BLITAR – Usaha ternak jangkrik Blitar terbukti mampu menjadi ladang cuan yang menjanjikan. Hal itu dirasakan langsung oleh Purwanto, warga Kelurahan Togokan, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar, yang sukses meraup keuntungan hingga jutaan rupiah per hari dari beternak jangkrik di belakang rumahnya.
Bermodal lahan sempit dan ketekunan, Purwanto mampu mengubah serangga kecil bernama jangkrik menjadi sumber pendapatan utama keluarga. Saat ini, omset harian dari usaha ternak jangkrik Blitar yang ia kelola mencapai Rp8 juta hingga Rp10 juta per hari.
Berawal dari Sopir Pengantar Jangkrik
Sebelum sukses seperti sekarang, Purwanto bukanlah peternak. Ia mengawali kariernya sebagai sopir sekaligus pengepul yang mengantar jangkrik antar kota. Dari pekerjaan itulah, ia mulai memahami alur bisnis, mulai dari bibit, perawatan, hingga jalur pemasaran.
“Dulu ikut orang sebagai sopir. Dari situ saya kepikiran buat ternak sendiri di rumah, tapi modalnya belum ada,” ungkap Purwanto.
Dengan modal terbatas, ia hanya mampu memulai dari tiga kotak ternak jangkrik. Namun, hasil panen yang stabil membuatnya perlahan menambah jumlah kotak hingga kini mencapai lebih dari 100 kotak aktif.
Panen Setiap Hari Tanpa Libur
Salah satu keunggulan usaha ternak jangkrik Blitar yang dijalankan Purwanto adalah siklus panennya yang cepat dan konsisten. Dalam satu periode pemeliharaan sekitar 35 hingga 40 hari, jangkrik sudah bisa dipanen setiap hari.
“Rata-rata satu bulan lebih dikit sudah bisa panen. Maksimal 40 hari,” jelasnya.
Dalam satu hari, Purwanto mampu menjual sekitar lima kotak jangkrik. Setiap kotak bernilai sekitar Rp3 juta, tergantung kualitas dan permintaan pasar. Harga jual jangkrik saat ini berkisar Rp50 ribu per kilogram.
Dengan pola panen harian tersebut, arus kas usaha berjalan stabil tanpa harus menunggu waktu lama seperti ternak konvensional lainnya.
Baca Juga: Sejarah Bobotoh Persib Bandung: Dari Istilah Sunda hingga Jadi Suporter Paling Fanatik di Indonesia
Kunci Sukses: Jalur Bibit dan Pasar Aman
Purwanto menegaskan, keberhasilan usaha ternak jangkrik Blitar tidak lepas dari penguasaan dua hal penting, yakni jalur bibit dan jalur penjualan.
“Harus punya jalur bibit yang aman dan jalur penjualannya jelas. Kalau berdiri sendiri tanpa pasar, nanti panen bingung mau dibawa ke mana,” katanya.
Pengalaman sebagai pengepul membuatnya sudah memiliki jaringan pembeli tetap, sehingga hasil panen selalu terserap pasar. Mayoritas jangkrik dijual untuk pakan burung kicau dan ikan hias yang permintaannya relatif stabil sepanjang tahun.
Dari Lahan Sempit Jadi Mesin Uang
Menariknya, seluruh aktivitas ternak jangkrik ini dilakukan di lahan belakang rumah. Tanpa perlu lahan luas, Purwanto memaksimalkan ruang yang ada dengan menata kotak-kotak ternak secara rapi dan efisien.
Biaya operasional relatif rendah, sementara tingkat risiko kematian bisa ditekan dengan perawatan rutin dan kebersihan kandang. Hal ini membuat usaha ternak jangkrik cocok dijalankan sebagai bisnis rumahan.
Keuntungan yang diraih pun tidak main-main. Dalam sehari, omset bisa mencapai Rp8 juta hingga Rp10 juta, tergantung volume panen dan harga pasar.
Dampak Ekonomi bagi Lingkungan Sekitar
Kesuksesan Purwanto turut memberi dampak positif bagi lingkungan sekitar. Selain meningkatkan perekonomian keluarga, usaha ternak jangkrik Blitar ini juga membuka peluang kerja dan menjadi inspirasi bagi warga lain.
Tak sedikit warga yang mulai tertarik menekuni usaha serupa setelah melihat hasil nyata yang diperoleh Purwanto. Ia pun tak segan berbagi pengalaman kepada pemula yang ingin mencoba beternak jangkrik.
Peluang Usaha yang Masih Terbuka Lebar
Permintaan jangkrik yang terus ada membuat usaha ini dinilai masih sangat potensial untuk dikembangkan. Selama kualitas terjaga dan jalur distribusi aman, ternak jangkrik bisa menjadi alternatif usaha menjanjikan di sektor peternakan skala kecil.
Kisah Purwanto membuktikan, peluang besar bisa datang dari hal sederhana. Dari serangga kecil, lahir usaha besar yang menopang perekonomian keluarga dan daerah.
Editor : Dyah Wulandari