BLITAR – Perjalanan hidup distributor pakan ternak Blitar Hengki Mei Saputra bukan cerita instan. Pria berusia 27 tahun asal Desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar itu pernah berada di fase terendah hidupnya: menganggur, dagangan tak laku, hingga pulang dengan air mata karena tak punya uang untuk kebutuhan sehari-hari.
Kini, Hengki Mei Saputra dikenal sebagai distributor pakan ternak Blitar yang melayani puluhan kandang dan bakul ternak di wilayah Blitar Selatan. Usaha yang ia rintis sejak 2021 itu mampu menghasilkan omzet rata-rata Rp30 juta per bulan.
Awal Mula: Sopir Telur dan Tekad Mengubah Nasib
Sebelum terjun ke dunia usaha, Hengki bekerja sebagai sopir telur yang rutin mengirim barang ke Jakarta. Pekerjaan itu dijalani karena tak ada pilihan lain setelah lulus sekolah.
Namun, kejenuhan mulai muncul. Apalagi setelah anak pertamanya lahir. Hengki masih berada di perjalanan saat sang istri melahirkan.
“Anak pertama lahir saya masih di jalan. Istri sendirian, trauma. Dari situ saya mikir, masa hidup saya terus di jalan,” ujarnya.
Keputusan berat pun diambil. Hengki berhenti menjadi sopir dan pulang ke rumah tanpa pekerjaan tetap. Ia sempat menganggur cukup lama sebelum mencoba berjualan ayam keliling kampung.
Hasilnya jauh dari kata sukses. Bahkan, ia pernah mengalami hari tanpa satu pun ayam terjual.
“Pernah sehari enggak laku sama sekali. Pulang itu rasanya pengin nangis. Buat makan aja enggak ada,” kenangnya.
Modal Rp10 Juta dan Penghasilan Rp16 Ribu
Titik balik terjadi pada pertengahan 2021. Hengki dan istrinya memberanikan diri membuka usaha pakan ternak kecil-kecilan. Awalnya hanya menjual katul dan jagung dari toko sederhana.
Hari pertama buka, penghasilan Hengki hanya Rp16 ribu per hari. Saat mulai agak ramai pun, pendapatan tertinggi baru menyentuh Rp80 ribu.
Tak ingin hanya menunggu pembeli, Hengki turun langsung ke lapangan. Ia mendatangi kandang satu per satu sambil membawa sampel katul. Penolakan jadi hal biasa.
“Saya enggak kenal dunia ternak sama sekali. Banyak yang nolak karena sudah punya langganan,” katanya
Modal awal Hengki hanya Rp10 juta. Ia membeli katul secara bertahap, kadang hanya satu ton atau setengah ton, lalu langsung dikirim ke kandang. Pickup pun masih sewa atau pinjam milik orang tua.
“Pernah bannya meletus, hampir masuk jurang. Mobil rusak ya saya benerin sendiri,” ujarnya.
Kualitas Barang dan Kejujuran Jadi Kunci
Perlahan, usaha distributor pakan ternak Blitar milik Hengki mulai menunjukkan hasil. Kualitas katul yang baik dan harga yang masuk membuat pelanggan mulai percaya.
“Kalau minta A ya saya kasih A. Enggak pernah saya campur-campur,” tegasnya.
Kepercayaan itu berkembang dari mulut ke mulut. Pesanan berdatangan lewat telepon dan WhatsApp. Kini, Hengki memiliki sekitar 50 pelanggan aktif di wilayah Blitar Selatan.
Setiap hari, pengiriman katul minimal 3 ton dan bisa mencapai 7 ton. Sementara jagung mencapai 5 ton per hari, baik jagung utuh maupun jagung giling yang diproses sendiri di rumah.
Omzet Rp30 Juta dan Kekuatan Sedekah
Saat ini, omzet distributor pakan ternak Blitar yang dirintis Hengki mencapai rata-rata Rp30 juta per bulan. Angka tersebut ia capai setelah empat tahun berjuang, dengan masa “enak” baru dirasakan sekitar satu tahun terakhir.
Hengki juga meyakini peran besar sedekah dalam perkembangan usahanya.
“Setahun terakhir saya rajin sedekah. Saya rasakan sendiri, usaha jadi makin lancar,” ungkapnya.
Kesuksesan ini juga ia dedikasikan untuk mendiang ibunya, yang semasa hidup selalu berpesan agar Hengki berdagang dan tidak selamanya menjadi buruh orang.
Pesan untuk Anak Muda
Hengki berpesan agar generasi muda tidak takut memulai usaha, meski dari nol.
“Sekarang peluang banyak. Bisa jualan lewat HP, lewat media sosial. Yang penting mau usaha dan jujur,” katanya.
Dari sopir telur, penjual ayam keliling, hingga menjadi distributor pakan ternak Blitar dengan omzet puluhan juta, kisah Hengki Mei Saputra menjadi bukti bahwa kerja keras, kejujuran, dan ketekunan masih relevan di tengah perubahan zaman
Editor : Dyah Wulandari