BLITAR – Keputusan Gresi Arman Rivaldo untuk menjadi pengusaha di usia muda bukan tanpa risiko. Bahkan, ia mengaku gaji karyawan di usahanya kerap lebih besar dibanding gaji yang ia terima sendiri. Namun, prinsip itu justru menjadi fondasi kuat berdirinya Tibal Garden Blitar, salah satu destinasi kafe keluarga yang kini ramai dikunjungi.
Grasi—sapaan akrabnya—adalah salah satu founder Tibal Grup Indonesia, yang membawahi Tibal Coffee, Tibal Coffee Roastery, Tibal Garden, dan Depot Juara. Lulusan Sarjana Administrasi Bisnis ini sejak awal sudah menegaskan pilihannya: tidak ingin bekerja kantoran.
“Waktu wisuda, ijazah saya langsung saya kasih ke mama. Saya bilang, ini tolong disimpan karena saya enggak akan pakai untuk daftar kerja ke mana pun,” ujarnya.
Keputusan itu mendapat dukungan penuh dari orang tuanya. Dukungan moral tersebut menjadi bahan bakar utama Grasi untuk menapaki jalan sebagai pengusaha muda di Kota Blitar.
Awal Mula Tibal Group dan Filosofi Titik Balik
Cikal bakal Tibal Garden Blitar bermula dari sebuah kedai kopi kecil bernama Titik Balik yang didirikan pada 2020. Modal awalnya hanya Rp100 juta, patungan dua orang founder, masing-masing Rp50 juta.
Nama Titik Balik dipilih sebagai simbol perubahan hidup. Dari mahasiswa yang bingung menentukan arah masa depan, menjadi pelaku usaha yang nekat membuka kedai kopi di tengah awal pandemi Covid-19.
“Awal buka itu pas Covid masuk Indonesia. Lockdown. Sempat kepikiran mau lanjut atau enggak, tapi akhirnya jalan,” kenangnya.
Selama enam bulan pertama, usaha berjalan cukup stabil. Namun, seiring menjamurnya coffee shop besar di Blitar, kedai kecil itu mulai tergerus. Bahkan, Grasi mengakui ada fase di mana gaji karyawan lebih besar dibanding penghasilannya sendiri.
Turning Point Lahirnya Tibal Garden Blitar
Titik balik sesungguhnya datang ketika seorang owner senior memberikan dorongan keras agar Tibal Grup tidak berhenti di zona nyaman.
“Kita pengusaha, kalau berhenti di sini ya enggak akan besar,” kata Grasi menirukan pesan seniornya.
Dari situlah muncul ide membangun Tibal Garden Blitar. Lokasinya berada di kawasan pinggir kota, dengan jalan kecil dan jauh dari hiruk pikuk pusat kota. Lahan tersebut sebelumnya merupakan bekas sawah yang sudah tidak produktif.
Ketertarikan Grasi muncul karena view yang tidak biasa: hamparan sawah, sunset, dan kereta api yang melintas. Konsep pun diarahkan ke gaya perkebunan Amerika, berbeda dari kafe klasik Eropa yang sudah umum di Blitar.
“Kita pengin beda. Konsepnya outdoor, family-friendly, bukan cuma nongkrong kopi,” jelasnya.
Fokus Pelayanan dan SDM
Sebagai lulusan administrasi bisnis dengan fokus SDM, Grasi menaruh perhatian besar pada karyawan. Ia menegaskan, hak karyawan adalah prioritas utama.
“Apapun kondisinya, karyawan harus digaji sesuai kerjanya. Saya anti nunggak gaji,” tegasnya.
Setiap cabang Tibal memiliki kepala toko dan supervisor masing-masing. Untuk Tibal Garden Blitar, fokus manajemennya lebih luas karena menyasar pasar keluarga. Mulai dari area bermain anak, kandang kelinci, kura-kura, hingga wahana kecil seperti Bukit Teletubbies.
Saat musim hujan menyebabkan penurunan pengunjung, manajemen tidak tinggal diam. Jam operasional dipangkas untuk menekan biaya, lalu dilakukan investasi tambahan berupa wahana anak demi menarik segmen keluarga.
“Di situ ketemu pasarnya. Ternyata pasar kita memang keluarga,” katanya.
Bertahan dengan Value, Bukan Privilege
Grasi tak menampik bahwa dirinya memiliki privilege keluarga. Namun, ia menegaskan privilege hanya digunakan di awal untuk memperkenalkan brand, bukan untuk bertahan.
“Kalau produk dan pelayanan enggak punya value, tiga bulan juga habis,” ujarnya.
Ia bahkan memiliki SOP khusus untuk menangani komplain. Mulai dari permintaan maaf hingga memberikan kompensasi langsung, bahkan dengan mendatangi rumah pelanggan jika diperlukan.
Pesan untuk Anak Muda
Lewat Tibal Garden Blitar, Grasi ingin membuktikan bahwa pengusaha bukan hanya soal untung pribadi.
“Motivasi utama saya itu buka lapangan pekerjaan,” ucapnya.
Ia berpesan kepada generasi muda agar tidak takut menjadi pengusaha, namun harus dibarengi attitude yang baik.
“Tanpa attitude, siapa pun enggak akan jadi apa-apa. Jadi pengusaha itu kadang enak, kadang enggak enak banget,” tutupnya.
Editor : Dyah Wulandari