BLITAR – Bisnis entok jumbo Blitar kian menunjukkan potensi besar, bukan hanya sebagai ternak konsumsi, tetapi juga pasar penghobi bernilai tinggi. Hal itu dibuktikan oleh Sada Maulana (27), owner Skalafarm di Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar, yang mampu menjual entok jumbo hingga Rp12 juta per ekor.
Skalafarm yang berlokasi di RT 4 RW 4 Ringin Anom, Kademangan, kini dikenal sebagai salah satu sentra entok jumbo Blitar dengan populasi ratusan indukan. Namun, kesuksesan tersebut lahir dari fase terberat saat pandemi Covid-19 menghantam usaha optik warisan keluarganya.
Dari Krisis Covid ke Peluang Ternak Entok Jumbo
Sada mengisahkan, saat pandemi melanda, dua cabang usaha optiknya terpaksa tutup. Untuk bertahan hidup dan membayar operasional, ia mulai menjual entok lokal satu hingga dua ekor per hari. Awalnya tanpa perhitungan matang, hingga akhirnya ia menyadari ternak entok justru memberi margin keuntungan.
“Entok lokal saja untung, apalagi kalau entok jumbo,” ujarnya.
Keputusan besar pun diambil. Sada menjual motor kesayangannya untuk membeli satu jantan dan tiga betina entok jumbo. Ia kemudian fokus memperbesar populasi selama 2020–2021 tanpa menjual hasil ternak sama sekali.
Langkah itu menjadi fondasi utama bisnis entok jumbo Blitar yang kini ia jalankan secara profesional.
Dua Pasar Sekaligus: Konsumsi dan Penghobi
Sada menerapkan strategi unik dengan membidik dua segmen pasar. Pertama, pasar konsumsi untuk pedaging melalui pengepul. Kedua, pasar penghobi dan kontes yang memberikan margin berkali lipat.
“Yang posturnya biasa masuk konsumsi, yang spek bagus saya sortir untuk market kontes,” jelasnya.
Entok jumbo spek kontes memiliki panjang tubuh hingga satu meter, dengan bobot besar dan proporsi tubuh simetris. Sementara entok pedaging umumnya berukuran 80–90 sentimeter dan dipanen pada usia 2,5–3 bulan.
Strategi ini membuat Skalafarm tetap stabil, meski pasar penghobi cenderung fluktuatif.
Manajemen Kandang dan Sistem Plasma
Saat ini, total indukan di Skalafarm mencapai 700–800 ekor yang tersebar di beberapa kandang. Menariknya, Sada tidak membeli lahan sendiri. Ia memilih sistem kerja sama dengan pemilik lahan atau plasma.
“Saya sediakan ternak dan pakan, pemilik lahan sediakan kandang. Nanti bagi hasil saat panen,” paparnya.
Model ini dinilai efektif menekan modal awal sekaligus membuka peluang ekonomi bagi warga sekitar. Minimal populasi pembesaran disarankan 100 ekor agar perawatan dan keuntungan optimal.
Pakan Berkualitas, Bau Kandang Bisa Hilang
Dalam bisnis entok jumbo Blitar, pakan menjadi faktor krusial. Sada menegaskan, kualitas pakan justru menurunkan konsumsi dan bau kandang.
Ia menggunakan pakan racik sendiri (self mix) dengan protein 16–17 persen dan energi metabolis 3.000–3.100 EM. Biaya pakan pun bisa ditekan hingga Rp6.000 per kilogram, jauh di bawah pakan pabrikan.
Untuk mengurangi bau amonia, ia menambahkan sitrun (asam sitrat) ke dalam pakan.
“Kalau protein tercerna sempurna, kandang enggak bau sama sekali,” katanya.
Harga Stabil dan Permintaan Tinggi
Berbeda dengan bebek ras yang harganya fluktuatif, harga entok jumbo cenderung stabil. Bahkan, pengepul sanggup menyerap hingga 500 ekor per hari.
Selain dagingnya rendah kolesterol dan tidak alot, bulu entok dewasa juga dibutuhkan untuk industri kok bulu tangkis.
Anakan entok jumbo di Skalafarm dijual Rp13 ribu hingga Rp18 ribu per ekor, jauh di bawah harga pasaran luar daerah yang bisa mencapai Rp30 ribu. Pengiriman bahkan menjangkau luar pulau seperti Medan dan Palembang via kargo pesawat.
Omzet Ratusan Juta per Periode
Dengan 20 kandang aktif, perputaran omzet per minggu dari satu kandang bisa mencapai Rp40–60 juta. Total perputaran uang pun tembus ratusan juta rupiah.
“Yang penting itu cash flow, bukan mahalnya indukan,” tegas Sada.
Kini, bisnis entok jumbo Blitar yang ia rintis bukan hanya menjadi sumber penghidupan, tetapi juga sarana bangkit dari krisis dan berbagi peluang dengan peternak lain.
Editor : Dyah Wulandari