BLITAR KAWENTAR - Konsep pernikahan dengan tamu terbatas terasa lebih ringkas dan efisien. Intimate wedding dipandang sebagai pilihan yang lebih praktis, cepat selesai, dan nggak ribet.
Menurut Maya Salsabila, 23, dengan konsep intimate wedding, bukan berarti resepsi pernikahan kehilangan suasananya. Baginya, acara resepsi justru punya nilai emosional tersendiri. Di sanalah momen bertemu kembali dengan teman lama dan menyapa banyak orang. “Kalau resepsi, serunya bisa ketemu teman lama dan banyak orang,” ujarnya.
Meski begitu, Maya juga menyadari dari sisi resepsi, acaranya berlangsung lama, energi yang terkuras, hingga biaya yang membengkak kerap jadi konsekuensi. “Capek sih, soalnya tamunya banyak. Pengeluaran juga pasti lebih besar,” ucapnya.
Dia menilai, pada akhirnya bagi generasi muda seperti Maya, pilihan konsep pernikahan bukan soal benar atau salah. Intimate wedding dan resepsi sama-sama punya cerita. Tinggal menyesuaikan dengan kebutuhan, kemampuan, dan kenyamanan masing-masing pasangan. "Yang penting realistis sama keuangan. Intimate oke, resepsi yo tambah oke ,” katanya.
Sementara itu, sosiolog sekaligus Dosen Sosiologi Unisba Blitar, Dimas Putra Wijaya menjelaskan, pilihan intimate wedding bukan tanpa alasan. Anak muda saat ini memiliki kesadaran finansial yang jauh lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya. Pilihan ini sangat rasional. Dengan menyusutnya jumlah undangan di bawah 100 orang, pasangan muda bisa tetap mendapatkan kesan “mewah” dan premium, tetapi dengan bujet yang terkontrol. “Hal ini membuktikan anak muda Blitar mulai meninggalkan budaya ‘pesta berutang’ demi menjaga stabilitas ekonomi rumah tangga yang baru dibangun,” jelasnya.(*)