Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Bangkit dari Rugi dan Mental Drop, Ismail Putra Sukses Besarkan Sego Sambel Mbok Dela hingga Buka Tiga Cabang

Dyah Wulandari • Kamis, 29 Januari 2026 | 19:35 WIB

Bangkit dari rugi dan mental drop, Sego Sambel Mbok Dela sukses berkembang jadi tiga cabang berkat riset pasar dan strategi branding.
Bangkit dari rugi dan mental drop, Sego Sambel Mbok Dela sukses berkembang jadi tiga cabang berkat riset pasar dan strategi branding.

BLITAR – Perjalanan membangun usaha kuliner tidak selalu tentang untung besar dan antrean panjang. Ada fase jatuh, rugi, bahkan mental yang nyaris tumbang. Hal itu dialami langsung oleh Ismail Putrawiana (24), owner Sego Sambel Mbok Dela, usaha kuliner sederhana asal Blitar yang kini telah memiliki tiga cabang di Tulungagung, Blitar, dan Kediri.

Ismail mengakui, tantangan terberat dalam berbisnis justru bukan modal uang, melainkan mental.

“Kalau penjualan turun drastis itu mentalnya kena, Mas. Beneran,” ujarnya.
Namun, ia selalu mendapat dorongan semangat dari pasangannya, Narita Adela Ganti, yang menemaninya sejak merintis usaha dari nol.

Baca Juga: Dua Kali Pabriknya Terbakar karena Eksperimen, Pengusaha Rak Telur asal Blitar Ini Bangkit dan Serap Puluhan Tenaga Kerja

Berawal dari Sambal PO hingga Banting Setir ke Warung

Sebelum membuka warung, Ismail sempat mencoba bisnis sambal kemasan dengan sistem pre-order (PO) saat pandemi Covid-19. Sayangnya, minimnya pemahaman digital marketing membuat usaha tersebut stagnan.

“Awalnya bisa 30 sampai 50 pack, lama-lama tinggal 5 atau 2 pack. Dari situ saya sadar ini enggak prospek,” katanya.

Baca Juga: Sukses Ternak Sapi Blitar, Berawal dari Sepeda Ontel hingga Miliki Ratusan Ekor Berkat Doa Orang Tua dan Ketekunan

Ia kemudian banting setir ke bisnis kuliner warung sederhana. Ide tersebut muncul dari kebiasaannya berkeliling mencicipi kuliner di Malang, Gresik, hingga Solo. Dari pengamatannya, kuliner tradisional seperti sambal, bakso, dan sayur rumahan justru paling bertahan lama.

“Saya lihat yang sustain itu biasanya warung sederhana, bukan yang terlalu mewah,” ujarnya.

Konsep Sederhana, Tapi Penuh Perhitungan

Nama Mbok Dela dipilih sebagai plesetan dari nama sang pendamping, Mbak Dila, agar terdengar sederhana dan tradisional. Konsep ini sengaja dipertahankan untuk menyesuaikan karakter pasar Tulungagung yang cenderung sensitif harga.

Baca Juga: UMKM Permen Rukun Selopuro Blitar Bertahan dari Modal Rp8.000 hingga Tembus Pasar Hongkong, Ini Kisah Perjuangan Eny Herawati

Ismail mengaku, riset pasar menjadi fondasi utama sebelum membuka usaha. Ia mempelajari UMR daerah, perilaku konsumen, hingga kecenderungan FOMO (fear of missing out) masyarakat.

“Bukan target market, tapi target behavior market yang saya kejar,” jelasnya.

Momentum pembukaan warung pun dipilih saat bulan puasa, ketika kerumunan mudah terbentuk. Strategi digital marketing dilakukan lewat promosi food vlogger lokal dan optimalisasi media sosial seperti TikTok, Instagram, dan Facebook.

Baca Juga: Kampung Bubur Blitar Berawal dari Gerobak Dilarang Jualan, Kini Jadi Wisata dan Mengantar Pemiliknya Naik Haji

Rugi di Awal, Tapi Jadi Pelajaran Mahal

Meski ramai, Sego Sambel Mbok Dela sempat merugi di awal pembukaan. Semua menu dijual Rp9.000 dengan porsi besar tanpa membedakan biaya bahan baku.

“Hampir 2–3 bulan rugi Rp200 sampai Rp300 ribu per hari,” ungkap Ismail.

Namun, kerugian itu justru menjadi media promosi alami karena warung dikenal murah dan ramai. Setelah dievaluasi, manajemen harga diperbaiki, kualitas ditingkatkan, dan kemasan sambal dibuat lebih menarik menggunakan cup.

Baca Juga: Sejarah Persib Bandung: Lahir Sebelum Indonesia Merdeka, Maung Bandung Bertahan di Puncak hingga Era Modern

“Harga naik tapi enggak kelihatan mahal,” katanya.

Strategi lain dilakukan untuk menyiasati fluktuasi harga cabai, mulai dari belanja besar saat harga murah hingga pengaturan stok agar cash flow tetap stabil.

Jual Pengalaman, Bukan Sekadar Makanan

Ismail menegaskan, Mbok Dela tidak hanya menjual nasi sambal, tetapi juga pengalaman. Warung dibuat sederhana, bahkan menggunakan trotoar sebagai area duduk.

Baca Juga: Sejarah Bobotoh Persib Bandung: Dari Istilah Sunda hingga Jadi Suporter Paling Fanatik di Indonesia

“Pernah makan kehujanan. Tapi itu malah jadi cerita,” ujarnya.

Menurutnya, pengalaman tersebut akan tertanam di ingatan konsumen. Saat hujan, mereka akan teringat Mbok Dela. Inilah konsep menjual historis dan atmosfer yang ia terapkan.

Ekspansi Bertahap dan Manajemen Ketat

Kini, Mbok Dela memiliki tiga cabang. Setiap cabang dikelola keluarga, tetapi manajemennya tetap dipegang Ismail dan Narita. Mereka hanya mengambil gaji Rp1 juta per bulan demi menjaga kas usaha.

Baca Juga: Sejarah Nahdlatul Ulama Lengkap: Dari Komite Hijaz, Perlawanan Wahabi, hingga Jadi Penjaga Tradisi Islam Nusantara

“Kalau uang warung dipakai buat hidup, enggak bakal berkembang,” tegasnya.

Total karyawan mencapai 22 orang, mayoritas tenaga dapur berpengalaman lebih dari 20 tahun. Ismail mengaku sengaja membangun hubungan kerja yang cair agar tidak ada jarak usia.

Siapkan Bisnis Backup

Meski terlihat stabil, Ismail tidak ingin bergantung pada satu usaha. Sambal kemasan kembali dikembangkan sebagai produk turunan untuk memperluas pasar.

“Satu bisnis itu berisiko. Harus ada backup,” pungkasnya.

Baca Juga: Heboh Kabar Rapel Gaji Pensiunan 2026 Cair 30 Januari, Benarkah? Ini Penjelasan Resmi Taspen dan Fakta Sebenarnya

Kisah Ismail membuktikan, bisnis bukan soal instan. Ada riset, kegagalan, mental jatuh, dan keberanian bangkit. Dari warung sederhana di trotoar, lahir brand kuliner yang kini terus tumbuh.

Editor : Dyah Wulandari
#usaha kuliner blitar #sego sambel #UMKM kuliner #kisah pengusaha sukses