BLITAR – Perjalanan membangun usaha kuliner tidak selalu tentang untung besar dan antrean panjang. Ada fase jatuh, rugi, bahkan mental yang nyaris tumbang. Hal itu dialami langsung oleh Ismail Putrawiana (24), owner Sego Sambel Mbok Dela, usaha kuliner sederhana asal Blitar yang kini telah memiliki tiga cabang di Tulungagung, Blitar, dan Kediri.
Ismail mengakui, tantangan terberat dalam berbisnis justru bukan modal uang, melainkan mental.
“Kalau penjualan turun drastis itu mentalnya kena, Mas. Beneran,” ujarnya.
Namun, ia selalu mendapat dorongan semangat dari pasangannya, Narita Adela Ganti, yang menemaninya sejak merintis usaha dari nol.
Berawal dari Sambal PO hingga Banting Setir ke Warung
Sebelum membuka warung, Ismail sempat mencoba bisnis sambal kemasan dengan sistem pre-order (PO) saat pandemi Covid-19. Sayangnya, minimnya pemahaman digital marketing membuat usaha tersebut stagnan.
“Awalnya bisa 30 sampai 50 pack, lama-lama tinggal 5 atau 2 pack. Dari situ saya sadar ini enggak prospek,” katanya.
Ia kemudian banting setir ke bisnis kuliner warung sederhana. Ide tersebut muncul dari kebiasaannya berkeliling mencicipi kuliner di Malang, Gresik, hingga Solo. Dari pengamatannya, kuliner tradisional seperti sambal, bakso, dan sayur rumahan justru paling bertahan lama.
“Saya lihat yang sustain itu biasanya warung sederhana, bukan yang terlalu mewah,” ujarnya.
Konsep Sederhana, Tapi Penuh Perhitungan
Nama Mbok Dela dipilih sebagai plesetan dari nama sang pendamping, Mbak Dila, agar terdengar sederhana dan tradisional. Konsep ini sengaja dipertahankan untuk menyesuaikan karakter pasar Tulungagung yang cenderung sensitif harga.
Ismail mengaku, riset pasar menjadi fondasi utama sebelum membuka usaha. Ia mempelajari UMR daerah, perilaku konsumen, hingga kecenderungan FOMO (fear of missing out) masyarakat.
“Bukan target market, tapi target behavior market yang saya kejar,” jelasnya.
Momentum pembukaan warung pun dipilih saat bulan puasa, ketika kerumunan mudah terbentuk. Strategi digital marketing dilakukan lewat promosi food vlogger lokal dan optimalisasi media sosial seperti TikTok, Instagram, dan Facebook.
Rugi di Awal, Tapi Jadi Pelajaran Mahal
Meski ramai, Sego Sambel Mbok Dela sempat merugi di awal pembukaan. Semua menu dijual Rp9.000 dengan porsi besar tanpa membedakan biaya bahan baku.
“Hampir 2–3 bulan rugi Rp200 sampai Rp300 ribu per hari,” ungkap Ismail.
Namun, kerugian itu justru menjadi media promosi alami karena warung dikenal murah dan ramai. Setelah dievaluasi, manajemen harga diperbaiki, kualitas ditingkatkan, dan kemasan sambal dibuat lebih menarik menggunakan cup.
“Harga naik tapi enggak kelihatan mahal,” katanya.
Strategi lain dilakukan untuk menyiasati fluktuasi harga cabai, mulai dari belanja besar saat harga murah hingga pengaturan stok agar cash flow tetap stabil.
Jual Pengalaman, Bukan Sekadar Makanan
Ismail menegaskan, Mbok Dela tidak hanya menjual nasi sambal, tetapi juga pengalaman. Warung dibuat sederhana, bahkan menggunakan trotoar sebagai area duduk.
Baca Juga: Sejarah Bobotoh Persib Bandung: Dari Istilah Sunda hingga Jadi Suporter Paling Fanatik di Indonesia
“Pernah makan kehujanan. Tapi itu malah jadi cerita,” ujarnya.
Menurutnya, pengalaman tersebut akan tertanam di ingatan konsumen. Saat hujan, mereka akan teringat Mbok Dela. Inilah konsep menjual historis dan atmosfer yang ia terapkan.
Ekspansi Bertahap dan Manajemen Ketat
Kini, Mbok Dela memiliki tiga cabang. Setiap cabang dikelola keluarga, tetapi manajemennya tetap dipegang Ismail dan Narita. Mereka hanya mengambil gaji Rp1 juta per bulan demi menjaga kas usaha.
“Kalau uang warung dipakai buat hidup, enggak bakal berkembang,” tegasnya.
Total karyawan mencapai 22 orang, mayoritas tenaga dapur berpengalaman lebih dari 20 tahun. Ismail mengaku sengaja membangun hubungan kerja yang cair agar tidak ada jarak usia.
Siapkan Bisnis Backup
Meski terlihat stabil, Ismail tidak ingin bergantung pada satu usaha. Sambal kemasan kembali dikembangkan sebagai produk turunan untuk memperluas pasar.
“Satu bisnis itu berisiko. Harus ada backup,” pungkasnya.
Kisah Ismail membuktikan, bisnis bukan soal instan. Ada riset, kegagalan, mental jatuh, dan keberanian bangkit. Dari warung sederhana di trotoar, lahir brand kuliner yang kini terus tumbuh.
Editor : Dyah Wulandari