tahun berjuang, dengan masa “enak” baru dirasakan sekitar satu tahun terakhir.

Hengki juga meyakini peran besar sedekah dalam perkembangan usahanya.

“Setahun terakhir saya rajin sedekah. Saya rasakan sendiri, usaha jadi makin lancar,” ungkapnya.

Baca Juga: Sejarah Persib Bandung: Dari Klub Perlawanan Zaman Kolonial hingga Juara Liga 1 Back to Back 2024–2025, Warisan Sepak Bola Nasional

Kesuksesan ini juga ia dedikasikan untuk mendiang ibunya, yang semasa hidup selalu berpesan agar Hengki berdagang dan tidak selamanya menjadi buruh orang.

Pesan untuk Anak Muda

Hengki berpesan agar generasi muda tidak takut memulai usaha, meski dari nol.

“Sekarang peluang banyak. Bisa jualan lewat HP, lewat media sosial. Yang penting mau usaha dan jujur,” katanya.

Baca Juga: Prediksi Line Up Persija Jakarta 2026: Skuad Mewah Bertabur Bintang Timnas dan Legiun Asing Baru, Siap Juara BRI Super League!

Dari sopir telur, penjual ayam keliling, hingga menjadi distributor pakan ternak Blitar dengan omzet puluhan juta, kisah Hengki Mei Saputra menjadi bukti bahwa kerja keras, kejujuran, dan ketekunan masih relevan di tengah perubahan zaman

Editor : Dyah Wulandari
#pakan ternak #umkm blitar #kisah sukses pengusaha muda